Posts

Showing posts with the label Prosa

mimpi-mimpi anak kecil dalam diriku

suatu sore yang berisik, hujan deras membangunkan anak kecil dalam diriku ia merapal doa ketika teringat, saban hari guru mengaji pernah berkata: " ucapkan permohonan kala hujan, Tuhan akan mengabulkannya segera " ia pun mengeja satu per satu doanya. mimpi-mimpi yang tak cukup sakti melawan sang waktu Tuhan ,  beri aku pintu ke mana saja aku ingin pulang menemui ibu yang masih bugar, dan bapak yang hadirnya dalam hidupku sungguh teramat singkat—biarkan aku kembali menjadi gadis kecil, mengulang janji bahwa kelak, aku akan menjadi anak baik; yang doanya tersisa sebagai catatan panjang orang tua seusai masa Tuhan , beri aku peta ajaib yang akan menunjukkan jalan menuju masa silam penuh kesahajaan—jauh sebelum segala cemas tumbuh dan dewasa dalam diriku aku hanya ingin sebuah hari yang biasa saja; subuh di ruang tengah, rampung rukuk sujud di sebelah ibu yang doa-doanya terlalu panjang,  mendaras Qur'an dengan kantuk yang belum tanggal, menunggu matahari dan sepiring nasi go...

Memeluk Kehilangan

Image
Detik-detik merangkak lesu kau dan aku masih sibuk memungut satu per satu kenangan yang berserakan, yang saban hari tidak pernah berhasil kita singkirkan Hingga sore menjelang, akhirnya kita bersepakat untuk pulang tidak peduli jika esok hujan akan datang membuat basah ingatan dan kita akan kedinginan  memeluk kehilangan masing-masing --Makassar, rainy november 

Bagaimana?

Image
Kadang, kita masih mencintai seseorang meski tak pernah memiliki kesempatan bersamanya. Lalu, seriuh apa pun hari dijejali beragam kesibukan, tetap saja ada celah yang menghadirkan perasaan rindu. Kita tidak sadar jika ia adalah ingatan yang tidak pernah kehilangan tempat.  Maros, 29/10/18

Mungkin Memang Takdir

Image
Mungkin memang takdir, kita melangkah dari titik yang berbeda menuju pertemuan-pertemuan yang sama. Mungkin memang takdir, kita berada dalam satu ruang yang entah harus kusebut apa. Di sana kita banyak berbicara tentang apa aja. Kadang-kadang serius, sesekali begitu membingungkan dan seringkali kita pun tak tahu percakapan apa yang tengah memutus jeda. Mungkin memang takdir, kita harus perpijak di waktu-waktu yang begitu pelik. Berjibaku dengan diam yang panjang, menerka-nerka isi kepala, lantas begitu sangsi melayangkan tanya. Kadang, jarak begitu memuakkan, namun dari sana rindu terus bertumbuh, dari hari ke hari berusaha mendewasakan perasaan. Mungkin memang takdir, kita membuat kesalahan agar paham jika maaf adalah sesuatu yang tak boleh habis di antara kita. Sebab kita tak pernah tahu, kekeliruan apa lagi yang kelak akan menyodorkan luka, bukan? Mungkin memang takdir, kita terjebak kepada hal-hal yang tidak pernah kita harapkan. Seperti berjalan dari ragu ke ragu, berdiam bersa...

Oktober dan Hal-hal Sebelum Subuh

Image
Selepas pukul dua belas adalah saat yang tepat untuk merasakan sepi. Begitu menurutku.  Mungkin karena beberapa jam sebelum subuh adalah waktu paling kusuka, saat kebanyakan manusia terlelap dan dunia menjadi sedemikian sunyi. Sejujurnya aku tak pernah betul-betul merasa sepi sebab aku selalu ditemani dengan suara-suara dalam kepalaku. Di sana kata-kata selalu berisik. Keramaian yang tak mengizinkan lelap, walau sekedar datang mengetuk pintu kamarku. Saat mengetikkan kalimat ini jam sudah menunjukkan pukul satu lewat sekian menit. Almanak 2018 sudah berganti judul. Oktober kesekian. Dan sepertinya aku semakin menyukai malam seperti aku mencintai pagi. Mungkin lebih tepat jika kukatakan tengah malam. Saat aku betul-betul menikmati apa saja yang mendatangkan kebahagiaan dengan cara-cara paling sederhana seperti .... Menyimak sebuah lagu yang kadang begitu mudah menarik ingatan menuju masa lalu. Di banyak momen yang tak pernah betul-betul kulupa dengan baik. Mendadak malam terasa ...

