Posts

Showing posts with the label Selftalk

Turning 28

Image
Bagiku, hari kelahiran selalu menjadi waktu terbaik untuk berefleksi sekaligus menjadi momentum yang tepat tuk mengupayakan perubahan; menjadi versi yang lebih baik lagi. Sebab ada banyak hal yang masih harus dibenahi. Ada harapan-harapan baru yang masih harus dirawat. Ada prasangka baik yang harus terus diupayakan juga doa-doa yang tidak boleh berhenti. Hidup memang harus dijalani dengan baik—untuk menjadi sebaik-baik hamba.  Alhamdulillah, untuk umur kesekian;  semoga berisi keberkahan di dalamnya  dan semoga kesempatan hidup ini tidak kubiarkan hanya berlalu dan menjadi sia-sia—doa yang akan kuulang tiap bertemu kembali dengan 18 Agustus; hari pertama aku hadir di dunia. Jujur saja, hari ini adalah hari ulang tahun paling campur aduk. Hal-hal yang beberapa hari lalu sudah kurencanakan berakhir hancur berantakan karena kejadian tak terduga. Hari yang kupikir akan menyenangkan ternyata berubah menjadi ruang ujian yang menekan. Rupanya, sabarku sedang diuji sedemikian rup...

Kehilangan Kata-kata

Image
Sebuah usaha membincangi diri sendiri ketika merasa sudah begitu lama tidak menulis .... Seperti kata Aan Mansyur dalam salah satu wawancara yang sepenuhnya saya sepakat  Seperti membaca, saya selalu menganggap menulis sebagai kebutuhan yang memiliki banyak alasan, untuk apa? Untuk memetakan perasaan ataupun pikiran salah satunya, namun bagaimana menghadapi keadaan kehilangan kata-kata saat ada begitu banyak perasaan ataupun pikiran yang bergejolak? Entahlah. Saya tidak melakukan apa-apa selain membaca tulisan orang lain yang kadang terasa begitu menenangkan  karena 'cukup mewakili' apa yang sebenarnya ingin saya ungkapkan, tepat di kala saya tak memiliki kata-kata yang memadai untuk menuliskannya.  Persis seperti yang terjadi belakangan atau saat ini—ketika saya melihat diri saya berlalu bersama sekian hari, bahkan bulan tanpa menuliskan apa pun. Saya merasa kehilangan sebagian diri saya sebelum saya menyebut kondisi ini sebagai fase kehilangan kata-kata. Jujur saja, say...

Teruntuk Diri Sendiri

Image
Dear Aira .... Seringkali kenyataan tak semewah yang kauharapkan, tapi semoga saja itu tidak sampai melumpuhkan kesabaranmu, membuatmu tenggelam dalam kesedihan yang menghapus senyuman. Manusia memang tak bisa memesan takdir sesuai keinginannya, namun hati yang ia miliki diberi kemampuan hebat untuk menerima setiap baik-buruk kehendak-Nya. Kau tahu, hati adalah pemberian Tuhan paling berharga. Di sana diletakkan-Nya kesempatan agar kau selalu bisa membenahi hidupmu. Tuhan akan mencintai dan menilaimu dari bagaimana hatimu. Karena itu, kau harus memiliki hati yang cantik. Hati paling laut, yang luas kesabarannya tak berbatas. Hati yang tetap akan baik-baik saja meski pernah dilukai berkali-kali, ditumpahi berkubik-kubik kecewa, dihunjami derita, hingga sebanyak apa pun perasaan duka takkan sampai mematahkannya.  Jangan berhenti mendidik hatimu agar menjadi hati yang akan menyelamatkan dunia dan akhiratmu. Raa, bersyukurlah sebab di antara begitu banyak hal yang berk...

