Posts

Showing posts with the label Random

Untuk Mima'

Image
Kuawali tulisan ini dengan salah satu kutipan yang pernah kubaca di sebuah blog: “The best love is when you find someone who makes your Imaan rise, who makes you more pious, and who helps you here in the dunya. Because that person wants to meet you again in Jannah.” Siapa sangka, Mim. Untukmu—inilah waktunya, bertemu dengan seseorang yang insyaallah akan membersamai hingga ke syurga; seorang pasangan yang semoga adalah sosok dewasa dalam membimbing dan mengayomi. Semoga dia mampu menjadi qowwam yang penuh kasih sayang, seorang suami dan calon ayah yang berdedikasi dan penuh tanggungjawab. Mim, musim penantianmu—yang sudah cukup lama kini berakhir;  hikmah ending, dengan seluruh pemahaman baiknya.  Setelah sekian hari yang penuh ujian perasaan dan jebakan prasangka yang seringkali menggoyahkan keyakinan terhadap takdir-Nya, finally … Allah tunjukkan momen paling tepat versi-Nya. Barangkali memang begitulah cara terbaik Dia menulis skenario ceritamu; terlihat berliku tak b...

Rewind Dalam Perjalanannya

Image
Bagiku, menulis adalah mengumpulkan keberanian tuk berbicara kepada diri sendiri; self talk penuh kejujuran, tentang apa saja. Apakah tentang perasaan,  pilihan-pilihan hidup, ataupun riuh isi kepala dengan segala macam pertanyaannya. Menulis adalah proses panjang untuk berdamai dengan segala sesal di masa lalu, bersepakat tuk pulih dari segala luka dan kembali meneruskan langkah dengan lebih berani. Menulis 23 rewind adalah berkontemplasi lama; mengingat banyak cerita dan kumpulan kenangan lama yang mulai terpinggirkan dari ingatan.  Rewind adalah tanda, untuk usia yang sudah melalui banyak sekali hal, menemukan beragam pembelajaran dan menjadi murid kehidupan yang bertekad tuk menuliskan sebanyak-banyaknya hikmah dalam perjalanan hidup yang teramat singkat ini. 

Anak Pertama; '23 Rewind' dan Beberapa Hal di Balik Proses Kelahirannya

Image
  Finally, tahun ini aku berhasil menerbitkan buku pertama; setelah sekian lama yang penuh drama, niat dan tekad maju-mundur, penuh ragu beserta ketidakpercayaan diri yang jatuh. Ternyata memang betul, membaca buku itu mudah, yang susah adalah menulis buku. Anak pertama yang kunamai '23 Rewind' ini penuh cacat dan masih butuh perbaikan yang serius, (maklum, dilahirkan terpaksa) namun kehadirannya cukup membuatku terharu karena prosesnya betul-betul memuakkan. Dan entah mengapa, aku ingin berbagi beberapa hal yang mewarnai perjalanannya. Berikut beberapa fakta di balik 23 Rewind; 1. Pertama kali dimulai akhir 2019, kemudian selesai tahun 2020 (sempat berhenti total karena laptop rusak dan harus ada penyusunan ulang hingga naskah terbengkala sekian lama) lalu tahun ini, tepatnya di bulan kelahiranku: Agustus, akhirnya diterbitkan juga. 2. Terbit edisi terbatas. Untuk memenuhi syarat penerbit harus cetak sekian eksemplar, tidak ada PO, promosi, dst. Sebenarnya, rencana...