Baik-baik Saja

Image
Nyatanya orang-orang memang cenderung melepaskan diri dari sekitarmu, tepat di saat-saat terburukmu. Dan kau tak kuasa walau sekedar mengatakan “jangan pergi!". Sepenuhnya kau menolak jika sebenarnya kau sedang sangat membutuhkan seseorang. Bagimu, kau hanya perlu berusaha agar tetap terlihat baik-baik saja meski kau tahu betul jika terpaksa adalah salah satu dari sekian banyak hal yang akan sangat sulit kau upayakan. Terpaksa kau membuat dirimu terlihat tenang dan biasa saja, melakukan hal-hal baik hanya untuk menutup fakta yang sebenarnya. Sungguh, kau memang sedang tidak baik-baik saja. Di titik itu kau pun tersadar. Bahwa menipu mata manusia tak lantas membuatmu pandai berbohong pada dirimu sendiri. Hatimu selalu jujur. Mungkin kau memang sanggup mempertahankan perasaan tak butuh seseorang namun bagaimana kau akan mampu menyangkal, jika Zat Maha sempurna selalu ada untukmu. Ia yang lebih dekat dari urat nadi. Seluruh dari dirmu, hati, penglihatan, pendengaran, perasaan ...

Menunggu lelap

Image
Aku selalu menyukai sendiri dan malam sebagai ruang paling nyaman. Antara sunyi sekitar dan riuh isi kepala. Kala detik jarum jam terdengar seperti langkah kaki yang tak pasti hendak ke mana. Menenangkan sekaligus meresahkan. Ketika "selamat malam" menjadi kalimat yang tak pernah sampai. Huruf-huruf yang memilih pulang sebelum tiba di pintu rumahmu. Aku tak berhasil menemuimu. Baiklah, aku akan mencoba terbiasa. Tanpa sapamu. Tanpa keinginan mengusikmu seperti yang lalu-lalu. Sulit. Sebab ketidakhadiranmu adalah sunyi yang tak bisa kuusir. Malam masih panjang, maka kubiarkan kau tertidur dalam kepalaku. Sebagai kenangan atau hanya ingatan yang sedang berjalan menyambut pagi; menuju lupa. -- Makassar, di bawah pendar cahaya lampu, menyaksikan kata-kata berkeliaran. Sesekali mencoba menyusun sajak tentang rindu; lalu gagal

Menemukan Seseorang yang Tepat

Image
Temukanlah seseorang yang dengannya kau merasa betah, walau sebenarnya kau selalu lebih suka sendirian. Ia yang kehadirannya akan memberikan ketenangan, kenyamanan dan perasaan-perasaan baik lainnya.  Seseorang yang ucapannya tentu tentang hal-hal baik yang membuatmu rela menghabiskan waktu berlama-lama dengannya. Ia yang kau percaya tuk membagi keresahan-keresahan dan segala macam ceritamu. Ia yang kau titipkan kepercayaan penuh tuk menyimpan apa pun tentangmu, dari bagian-bagian kecil hingga sesuatu yang paling rahasia sekalipun.   Seseorang yang kata-katanya akan menenangkan gelisah dan meredakan banyak kekhawatiran ataupun ketakutan-ketakutanmu. Ia tempat berbagi sedih ataupun bahagia. Seseorang yang mungkin memang tidak selalu ada namun berusaha meluangkan waktu untukmu. Ia mungkin seorang sahabat yang lebih berharga dibanding 1000 teman sekalipun.  Seseorang yang selalu kaurindukan sebagai tempat untuk pulang di mana kau akan bebas tertawa da...