7:36 pm

Suatu waktu dalam hidupmu. Kau tidak merasa apa-apa, atau lebih tepatnya “mati rasa”, mungkin. Riuh sunyi seperti kehilangan definisi, pun harapanmu tentang keberadaan seseorang atau ketakutanmu ditinggalkan, dijauhi, tidak lagi dianggap, atau apa pun bahasanya, kau tak peduli. Bagimu, segala sesuatunya sudah menjadi bagian-bagian yang terlempar jauh dari wilayah kekhawatiranmu. Kau tak memedulikan waktu, bahkan ketika angka-angka di almanak tahun ini semakin mendekatkanmu pada kematian.  Orang-orang tidak lagi memiliki tempat di pikiran dan perasaanmu. Hanya ada kamu, ruang kosong dan isi kepala yang sepi. Entah di mana kata-kata yang kemarin sedemikian berisik menuntutmu mencatat banyak hal; penyesalan, luka, dan segala yang merampas bahagiamu. Kau muak dengan manusia dan ketidakmampuanmu menjadi manusia. Kau memang kurang—selalu, kurang manusia. Kau sadar, kau sudah berlaku semau-maumu, melukai orang lain, menyakiti dengan seluruh pengabaianmu, dengan diammu, dengan jawaban-jawa...

Pertanyaan-pertanyaan

Image
Sesekali, luangkan waktumu untuk bertanya kepada dirimu sendiri. Anggap saja bagian dari kontemplasi untuk melihat kembali hidup yang sudah kau lalui dan yang sedang kau jalani saat ini. Sudah sampai mana perjalananmu? Bagaimana kau menghabiskan jatah waktu yang amat terbatas ini? S eberapa banyak peristiwa yang berhasil kau maknai? Apakah hidupmu masih seperti dulu? Tidak ada kemajuan yang berarti atau, kau justru sudah bertumbuh begitu baik dengan segala ragam ujian hidup? Sudahkah kau memberi arti kepada orang lain? Atau, kau tak lebih sekedar menjadi sesuatu yang tidak memberikan kebaikan apa-apa bagi hidup seseorang?  Bagaimana hubungan dengan Rabbmu? Seberapa dekat kau dengan-Nya? Sudah jelaskah tujuan dan orentasi hidupmu?   Sederet tanya yang akan terus beranak-pinak. Tak ada habisnya. Hidup selalu dipenuh dengan pertanyaan. Beberapa memang mempunyai jawaban dan mudah didapatkan, namun banyak juga yang tidak, bahkan ada yang memerlukan waktu sekian lama ...

Dear Me

Image
Kuatlah, meski hanya berpura-pura; berlagak di depan semua mata agar kau nampak baik-baik saja. Kuatlah, tidak peduli berapakali pun kau harus meredam segala pedih sendirian, tertidur dengan mata sembab, meringkuk di sudut kamar memeluk lutut sambil terisak tanpa suara. Tidak apa-apa; setiap orang harus punya cara untuk menghadapi keadaan paling peliknya.  Kuatlah, sebab hidup akan tetap berjalan, walau jatuh berulangkali, tertinggal jauh, bahkan jika di hadapanmu terus saja disuguhi bermacam-macam jebakan, atau... kau harus melewati segala jenis penderitaan, mencicipi banyak kehilangan hingga seluruhnya menjadi rangkaian peristiwa yang mendewasakan, yang membuatmu tumbuh; lebih kuat dari dirimu yang kau rasa terlalu rapuh. “Kau kuat karena dicintai. Setidaknya oleh dirimu sendiri” sebuah kalimat dalam buku cara-cara tidak kreatif untuk mencintai. Aku sepakat meski aku lebih suka jika kukatakan; kau kuat karena kau belajar mencintai Tuhan melebihi apa pun. Sebab dirimu ta...