Belajar Menjadi Minimalis Dengan Buku-Buku Ini

Image
Selama Pandemi saya cukup banyak membaca buku bertema self-improvement dibanding novel yang sejujurnya a cup of my tea . Salah satunya Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay yang saya masukkan dalam daftar “sedikit buku yang memberi banyak pengaruh dalam hidupku." Awalnya saya mengetahui buku Seni Hidup Minimalis dari seorang bookstagram yang berhasil menarik perhatian saya lewat sampulnya yang simpel ditambah hasil foto yang apik. Sejujurnya, saya tidak membaca semua review buku yang lewat di beranda IG, terlalu banyak dan memang saya lumayan selektif memilih bacaan (walau pun hanya caption saya sadar; semuanya akan memakan waktu tentu saja, so jangan ragu skip tulisan yang not worth it) sebab saya punya batas waktu tersendiri berada di ruang maya yang silau itu. Setelah membaca ulasannya saya melipir ke goodreads, memasukkannya ke rak want to read, lalu saya melupakannya karena tertarik buku lain. Kemudian ketika corona virus merebak dan psbb berlaku saya mulai r...

02.00

Image
Istaiqiznaal an! Istaiqiznaal an! Pengumuman berbahasa arab barusan menerobos kesadaranku. Lebih cepat sejam dari bunyi alarmku biasanya. Aku terbangun. Bernostalgia . Sayup-sayup suara nasyid terdengar. ~ Pelan, desember akan habis, tahun berganti, semoga yang belum rampung lekas selesai.         Tak perlu ada sesal yang berjejal. Sebab aku percaya, selalu ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari hal paling menyakitkan sekali pun.  Lalu, bagaimana selanjutnya? Entah. --Sekolah putri Darul Istiqamah, pukul dua dini hari

Bagaimana?

Image
Kadang, kita masih mencintai seseorang meski tak pernah memiliki kesempatan bersamanya. Lalu, seriuh apa pun hari dijejali beragam kesibukan, tetap saja ada celah yang menghadirkan perasaan rindu. Kita tidak sadar jika ia adalah ingatan yang tidak pernah kehilangan tempat.  Maros, 29/10/18

Oktober dan Hal-hal Sebelum Subuh

Image
Selepas pukul dua belas adalah saat yang tepat untuk merasakan sepi. Begitu menurutku.  Mungkin karena beberapa jam sebelum subuh adalah waktu paling kusuka, saat kebanyakan manusia terlelap dan dunia menjadi sedemikian sunyi. Sejujurnya aku tak pernah betul-betul merasa sepi sebab aku selalu ditemani dengan suara-suara dalam kepalaku. Di sana kata-kata selalu berisik. Keramaian yang tak mengizinkan lelap, walau sekedar datang mengetuk pintu kamarku. Saat mengetikkan kalimat ini jam sudah menunjukkan pukul satu lewat sekian menit. Almanak 2018 sudah berganti judul. Oktober kesekian. Dan sepertinya aku semakin menyukai malam seperti aku mencintai pagi. Mungkin lebih tepat jika kukatakan tengah malam. Saat aku betul-betul menikmati apa saja yang mendatangkan kebahagiaan dengan cara-cara paling sederhana seperti .... Menyimak sebuah lagu yang kadang begitu mudah menarik ingatan menuju masa lalu. Di banyak momen yang tak pernah betul-betul kulupa dengan baik. Mendadak malam terasa ...

Perihal Melepaskan

Image
Sebab cinta adalah sekumpulan kemungkinan yang akan terseleksi oleh takdir. Lahir sebagai suatu kenyataan: akhir bahagia atau justru menjadi ingatan paling luka. Ketika sebuah cerita terus berputar di poros waktu, menunggu esok slalu menjadi detik-detik penuh kecemasan. Tentang kepala yang terlalu sibuk menerka. Kapan? Lalu kenapa melepaskan tak pernah mudah? ~ -- Makassar, Pukul 2:50 Malam