Selesai

Image
" Bagaimana dengan perasaanmu, apakah masih seperti dulu?" Tanyamu malam itu membuat jeda panjang pembicaraan kita. Entah kenapa aku tak lagi mampu menjawab ya. Ragu mulai menggerogoti dada. Pelan-pelan kutenangkan perasaanku. Kuselami baik-baik, kucari jawabannya, dan untuk pertama kalinya aku tak ingin jujur kepadamu. "Entahlah... aku tidak bisa mengatakan ya ataupun tidak. Aku tidak begitu yakin."  jawabku singkat. Entah kenapa separuh diriku merasa begitu bersalah sebab terlalu takut jika kata-kataku akan menyakitimu. Kenapa terlalu sulit mengatakan dengan tegas jika perasaanku betul-betul lenyap? Kenapa begitu berat mengucapkan bahwa perasaanku memang sudah berubah. Selesai selepas hari-hari menyakitkan berhasil kulewati. Bukankah tak ada celah untuk ragu dalam urusan perasaan. Kenapa pula di saat seperti ini aku malah menangis? Apa yang sedang kutangisi?  Mungkin aku tengah menangisi diri yang teramat takut melukaimu. "Bukankah semestin...

Hujan dan Kata-Kata

Image
Hujan memang slalu datang mendramatisir keadaan. Rintiknya serupa potongan-potongan kenangan yang jatuh satu per satu, menitik di dasar ingatan. Bersama petrichor dan rindu, kembali kutemukan namamu dalam kata-kata yang berhamburan kehilangan makna. Sepertinya kau tak lebih lagi dari sekedar sisa ingatan yang kian bergerak menjauh. Sebuah perasaan yang pelan-pelan berkemas sebelum akhirnya lenyap disapu waktu. --Makassar yang (lagi-lagi) diguyur hujan sebelum subuh

Monolog Pagi

Image
Kita pernah dalam diam saling memendam. Masing-masing merasa jeda adalah keharusan. Untuk meredam kebosanan, melayani ego yang enggan mengalah. Atau justru sekedar menyepakati: kita kembali menjadi dua orang asing tanpa perlu mengutarakan sebuah alasan. Lalu, saat dialog-dialog menjadi kaku dan hambar, berbagai pertanyaan mulai mengakar di kepalaku. Kesimpulan dan segala asumsi yang kubuat nyatanyaa tak pernah ampuh mereduksi rindu yang seperti hujan deras. Ada saatnya pagi terasa semenyesakkan ini, ditahan dengan harapan yang merapuh. Air mata sesekali kuseka bersama kalimat baik-baik saja. Ya, membohongi diri adalah pengakuan paling pahit saat sebenarnya aku memang sedang tidak baik-baik saja. Tanpamu.

Tanpa Kata-Kata

Image
Kadang, tanpa kata-kata adalah sebuah penjelasan. Seperti titik di ujung kalimat. Serupa puisi kehabisan diksi. Atau, layaknya buku, selesai dengan akhir menggantung: penuh tanya. Pun demikian dengan kita: kesimpulan tanpa kalimat yang menenangkan, juga jarak yang memilih disepakati dalam diam. Maka biarkan, masing-masing kita pergi sukarela lalu pelan-pelan membujuk ingatan untuk segera melupa. Sebab bahagia masih jalan yang sedang kita tempuh walau dengan arah yang tak lagi sama.

Menahan Amarah

Image
Aku marah tapi memilih baik-baik saja dengan diamku. Saat kau merasa keadaan membuatmu sangat layak tuk memaki sesuatu atau pun seseorang. Sebab apa yang tengah kau hadapi betul-betul menarik emosi datang, beramai-ramai merampas ketenanganmu dan tentu saja menyesakkan dada. Hatimu berantakan. Sakit. Dan kau harus berusaha menenangkan pikiran yang sedang memancing dirimu tuk melampiaskannya dengan kata-kata kasar ataupun sumpah serapa. Hingga kemudian, setitik kesadaran mulai meladeni nurani. Bahwa kau harus segera selesai dengan amarahmu, sesulit apa pun mengalahkan diri yang nyaris kehilangan kendali sebab nafsu keparat. Badanmu bergetar, kepalamu terasa pening. Mata pun berkaca-kaca sebelum akhirnya ritual menangis berlangsung tanpa suara. Kata-kata umpatan yang semestinya mengalir dari bibirmu hanya tercekat di kerongkongan hingga akhirnya kau telan dengan paksa. Situasinya mungkin hampir sama saat kau berusaha berenang melawan arus. Sangat sukar. Demikian be...