Terima Kasih

Terima kasih sudah berusaha meluaskan sabar. Selalu. di setiap sayatan luka dan derai air mata kesedihan. Terimakasih sudah bersusah payah megupayakan syukur. Selalu. Di seluruh bahagia, di segala ujian dan tetiap kehendak-Nya. Terima kasih sudah melakukan banyak kesalahan yang memahamkan banyak hal kemudian. Terima kasih untuk tidak pernah berhenti belajar. Terima kasih sudah bersedia menepikan ego dan mendengar kata hati. Pertarungan pikiran dan perasaan tidak akan ada habisnya. Jangan pernah berhenti berjuang. Terima kasih telah memilih bertahan. Hari ini, nanti, dan seterusnya... Terima kasih, aku, atas seluruh kisah yang memenuhi angka-angka di almanak tahun ini. --Makassar, sepertiga malam kesekian

Jalan Kesunyian

Image
Ada waktu-waktu tertentu aku memilih menghilang. Tidak betul-betul hilang. Hanya sedang menepi dari riuhnya dunia lalu mulai menapaki jalan kesunyian. Rute yang tak ditempuh kebanyakan orang. Sebuah jalan yang membuatku melangkah dengan begitu hening.   Jalan kesunyian, saat aku merasa tak perlu lagi mengabarkan segala hal yang sedang terjadi. Tentang diri sendiri atau apa pun itu, memang tak semuanya harus dibagi, dipublikasikan, diketahui banyak orang. Ada kalanya, kabar bahagia, kesedihan, segala lelah dan beragam ikhtiar memperjuangkan sesuatu akan lebih baik kita bisukan. Tidak perlu diceritakan, kecuali kepada orang terdekat, yang tulus dan bisa dipercaya.    Jalan kesunyian, saat aku betul-betul menikmati kesunyian, meresapi detak dan mulai melihat orang-orang baik yang mencari keberadaanku. Tenyata, jumlah mereka memang sangat sedikit. Tidak masalah, sebab sedikit orang namun betul-betul tulus lebih berharga dibanding ribuan yang kita sebut kawan tap...

Oktober dan Hal-hal Sebelum Subuh

Image
Selepas pukul dua belas adalah saat yang tepat untuk merasakan sepi. Begitu menurutku.  Mungkin karena beberapa jam sebelum subuh adalah waktu paling kusuka, saat kebanyakan manusia terlelap dan dunia menjadi sedemikian sunyi. Sejujurnya aku tak pernah betul-betul merasa sepi sebab aku selalu ditemani dengan suara-suara dalam kepalaku. Di sana kata-kata selalu berisik. Keramaian yang tak mengizinkan lelap, walau sekedar datang mengetuk pintu kamarku. Saat mengetikkan kalimat ini jam sudah menunjukkan pukul satu lewat sekian menit. Almanak 2018 sudah berganti judul. Oktober kesekian. Dan sepertinya aku semakin menyukai malam seperti aku mencintai pagi. Mungkin lebih tepat jika kukatakan tengah malam. Saat aku betul-betul menikmati apa saja yang mendatangkan kebahagiaan dengan cara-cara paling sederhana seperti .... Menyimak sebuah lagu yang kadang begitu mudah menarik ingatan menuju masa lalu. Di banyak momen yang tak pernah betul-betul kulupa dengan baik. Mendadak malam terasa ...

Juli yang Menguji

Image
Tentang kecemasan-kecemasan yang kadang tumbuh sembarangan tempat. Keresahan seperti tak pernah surut. Saat-saat sabar begitu sukar diupayakan. Kala langkah terasa begitu berat. Di antara banyaknya tanggungjawab yang menagih sikap; sebab diri yang memang belum cukup bijak memposisikan banyak hal. Atau, kau memang betul-betul tidak sanggup lagi disesaki banyak urusan yang menguras pikiran sekaligus perasaanmu. Kau tak setangguh kata-katamu. Karena pada akhirnya kau pun menangis tanpa suara. Kau kalah. Merasa sangat kelelahan. Ingin menghilang. Lari dari hidupmu.  Butuh hati selapang apa tuk mencintai kenyataanmu sendiri? Kau bertanya-tanya sebab memeluk takdir kau tak betul-betul tabah. Rela masih kau usahakan setengah mati. --Gowa, 2018

