Posts

Showing posts with the label Cerpen

Perempuan dan Tulisan Terakhirnya

Image
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiiun ...” Speaker masjid baru saja meneriakkan kabar duka—lengkap dengan nama almarhum beserta alamat rumahnya. Memang, tidak ada yang salah dari seseoraang yang baru saja wafat, hal yang biasa saja dan sudah terulang berkali-kali. Setiap ada kematian speaker mesjid pasti akan mengumumkannya kepada khalayak. Itu dilakukan kapan saja; pagi, siang malam bahkan subuh sekali. Tidak ada yang ganjil kecuali tentang dua hal yang kini membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Berita duka kali ini datang di hari jumat. Dan aku sangat mengenal siapa pemilik nama yang pergi subuh ini. Selepas bunyi speaker masjid tadi, sekelilingku kembali senyap. Aku merasa lemas. “Bagaimana mungkin?” Beberapa detik duniaku seperti berhenti bergerak. Aku hampir-hampir tidak percaya apa yang baru saja kudengar. Aku syok, mataku berkaca-kaca, tak kuasa lagi menahan diri untuk tidak menangis. Aku duduk, sesenggukan, berusaha mencerna perasaan yang entah harus bagaima...

Selesai

Image
" Bagaimana dengan perasaanmu, apakah masih seperti dulu?" Tanyamu malam itu membuat jeda panjang pembicaraan kita. Entah kenapa aku tak lagi mampu menjawab ya. Ragu mulai menggerogoti dada. Pelan-pelan kutenangkan perasaanku. Kuselami baik-baik, kucari jawabannya, dan untuk pertama kalinya aku tak ingin jujur kepadamu. "Entahlah... aku tidak bisa mengatakan ya ataupun tidak. Aku tidak begitu yakin."  jawabku singkat. Entah kenapa separuh diriku merasa begitu bersalah sebab terlalu takut jika kata-kataku akan menyakitimu. Kenapa terlalu sulit mengatakan dengan tegas jika perasaanku betul-betul lenyap? Kenapa begitu berat mengucapkan bahwa perasaanku memang sudah berubah. Selesai selepas hari-hari menyakitkan berhasil kulewati. Bukankah tak ada celah untuk ragu dalam urusan perasaan. Kenapa pula di saat seperti ini aku malah menangis? Apa yang sedang kutangisi?  Mungkin aku tengah menangisi diri yang teramat takut melukaimu. "Bukankah semestin...

Laki-laki yang Bertanya Tentang Kepastian

Image
Pict Source: Tumblr   Kau bergeming. Matamu masih memandang lurus ke jendala besar yang mengarah ke jalanan. Di luar hujan menderas membuat kedai kopi kian dipadati pengunjung. Aku berdehem mencoba memecah hening. “Ah maaf, aku melamun.” Katamu yang kembali melayangkan perhatian ke arahku. “Tidak masalah mengenang-asal kau tahu jalan pulang, seperti itu yang kubaca di novel-novel dengan akhir yang tidak membahagiakan.” Balasku sambil menatap kedua bola matamu.  Aku tahu betul bahwa di sana ada tangisan yang disekap keengganan tuk terlihat rapuh di hadapan perempuan. Kau hanya tertawa. Tawa sumbang yang membuatku sadar bahwa kau memang sedang tidak baik-baik saja. “Jadi, bagaimana menurutmu, apakah yang kulakukan selama ini sia-sia?" Kau tahu betul perjuanganku selama ini. Tiga tahun bahkan, dan semuanya harus berakhir seperti ini.” Lagi-lagi kau tertawa di ujung kalimat panjangmu barusan. Tawa yang dibuat-buat. Sandiwaramu percuma saja. Aku bahkan bisa membaca kesedihan...