Setumpuk Kisah

Image
  Berawal dari bait lagu yang tengah mengudara di langit kamar, ingatan itu bertamu. Tentang setumpuk kisah yang seketika membuat kenangan melesat cepat. Detik seolah melemparku ke masa lalu. Kala itu, duniaku belum berkenalan dengan kata rumit. Hari-hari berkesan terlewati dalam hangat keluarga yang masih utuh. Bersama mama dan juga bapak yang seringkali pergi meninggalkan kami, membuatku terlalu dini tuk memahami arti keberadaan. Tiba-tiba rindu memeras air mata. Ah, betapa sulit manusia melepas apa-apa yang pernah terlanjur menyentuh hati. Persis seperti beberapa kenangan yang masih melekat meski satu dua tiga kisah mulai terhapus bersama waktu. Kepala memang tidak didesain tuk mengingat segala hal. Aku menulis agar aku tetap mengingat, salah satunya bahwa hidup memang butuh keseimbangan. Ada bahagia tentu karena kita merasakan kesedihan. Dan juga, kita akan paham kehilangan selepas ditinggal pergi oleh sesuatu yang kita anggap berharga. Sesederhana itu. ...

Kata dan Langkah yang Patah

Harap pun habis Luka kembali hidup seperih kemarin Hari ini kulihat satu per satu huruf mulai lupa Perihal arah yang sekian lama menjadi tujuan Aku lebih memilih kehilangan Sebab senyum menolak tinggal di bibir yang kelu menyebut namamu Dan bahagia tak lagi bersedia menetap lebih lama untuk keyakinan yang terlalu rapuh Kau memang bukan kenyataan Mungkin hanya sekedar imaji Yang membuatku tetap berjalan Dari ragu ke ragu Menuju pintu keberangkatan Bersama kata dan langkah yang patah --Makassar, selepas subuh beranjak

Sebuah Pertanyaan

Image
"Apa seseorang bisa hidup tanpa satu pun harapan yang hidup dalam dadanya?" Sejujurnya itu adalah sesuatu yang sedang kutanyakan kepada diriku sendiri. Dan baru-baru ini, aku menemukan pertanyaan serupa dari seseorang yang tidak kukenal di tumblr. Kupikir, mungkin ia sedang mencoba melepas sedikit saja sesak di hatinya dengan melayangkan pertanyaan teoritis seperti itu. Aku hanya tersenyum sembari menjawab, bisa .  ... Setiap orang memiliki kegelisahannya masing-masing. Keresahan yang entah harus ia bagi kepada siapa-hingga ia memilih untuk mencari jalan asing yang mungkin akan membuatnya tersesat dalam ke-legaan atau kegamangan yang sulit diutarakan. Ia sedang melakukannya. Aku sangat memahami pertanyaannya sebab aku sedang berada di posisinya. Menemukan seseorang dengan keadaan yang hampir sama adalah sesuatu yang istimewa. Seperti yang saat ini sedang berlangsung. Aku mulai mengenal ia dengan seluruh luka yang berusaha ia tutupi dengan beribu huruf ataupun kalimat pel...

Memaknai Hidup

Image
Sejatinya hidup tak pernah betul-betul berakhir. Di dunia kita memang kefanaan namun di akhirat manusia adalah keabadian dengan dua takdir yang saling bertolak belakang. Berada di seburuk-buruk tempat atau justru menetap di sebaik-baik akhir bersama orang-orang pilihan. Seluruh perbuatan kita saat ini adalah rangkaian usaha tuk meraih kebahagiaan tak ternilai harganya atau kesengsaraan berupa siksaan tak berujung. Setiap kita bertanggjawab penuh atas diri masing-masing. Untuk setiap tingkah laku, sikap juga seluruh berbuatan-baik atau pun buruk akan berbuah manis atau justru menjadi sesal paling pedih sebab waktu selamanya tak mampu disuruh berbalik ke masa lalu tuk memperbaiki setumpuk khilaf di dunia. Hari ini adalah kenyataan yang harus dihadapi untuk melangkah menuju masa depan. Setiap keputusan yang kita ambil akan memiliki sebab-akibat di hari kemudian. Ada kalanya kita akan berjumpa dengan kehadiran juga perpisahan. Dan tiap peristiwa tentu akan menawarkan makna. Sem...