Lagi-lagi Tentang Waktu

Image
Belakangan ini, tepatnya di 10 april terakhir aku merasa smakin kesulitan me- manage waktu. Aktivitas sehari-hari lebih sering berjalan tak terorganisir dan tidak sesuai seperti yang sudah kujadwalkan. Kertas warna warni berisi selfreminder , kata-kata penyemangat ataupun daftar panjang my big goals memenuhi dinding malah lebih sering kuabaikan. Prioritas harian justru seperti tugas kuliah dikejar deadline. Belum lagi di jam-jam tertentu aku malah larut dengan hal-hal remeh tak terlalu penting; lalai akan detik-detik yang teramat berharga. Dalam kondisi seperti ini kadang aku malah merutuk diri sendiri. Atas setumpuk rencana yang belum sanggup terlaksana. Tentang target-target yang kian mendekati tenggang waktu atau parahnya malah terbengkala sekian lama. Memang, april ini aku sedikit kacau dibanding bulan-bulan sebelumnya. And then , aku mulai resah tiap melihat angka-angka di kelender yang tiba-tiba saja nampak sperti timer bom yang menunggu jadwal untuk meledak. Ketak...

Maka; Berdoalah

Image
kadang, senyum adalah sebaik-baik sandiwara; bahwa tidak semua kesedihan bisa ditampakkan dengan tangisan. "Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (QS. 40:60) Aku penuh harap, tak lelah menyemogakan agar kesedihan ini segera berlalu. Berusaha untuk tidak merutuk takdir yang terasa sangat kejam. Dalam tangis yang kesekian, aku memohon penuh kepada-Mu; Maha menerima segala pintah hamba. “Untukku, pinjamkan aku hati yang paling kuat tuk tetap bertahan, saat kehilangan paling sakit tengah mendekap begitu erat ." Berpura-pura terlihat kuat ternyata tidak mudah. Aku tetap saja dengan perasaan paling rapuh, sedang kesedihan enggan beranjak. Menikam dalam. Seolah ia memang pantas menetap paling lama.  Adakah penawar kesedihan paling mujarab? Katakan padaku, seberapa sanggup manusia memikul sedih yang bertumpuk-tumpuk, yang begitu memberatkan langkah? Tak bisakan dicicil sedikit saja?   Sebab sepanjang apa pun...

Berhenti

Image
Kadang, sebuah langkah harus berhenti tiba-tiba. Tentu dengan sebuah alasan beserta rasa tidak rela melepaskan yang akan mengusik ketenangan.  Lantas, bagaimana mengatasinya? Aku hanya meneguhkan hati, bahwa keputusanku adalah yang terbaik. Saat aku merasa betul-betul tak sanggup lagi, entah ini hanya pembelaan kurang mendasar dari bentuk ketidaksanggupanku, atau memang batasku hanya sampai di sini; loser. Ketika daya juang melemah, tekad baja sedang berada di ujung tanduk dan pikiran yang mulai mempertanyakan tanggungjawab lain. Sebuah dilema: aku mesti memilih sebuah prioritas agar fokus tidak terpecah. Seharusnya demikian daripada seperti ini; uring-uringan, overthinking hingga mengabaikan kepentingan yang lain. Manajemen waktu memang tidak mudah, apalagi untuk seseorang yang mudah bosan, plin-plan dan selalu kesulitan menyelesaikan apa yang terlanjur dimulainya. Kontemplasi yang lumayan lama menghasilkan sebuah konklusi sederhana namun rumit. Kontradiksi yang memuakkan. ...