Perempuan Bunglon dan Laki-laki kopi

Image
“Kamu tau tidak, dulu aku selalu menganggap kamu apa?" Katamu pada suatu pagi—tepatnya, di tahun kedua setelah kau dan aku sah menjadi kita. “Apaan?" Tanyaku dengan wajah antusias. Penasaran seperti apa aku di matamu sebelum menggenapiku. “Perempuan bunglon." Jawabmu sambil menatap kedua bola mataku. Aku terdiam sebentar. Kau  terlihat serius dengan jawaban ya ng justru terden gar lucu menurutku. Di kepalaku kini terbayang rupa bunglon dalam buku sains di sekolah dasar . “Maksudmu aku kayak bunglon yang bisa berubah-ubah warna?" Tanyaku kembali, masih berusaha mencerna jawabanmu barusan.  “Iya, kamu tuh persis kayak bunglon. Selalu berubah-ubah, seolah memiliki beberapa kepribadian.” Jawabmu. Kali ini dengan senyum khas yang selalu ingin kunikmati. Aku kembali terdiam memberimu kesempatan untuk menjelaskan lebih lanjut. “Pertemuan kita yang pertama membuat aku berpikir kalo kamu itu perempuan paling cuek yang pernah aku kenal....

Lelaki Sunyi

Image
Namanya Yudha. Lelaki yang tengah asyik menyaksikan setiap kesibukan malam melalui dinding kaca kantornya. Sudah menjadi rutinitas yang tak pernah terlewatkan, setiap habis jam kerja ia akan berdiri sambil menikmati keramaian kota dari lantai 40 ruang kerjanya.  Raut wajahnya datar namun tetap menunjukkan ciri karismatik seseorang dengan pembawaan yang tenang juga berwibawa. Di balik ekspresi dan ciri khasnya itu, ternyata   ia sangat pandai menyembunyikan sisi paling misterius dalam dirinya. Tak seorangpun tahu, bahwa setiap malam Yudha bisa berdiri berjam-jam dengan tatapan yang hanya bisa disaksikan oleh setiap benda mati di sekitarnya.     Andai sebuah kursi ataupun meja bisa berbicara, mereka akan menceritakan tentang tuannya yang hebat dan selalu dipuji seluruh staf kerja juga para karyawan tak lebih hanya seorang laki-laki kesepian. Setiap malam Yudha terpekur lama dengan pandangan kosong. Ia tidak pernah tahu kepada siapa bisa bercerita. Karena su...

Suatu Sore di 2016 (Part 2, The End)

Image
(Part sebelumnya baca Disini )  Sesampai di rumah, Afraa menemukan ibunya tengah asyik membaca di  sofa ruang keluarga. Dipangkuannya, terlihat si bungsu yang masih TK sedang terlelap sambil memeluk boneka panda yang kemarin dibelikan ayah. Afraa hanya berlalu sambil melemparkan seulas senyum saat ibu menoleh ke arahnya. Sepertinya ibu baru menyadari bahwa putri kesayangannya sudah pulang. Diikuti tatapan heran ibunya, A fraa menuju kamar yang terletak di lantai dua. Ia sedang tidak mood untuk berbasa-basi seperti yang biasa ia lakukan sepulang kampus. Di kamar yang bercat pink-ungu dengan motif volkadot, Afraa segera merebahkan tubuhnya ke kasur, lalu kemudian mulai memejamkan mata. Ia merasa sangat lelah dan hanya ingin terlelap. Setelah setengah jam lebih berbaring dengan mata tertutup, ternyata ia belum juga bisa tertidur. Entah kenapa, sulit sekali untuk berhenti memikirkan isi surat yang mengundan g air mata beru lang kali . Dan sekali lagi, Afraa ...

Suatu Sore di 2016

Image
Suatu sore di 2016, tepatnya hari ketiga di bulan Januari. Seorang perempuan tengah berdiri sambil memegang selembar kertas yang terlihat kusut seperti habis diremukkan dalam kepalan tangan yang kuat. Perlahan ia membaca kembali kalimat terakhir dari tulisan diatas kertas tersebut. Lalu perlahan air matanya mulai menetes, menciptakan bercak bening diantara huruf-huruf yang berjejer rapi. Beberapa katanya terlihat agak buram, tak lain karena sebuah tangisan yang berulangkali membasahinya. Sekelilingnya nampak lengang, tak ada sepasang mata pun yang  melihatnya. Ia merasa bahwa di kampus ini, tak ada tempat yang paling tepat untuk mengasingkan diri selain sudut lantai lima-tempat paling sepi di waktu sore. Masih dengan posisi yang sama, ketika hening di sekitarnya terasa pas dan membuatnya nyaman untuk melahap sedih sendirian. Kertas yang ia pegang dengan tangan sedikit bergetar malah beradu bersama tangisnya yang semakin kencang. Entah sudah berapa kali ia membaca kertas t...