Penyesalan Terakhir

Image
Pict source; tumblr Mungkin suatu hari nanti, aku ingin menjadi percaya bahwa apa yang kita jalani saat ini ialah nyata. Tapi sayangnya, semua itu menguap menjadi kepulan-kepulan kecewa dari sesapan kopi pagiku.  Pahit. Persis seperti tegukan terakhir kopi yang habis di sela pilu menyeruak tiba-tiba. Rasanya kata maaf takkan mampu menebus kecewamu. Aku kelu dalam ketidaktahuanku harus bagaimana? Aku terperangkap ketakutanku sendiri. Percaya ialah cara untuk merawat pertemuan yang satu-satu kita jahit dalam kenangan. Dan tetiap kata-kata yang kauberikan kini hanya termuntahkan sia-sia. Lahir menjadi kecewa.  Aku membisu bersama Harap juga angan yang kini menguap. Kenyataan terlanjur berbuah sesal. Ego adalah tokoh antagonis yang bekerjasama dengan waktu-pelan-pelan mencurimu dariku. Seketika sesak menjalari tubuhku.  Aku sadar betul, kita sama-sama ingin merentas jalan yang sama; bermuara di lautan kenangan. Namun, itu dulu. Sebelum kering dimakan ole...

Perihal Menata Hati

Image
Pada akhirnya, ada hati yang harus ditata kembali. Ini bukan sekedar tentang menyembuhkan rasa sakit yang sempat ditorehkan kecewa. Bukan pula soal menenangkan tiap resah. Tapi lebih dari itu.  Menata hati yang mesti adalah merapikan kembali tiap asa yang berserak sepanjang detak-detik penuh kecemasan. Oleh begitu banyak keinginan-keinginan, juga jawaban-jawaban tuk meng-iyakan berbagai kemungkinan baik yang sempat tercipta oleh kesibukan hati berharap. Untuk perasaan yang terlanjur luka. Pada Angan yang melebihi batas. Atas rindu yang terlalu. Dan oleh ekspektasi yang sempat teralamatkan kepada ia, seseorang yang mungkin tak seharusnya dan selayaknya dicinta. Sebab kau tahu betul, tak ada cara mencintai hati yang masih menjadi tuan bagi orang lain, pemilik masa lalu . Tak ada gunanya. Hanya menguras begitu banyak energi hingga lelah pun tiba. Membangunkanmu pada kesadaran yang sempat terlelap. Bahwa mungkin seperti itulah definisi mencintai yang paling salah ....

Memaknai Luka

Image
Luka itu. . . Benturan rasa antara realitas dan harapan yang berbeda rupa.  Semacam resiko besar atas   ekspektasi berlebihan untuk hati yang tidak cukup luas menampung kecewa. Serupa kecelakaan lalu lintas yang terjadi tanpa aba-aba.  Pelajaran berharga yang dikemas dalam bentuk rasa sakit.  Ruang untuk memahami bahwa Tuhan   sedang memberimu tiket gratis, sebuah perjalanan melewati lorong waktu, penuh air mata demi menyampaikan makna untukmu. Dan terakhir, anggap saja ia sebatas “ephemera” atau siklus yang bermain dalam kehidupan. Sesuatu yang pernah menjejak dalam lintas perasaanmu, mencipta lubang menganga, meninggalkan bekas bahwa kau pernah memiliki cerita tentang kepedihan yang terlalu dalam.  Percayalah bahwa manusia memang dirancang untuk terluka sekaligus menyembuhkan dirinya sendiri sampai waktu yang entah.