Ujian

Image
“Apakah manusia mengira telah beriman hanya dengan mengatakan; kami beriman,” sementara mereka belum diuji.” (Al ankabut [29]: 69) Sederhananya: ujian hadir untuk menyeleksi keimanan seseorang. Sebab dalam situasi yang pelik saat berhadapan dengan sebuah ujian manusia selalu mempunyai dua pilihan: berputus asa dan memilih jalan yang hanya akan merugikan dirinya sendiri atau justru memilih berusaha semaksimal kemampuan, berdoa dan tetap bersabar sesulit apa pun ujian yang dihadapi hingga akhirnya ia mampu survive dan ujian itu berlalu sebagai pelajaran berharga yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. “Berat atau ringan sebuah ujian sebenarnya tidak diukur dari besar kecilnya. Tapi diukur dari perjuangan menghadapinya. Semua ujian itu berat selama tidak dihadapi dan semuanya menjadi ringan apabila dihadapi. Beratnya ujian yang menimpa umat sekarang bukan karena besarnya ujian itu melainkan karenan ringannya iman dan semangat juang mereka.” (Buku Rahasia ...

Sekelumit Cerita: Mahasiswa Tingkat Akhir

Image
Slow better than no progress . .. Tetiba kata-kata ini menjadi kalimat paling pemungkas saat kepala seperti tak sanggup lagi melawan banyaknya pikiran merendahkan. "Ah, kamu memang terlalu santai, kamu terlalu meremehkan tanggungjawab, kamu memang malas berpikir, bla bla ... duh, menghakimi diri sendiri kadang sangat menyakitkan sebab di titik itu seseorang akan menemukan begitu banyak kesalahan yang kadang tidak begitu disadari, lalu diam-diam malah menghancurkan kepercayaan diri hingga di titik ekstremnya (yang sering dan sedang saya alami) malah memaki diri, menganggap jika saya memang tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukannya, saya masih terlalu bodoh tuk memahami, saya memang selalu berpikir pendek dalam mengambil keputusan, terlalu gegabah dan tidak cukup sabar untuk sebuah proses, etc—sekumpulan asumsi negatif yang seperti meruntuhkan harapan atau semangat untuk tetap melangkah. Menyedihkan sekalih! Sore tadi sepulang kampus (lebih tepatnya perpustakaan w...

Karena Perempuan itu Rumit

Image
Beda Nasihat kepada hafidz dan hafidzah ( Sumber : chat temen di grup WhatsApp) Menarik saat DR. Ishom abdul aziz abdul qadir dari mesir membuka kalam di pertemuan malam itu di ma'had putri Yayasan Ibnu Katsir Jember. Kurang lebih “saya ingin tahu, kenapa kalian berada di sini, memilih ada di sini dan belajar di sini.” Pertanyaan klasik, batin saya. Tapi saya juga benar-benar ingin tahu, apakah jawabannya juga se-klasik itu. Tepat para santriwati menjawab dengan semantap jawaban bahwa mereka ingin menjadi hafidzah, membahagiakan kedua orang tua. Simpel tapi mengena. Dan itu tidak salah. Tapi syaikh Ishom geleng-geleng, tersenyum, rupanya berharap ada jawaban lain… nah! Saya suka gaya beliau yang ini, yang membuat saya mengejar-ngejar beliau ke ma'had putri yaa ini heheh.. Tabiatnya yang selalu detil dan berhasil menghidangkan makna terdalam dan fakta yang luput dari pikiran kebanyakan orang atas kalimat-kalimat yang beliau sampaikan dalam muhadharahnya. “Baik...

Sendiri

Image
EDCOUSTIC – SENDIRI MENYEPI Sendiri Menyepi Tenggelam dalam renungan... Kadang, dalam hidup kita hanya butuh sendiri. Berbicara dengan nurani, menyelami diri dan seluruh pikiran. Segala kekalutan adalah rute, perjalanan panjang yang menenggelamkan. Jauh ke dalam ruang yang hanya berisi kesadaran. Untuk memaknai, untuk menemukan; ketenangan yang mulai hilang.  Ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan perlahan kucari, mengapa diriku hampa… mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi… Mengapa dan mengapa mulai mengetuk bilik-bilik hati dengan berbagai jawaban. Mungkin memang karena khilaf yang tak bertepi, tumpukan dosa dan ketersesatan yang tak kusadari kian jauh membawaku pergi. Hilang arah. Lepas dari tujuan hidupku.  Oh Tuhan aku merasa sendiri menyepi... ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi sampai kapan ku begini resah tak bertepi kembalikan aku pada cahaya-Mu yang sempat menyala benderang di hidu...