Me Time

Image
Fase saat moodswing banget. Tidak ingin bertemu siapa-siapa, pun tidak menanggapi tumpukan chat di whatsapp. Do nothing. Hanya berdiam di kamar. Tenggelam dengan diri sendiri. Merenung, berpikir, merasakan, dan meresapi detik-detik berlalu pergi. Aku menyebutnya: Metime yang lumayan kritis. Sudah seperti ritual bulanan untuk melawan diri sendiri. Satu bagian yang dikuasi kekuatan negatif.  Tentang setumpuk ragu menyoal pilihan yang melahirkan dilema panjang-membuat pikiran betah skali merumitkan banyak hal-yang semestinya disederhanakan. Tentang ego, keras kepala dan pikiran-pikiran pendek yang terlalu mudah menghakimi sesuatu. ~ Tenang... santai, rileks. Jangan panik. Tetap nyaman, nikmati setiap suka, dukanya apalagi. Jangan lupa menyediakan kembali stok sabar yang banyak. Sebab kita adalah ujian bagi orang lain-dan sebaliknya (?) #CMIIW Ya, me time slalu dibutuhkan tuk mengambil jeda, sejenak menepi dari hiruk pikuk keramaian agar kaki tetap melangkah di m...

Stagnan

Image
Setiap orang tentu akan berjumpa dengan fase stagnannya masing-masing. Sebuah titik di mana setiap langkah yang kita ambil mulai kita pertanyakan kembali. Ada ragu, yakin, dan mungkin juga sesal. Saat di mana hidup adalah serangkaian tanya yang tak menemukan jawaban. Serupa susunan puzzle yang terhambur atau teka teki silang yang harus dipecahkan. Lebih mengerikan lagi seumpama bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu. Mencekam lagi meresahkan. Rasanya kita sedang terjebak di kondisi yang entah harus bagaimana. Sulit, bahkan walau hanya sekedar menemukan padanan kata paling tepat tuk membahasakan kerumitannya. Ada perasaan gamang yang tengah merenggut kenyamanan, membuat detik-detik seolah ombak yang menarikmu ke tengah samudera luas. Terombang ambing tanpa arah. ~ Mungkin seperti itu yang dinamakam kehilangan diri sendiri. --Makassar, di tengah riuh-kisruh isi kepala

Kepada Diri Sendiri (2)

Image
Biar kuletakkan segala kenangan tentangmu. Di sana, di tempat terjauh yang tak mungkin lagi kuraih. Lalu biarkan waktu yang mengurus sisanya. Aku biarlah seperti ini, menunggu perih segera menyingkir sembari terus menyunggingkan senyum baik-baik saja.  Hari ini kau memang disakiti, tapi percayalah bahwa tak ada luka yang benar-benar tidak akan pulih. Sesakit apa pun tentu akan sembuh juga. Maka bersabarlah, sebab ada saatnya kau akan menertawakan rasa yang hari ini setengah mati kau tangisi. Seseorang bisa melukai hatimu, tapi kau tetap berkuasa tuk membuatnya tetap tangguh, belajar melewatinya hingga pulih segalanya. Kau tak lagi sepilu hari ini. Seseorang itu akan kembali sama dengan orang lain. Tak ada lagi yang spesial; seistimewa apa pun dulu ia.  Sesederhana itu siklusnya. Akan ada yang lebih baik selepas perasaanmu dihancurkan dan tidak dihargai. Ayo, tersenyumlah. Kau masih memiliki banyak kesempatan untuk bahagia yang lain. --Makassar Pukul 3:35 m...

Kepada Diri Sendiri

Image
Berhentilah bercerita di atas kertas ataupun halaman katamu. Sudahi meratap seakan engkau perempuan paling terluka. Hapus air matamu, kumpulkan kembali ketegaranmu. Buang jauh-jauh kesedihanmu. Letakkan semua beban yang kini memberatkan langkah. Kembalikan arahmu. Tatap masa depan dengan yakin. Jemput dengan senyuman. Terbitkan kembali harapan-harapan baru. Tulis kembali mimpimu. Dan Lanjutkan setiap perjuanganmu. Akhir yang manis akan tiba jika kau mengusahakannya dengan sungguh-sungguh. Hidup terlalu berharga untuk rapuh terlalu lama. Setiap duka akan sudah. Percayalah, sederas apa pun hujan, toh akan mereda juga pada akhirnya. Karena kau harus yakin, semesta selalu maha adil, meski kau terlalu bebal memahami keadilannya. Tetap berpikir yang baik, meski hatimu memang sedang tidak baik-baik saja.

