Posts

Ramadan Seperti Mesin Waktu

Image
Ramadan dan kenangan-kenangan yang memburam... Ramadan selalu menghadirkan rindu. Kerinduan yang tak selalu bisa dibicarakan—entah sebab kenangan akan ramadan terasa terlalu personal atau memang rasa rindu terkadang begitu abstrak.  Tahun ini adalah ramadan ke-30 dalam hidupku. Pertama kali dalam hidupku pula, puasa tidak bersamaan dengan mama. Meski sudah bukan pertama kali kami tidak sahur bersama karena beda tempat, tetap saja rasanya berbeda. Ah, rupanya pelajaran pertama yang kuterima di ramadan ini adalah tentang menerima perbedaan dari orang yang tak disangka akan memiliki pilihan ataupun keyakinan yang tidak lagi sama (soal penentuan puasa). Sejujurnya aku tidak tahu apa yang ingin kutulis selain rindu-rindu yang begitu panjang akan masa lalu. Aku yang begitu mahir menyimpan kenangan, begitu senang memutar ulang kilas balik hidup hingga meneteskan air mata tanpa sadar. Begitu melankolis—hal hal yang bernama masa lalu itu, khususnya masa kecilku. Aku rindu. Ramadan ketika it...

Life update?

Image
Pukul 9:18 am. Posisi lagi rebahan karena si putih lagi-lagi kumat. Kibornya kesurupan, ngetik sendiri—tapi karena dia memang sudah sepuh dan sangat berjasa, dimaafkan. Aku pindah menulis di hp. Sekian intro tidak penting tulisanku. Life update?  Tiga pekan pertama tahun yang dar der dor. Terasa cepat sekaligus lambat jika diukur dari penantianku agar Januari segera selesai dan aku bisa lepas dari sesuatu. Banyak sekali keluhan tapi syukur masih setengah mati kuupayakan. Astagfirullah. Walau tahun ini diberi banyak luka fisik, setidaknya aku belajar satu hal; jangan remehkan luka, seringan atau sekecil apa pun. Yap, aku struggling sepekan karena luka di kaki yang awalnya hanya lecet habis kena genangan air hujan di jalan, gatal, digaruk sampe puas, lanjut main ke pantai dan tiba-tiba saja jadi merah dan lebih menyakitkan. Tidak apa-apa, jadi pengalaman baru untukku; ke apotek membeli obat-obatan basic, untuk membersihkan sekaligus merawat luka dengan benar. Meski punya bestie dokte...

29 dan perkara-perkara yang lalu

Image
Aku menyebutnya ritual tahunan sebab satu kali dalam setahun, aku ingin betul-betul menikmati setiap detik dalam 24 jam sehari yang akan mengingatkanku banyak hal. Hari kelahiran. Hari yang sebenarnya biasa saja namun selalu menghadirkan semacam emosi khusus yang membuatku merasa wajib menyempatkan diri untuk duduk tenang dan mulai merenungkan hidup sebelum mencoba menulis sesuatu, semacam kontemplasi ataupun sekadar menceritakan kembali masa lalu yang selalu mendatangkan rindu. Waktu memang melesat cepat, aku tiba di umur dua puluhan akhir. Sudah begitu banyak yang terjadi dan bank ingatan kian sesak dengan memori dan segala macam perasaan yang menyertainya. Orang-orang datang dan pergi. Satu fase berganti dengan fase lain. Beberapa hal selesai sementara hal lain baru dimulai. Dan di antara seluruh waktu yang berlalu dengan ragam peristiwa,  ternyata aku terus saja merindukan masa lalu. Waktunya bernostalgia.                     ...

Untuk Mima'

Image
Kuawali tulisan ini dengan salah satu kutipan yang pernah kubaca di sebuah blog: “The best love is when you find someone who makes your Imaan rise, who makes you more pious, and who helps you here in the dunya. Because that person wants to meet you again in Jannah.” Siapa sangka, Mim. Untukmu—inilah waktunya, bertemu dengan seseorang yang insyaallah akan membersamai hingga ke syurga; seorang pasangan yang semoga adalah sosok dewasa dalam membimbing dan mengayomi. Semoga dia mampu menjadi qowwam yang penuh kasih sayang, seorang suami dan calon ayah yang berdedikasi dan penuh tanggungjawab. Mim, musim penantianmu—yang sudah cukup lama kini berakhir;  hikmah ending, dengan seluruh pemahaman baiknya.  Setelah sekian hari yang penuh ujian perasaan dan jebakan prasangka yang seringkali menggoyahkan keyakinan terhadap takdir-Nya, finally … Allah tunjukkan momen paling tepat versi-Nya. Barangkali memang begitulah cara terbaik Dia menulis skenario ceritamu; terlihat berliku tak b...

Turning 28

Image
Bagiku, hari kelahiran selalu menjadi waktu terbaik untuk berefleksi sekaligus menjadi momentum yang tepat tuk mengupayakan perubahan; menjadi versi yang lebih baik lagi. Sebab ada banyak hal yang masih harus dibenahi. Ada harapan-harapan baru yang masih harus dirawat. Ada prasangka baik yang harus terus diupayakan juga doa-doa yang tidak boleh berhenti. Hidup memang harus dijalani dengan baik—untuk menjadi sebaik-baik hamba.  Alhamdulillah, untuk umur kesekian;  semoga berisi keberkahan di dalamnya  dan semoga kesempatan hidup ini tidak kubiarkan hanya berlalu dan menjadi sia-sia—doa yang akan kuulang tiap bertemu kembali dengan 18 Agustus; hari pertama aku hadir di dunia. Jujur saja, hari ini adalah hari ulang tahun paling campur aduk. Hal-hal yang beberapa hari lalu sudah kurencanakan berakhir hancur berantakan karena kejadian tak terduga. Hari yang kupikir akan menyenangkan ternyata berubah menjadi ruang ujian yang menekan. Rupanya, sabarku sedang diuji sedemikian rup...