Masalah dan Kedewasaan

Image
Mendefinisikan kedewasaan rasanya cukup panjang untuk ditulisakan (lagi mode malas nulis panjang). Intinya, dewasa versi singkat yang saya pengang: “dewasa memang bukan soal usia tapi dewasa adalah tentang sikap dan pemikiran seseorang.  Bagaimana sesorang mampu menyikapi setiap kondisi/masalah dalam hidupnya dengan sebijak mungkin. Ia yang mampu menempatkan diri sebagai solusi, bukan malah menjadi bagian dari masalah. Ia yang slalu bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang luas. Ia yang mampu menerima dan menjadikan setiap peristiwa atau pun seseorang sebagai media untuk terus belajar, bertumbuh menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Jadi dewasa adalah proses seumur hidup.” (nah loh, ini malah agak panjang). Sejujurnya, saya pun selalu bertanya-tanya kepada diri sendiri “ apakah saya sudah dewasa ?” Dan jawabannya sudah pasti: tidak. Ya, saya tidak pernah bisa mengakui diri saya seseorang yang sudah dewasa meskipun beberapa orang menganggap saya dewasa ...

Stagnan

Image
Setiap orang tentu akan berjumpa dengan fase stagnannya masing-masing. Sebuah titik di mana setiap langkah yang kita ambil mulai kita pertanyakan kembali. Ada ragu, yakin, dan mungkin juga sesal. Saat di mana hidup adalah serangkaian tanya yang tak menemukan jawaban. Serupa susunan puzzle yang terhambur atau teka teki silang yang harus dipecahkan. Lebih mengerikan lagi seumpama bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu. Mencekam lagi meresahkan. Rasanya kita sedang terjebak di kondisi yang entah harus bagaimana. Sulit, bahkan walau hanya sekedar menemukan padanan kata paling tepat tuk membahasakan kerumitannya. Ada perasaan gamang yang tengah merenggut kenyamanan, membuat detik-detik seolah ombak yang menarikmu ke tengah samudera luas. Terombang ambing tanpa arah. ~ Mungkin seperti itu yang dinamakam kehilangan diri sendiri. --Makassar, di tengah riuh-kisruh isi kepala

Kepada Diri Sendiri (2)

Image
Biar kuletakkan segala kenangan tentangmu. Di sana, di tempat terjauh yang tak mungkin lagi kuraih. Lalu biarkan waktu yang mengurus sisanya. Aku biarlah seperti ini, menunggu perih segera menyingkir sembari terus menyunggingkan senyum baik-baik saja.  Hari ini kau memang disakiti, tapi percayalah bahwa tak ada luka yang benar-benar tidak akan pulih. Sesakit apa pun tentu akan sembuh juga. Maka bersabarlah, sebab ada saatnya kau akan menertawakan rasa yang hari ini setengah mati kau tangisi. Seseorang bisa melukai hatimu, tapi kau tetap berkuasa tuk membuatnya tetap tangguh, belajar melewatinya hingga pulih segalanya. Kau tak lagi sepilu hari ini. Seseorang itu akan kembali sama dengan orang lain. Tak ada lagi yang spesial; seistimewa apa pun dulu ia.  Sesederhana itu siklusnya. Akan ada yang lebih baik selepas perasaanmu dihancurkan dan tidak dihargai. Ayo, tersenyumlah. Kau masih memiliki banyak kesempatan untuk bahagia yang lain. --Makassar Pukul 3:35 m...