Menahan Amarah

Image
Aku marah tapi memilih baik-baik saja dengan diamku. Saat kau merasa keadaan membuatmu sangat layak tuk memaki sesuatu atau pun seseorang. Sebab apa yang tengah kau hadapi betul-betul menarik emosi datang, beramai-ramai merampas ketenanganmu dan tentu saja menyesakkan dada. Hatimu berantakan. Sakit. Dan kau harus berusaha menenangkan pikiran yang sedang memancing dirimu tuk melampiaskannya dengan kata-kata kasar ataupun sumpah serapa. Hingga kemudian, setitik kesadaran mulai meladeni nurani. Bahwa kau harus segera selesai dengan amarahmu, sesulit apa pun mengalahkan diri yang nyaris kehilangan kendali sebab nafsu keparat. Badanmu bergetar, kepalamu terasa pening. Mata pun berkaca-kaca sebelum akhirnya ritual menangis berlangsung tanpa suara. Kata-kata umpatan yang semestinya mengalir dari bibirmu hanya tercekat di kerongkongan hingga akhirnya kau telan dengan paksa. Situasinya mungkin hampir sama saat kau berusaha berenang melawan arus. Sangat sukar. Demikian be...

Sudut Kamar

Tempat mendiskusikan banyak hal. Berbicara dengan isi kepala dan nurani. Tempat berdebat kusir antara  perasaan dan logika. Ruang sunyi sekaligus paling bising. Sunyi sebab sekitarku hanya terisi suara langkah jarum jam bersaing dengan deru napas yang pelan dan tenang, sedang di kepalaku gemuruh sedang berlangsung meriah. Seperti sebuah konser, ramai dengan suara-suara pikiran yang terlalu keras kepala untuk kusuruh diam. Di sini, tempat mengurai isi kepala yang selalu saja dilanda overthinking . Di sini, aku berusaha mengumpulkan kembali, seluruh keyakinan yang kadang dihabisi ragu. Di sini, tempat terbaik meresapi waktu sekaligus menguatkan diri sendiri. Di sini aku suka menangis bahkan tertawa sendirian. Menangisi kesalahan-kesalahan di masa lalu sembari berusaha memaafkan diri sendiri. Menertawakan kebodohan-kebodohan yang sudah berulang kali kulakukan atau sesekali menangis sekaligus tertawa karena perasaan yang kadang tak lagi terdefinisi. --Makassar, tengah mala...

Kata dan Langkah yang Patah

Harap pun habis Luka kembali hidup seperih kemarin Hari ini kulihat satu per satu huruf mulai lupa Perihal arah yang sekian lama menjadi tujuan Aku lebih memilih kehilangan Sebab senyum menolak tinggal di bibir yang kelu menyebut namamu Dan bahagia tak lagi bersedia menetap lebih lama untuk keyakinan yang terlalu rapuh Kau memang bukan kenyataan Mungkin hanya sekedar imaji Yang membuatku tetap berjalan Dari ragu ke ragu Menuju pintu keberangkatan Bersama kata dan langkah yang patah --Makassar, selepas subuh beranjak

Maafkan

Image
Maafkan, jika kata-kataku pernah melukaimu. Maafkan, jika sikapku membuatmu tak nyaman. Maafkan, jika aku menjadi penulis kecewamu. Maafkan, jika hadirku adalah ke-enggananmu. Maafkan, jika tawaku adalah kesedihanmu. Maafkan, jika sapaku pernah mengusikmu. Maafkan, jika aku bagian dari ketidakbahagiaanmu. Untuk seluruh kesalahan yang tidak kusengaja atau pun kusengaja, aku meminta maaf. Sungguh, aku tak pernah ingin melukai siapa pun. Menjadi pihak yang disakiti selalu lebih baik untukku. Setidaknya, aku nyaman menikmati luka-dibanding seseorang yang kulukai-lalu tak mampu menyembuhkan dirinya. Aku hanya takut, sebab hati manusia siapa yang tahu? Aku tak tahu siapa yang tulus dan siapa yang hanya pura-pura. Setiap orang menyimpan kesedihan, juga kekecewaan dengan caranya masing-masing. Dan yang paling menyedihkan adalah ia yang diam, dalam-dalam meresapi perihnya tanpa seseorang pun yang tahu. Kurasa bukan hanya aku saja yang memilih terlihat baik-baik saja saat kea...

Coret-Coret Tentang Perasaan

Image
Belakangan aku punya kebiasaan baru. Menulismu; sesuatu yang terjadi begitu saja sejak kata “kagum” kusematkan untukmu. Aku memang suka menulis, tapi admit it , aku hanya menulis sesuatu yang menurutku penting atau berkesan. Cerita-cerita yang tak ingin kulupa seiring waktu berganti dan kian bertambah banyaknya kenangan yang mengendap di kepalaku.  Memori manusia tidak dirancang tuk mengingat segala hal, maka dengan menulis aku ingin membuat segala tentangmu terabadikan dalam catatan yang kutulis di halaman ini. Aku menulis ini untuk mengarsipkan perasaanku. Sesuatu yang tak pernah mampu kukatakan. Oktober basah. Persis seperti tahun-tahun sebelumnya. Penuh hujan. Aku menyukainya meski kutahu betul, jika rintiknya selalu saja membuat suasana sendu, serta merta membangunkan jiwa melankolisku. Seolah tak ingin melewatkan sedetik pun bulir hujan yang menitik kaca jendelaku, demikian dengan kenangan, perasaan yang tak ingin sekedar mengendap di kepala, ia ingin ternarasikan ...

Memahami

Memahami itu indah . Setuju banget. Sebab menjadi manusia sosial kita dihadapkan pada kenyataan yang mau tidak mau harus kita jalani-sekali pun itu sesuatu yang tidak kita inginkan sama skali. Termasuk perihal memahami. Sebagai seorang introvert, k egiatan sehari-hari sangat bergantung dengan planner plus dengan alarmnya.  Maklum, aku agak pelupa sehingga harus slalu diingatkan dengan banyak cara ( read: alarm schedule harian lengkap dengan prioritas berupa sticknote warna warni yang tertempel di mana saja ), selalu saja butuh metime dan kadang merasa frustasi jika tak terpenuhi karena banyaknya kegiatan di luar rumah. Gak mau rempong dan memang terbiasa mengerjakan sesuatu sendirian-dan juga sangat tidak suka terdistraksi dengan banyak chat-atau pun telfon hingga 24 jam hpku mode silent demi meredam bunyi notifikasi yang slalu menyesaki hp. Dengan kepribadian seperti ini, tantangannya jelas; Aku mesti memposisikan diri sebagai seseorang/teman yang harus slalu meni...

Sekedar Coretan siang ini

Image
Apa kabarmu akhir pekan ini? Ah, ingin rasanya telepati ke tempatmu berpijak. Sekedar ingin memastikan apakah dirimu baik-baik saja. Mengetahui kabarmu cukup meredakan berbagai resah. Menenangkan hati sekaligus mencipta kecemasan lain. Bagaimana, jika ternyata Aku hanya terjebak oleh rasa yang kuperankan sendiri. Menyedihkan bukan ?  Berat untuk membuat diri sadar. Bahwa mungkin saja, inginku bukanlah bagian dari ingin Nya. Dan yang akan terjadi selanjutnya, bagaimana pun bentuknya. Seperti itulah rencana sang pemilik kehidupan. Aku tak punya kuasa untuk menolak. Jika ternyata semesta tak merestui asaku, aku bisa apa ?  Tetap tersenyum meski separuh hati tak rela. Menikmati sepiring kecewa, lalu k embali mengasingkan diri dari kata cinta dan mencintai. Mungkin lebih baik menghamba pada kesendirian, jika ternyata kamu hanya seseorang yang sekedar datang. Untuk mengajar iku bagaimana cara menata hari, berdamai pada setiap ingin. Dan juga, segera menamatkan hara...