Posts

Showing posts with the label Writing Project

Writing For Healing Journal

Image
Agustus ini aku menantang diri sendiri untuk menulis selama 30 hari dengan tema-tema yang kuambil dari buku " Heal Your Self; Untukmu yang Pernah Terluka" (Novie Ocktaviane). Anggap saja sebagai penebus dua tantangan menulis sebelumnya yang tak kuselesaikan: gratitude journal (hanya sampai seminggu) dan  Diary Ramadan yang   berhenti di hari ke lima belas.  Sebenarnya aku ragu bisa menulis konsisten sebulan ini, tapi melihat jejak lalu ternyata aku tidak sesulit itu juga untuk komitmen menulis. Tahun lalu misalnya, aku menantang diri sendiri untuk menulis di igs selama 15 hari, selang seling sepanjang Januari dan berhasil. Ramadan 2020 pun, Alhamdulillah, aku bisa menulis selama 30 hari penuh. Nah, kali ini kembali aku mencoba untuk 30 hari menulis—yang sebenarnya (saat ini) hanya ingin kusimpan di draf pribadi, nanti di- apload setelah rampung betul, tapi karena pekan pertama rasanya sudah begitu menyenangkan dan aku yakin bisa lanjut, jadi bismillah ... aku...

Memaknai Hidup

Image
Sejatinya hidup tak pernah betul-betul berakhir. Di dunia kita memang kefanaan namun di akhirat manusia adalah keabadian dengan dua takdir yang saling bertolak belakang. Berada di seburuk-buruk tempat atau justru menetap di sebaik-baik akhir bersama orang-orang pilihan. Seluruh perbuatan kita saat ini adalah rangkaian usaha tuk meraih kebahagiaan tak ternilai harganya atau kesengsaraan berupa siksaan tak berujung. Setiap kita bertanggjawab penuh atas diri masing-masing. Untuk setiap tingkah laku, sikap juga seluruh berbuatan-baik atau pun buruk akan berbuah manis atau justru menjadi sesal paling pedih sebab waktu selamanya tak mampu disuruh berbalik ke masa lalu tuk memperbaiki setumpuk khilaf di dunia. Hari ini adalah kenyataan yang harus dihadapi untuk melangkah menuju masa depan. Setiap keputusan yang kita ambil akan memiliki sebab-akibat di hari kemudian. Ada kalanya kita akan berjumpa dengan kehadiran juga perpisahan. Dan tiap peristiwa tentu akan menawarkan makna. Sem...

Memelihara Kebaikan

Image
Kau selalu bisa memilih jalan kebaikan apa yang harus ditempuh untuk menjadi muslim kaffah . Memilih puas dengan dirimu yang sekarang atau memasuki dimensi baru, sebuah ruangan yang disesaki oleh mereka yang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri dengan mulai menapaki jalan hijrah. Ya, hijrah adalah awal dari permulaan yang baik. Sebuah alur yang mesti kau ikuti dengan susah payah. Seperti keluar dari zona nyaman menuju keterasingan yang menyuguhkan banyak hal baru, serta merta harus diterima-dijalani penuh keikhlasan. Maka setelah hijrah, ada istiqomah yang harus diperjuangkan. Sebab hal baik memang slalu butuh pengorbanan yang tidak main-main. Hijrah mungkin terasa berat namun percayalah, istiqomah jauh lebih sukar. Sebab istiqomah adalah berdiri tegak di atas prinsip hijrahmu-gigih melawan segala bentuk godaan yang akan menggugurkan semangat hijrahmu. Istiqomah berarti kau harus siap menahan diri agar kesalahan juga kelalaian di masa lalu tak lagi terulang. Bahwa...

Titik Balik

Image
Selepas begitu banyak hari penuh keresahan, kini kutemukan kembali diriku seperti hari kemarin; penuh semangat sebelum ada perasaan yang pernah begitu menginginkanya. Aku seolah terlahir kembali. Dengan tekad dan juga sebuah prinsip yang akan kugenggam lebih erat lagi agar tak perlu ada kesalahan masa lalu yang berulang. Cukuplah ia menjadi pembawa pesan tentang melepaskan juga mengikhlaskan dengan sepenuh hati. Aku memilih pergi walau harus dengan pura-pura seolah aku tak peduli lagi akan sgala hal tentangnya. Semoga ia paham jika berjarak menjadi hal yang mesti kutunaikan sebagai sebuah usaha menanggalkan rasaku. Berada di posisi seperti ini tak pernah menjadi perkara mudah, bahkan teramat sukar hingga tangis kerap menjadi ritual yang membersamai sepertiga malamku. Aku kalut dalam rasa penuh dosa. Menangis sesenggukan dengan sesal yang kuharap tak sekedar menjadi pelajaran berharga tapi juga sebagai jalan tuk kembali mendekati-Nya dalam sungguh-sungguh mengharap ...

Kau; Ujian Hidup

Image
Nyatanya, kau masih saja setia bertahta di selasar harapku. Sebagai sosok yang kukagumi dalam harap yang masih abu-abu. Tentang sekumpulan ketidakpastian yang masih saja merantai inginku, juga perihal masa depan yang begitu lancang kuimpian-bersamamu. Ketahuilah, meski dengan hati yang berantakan aku tetap memilih untuk mengubur tiap harapan yang dulu slalu kupelihara dalam doaku. Sebab aku sungguh-sungguh ingin menghapus namamu dari sesuatu yang pernah begitu istimewa. Namun, tak kusangka akan sesukar ini. Kau tak tahu betapa sulit menganggapmu sama seperti orang lain. Sedang kau? terlihat baik-baik saja. Bagaimana bisa kau begitu lihai melakoni pura-pura yang begitu nyata seperti itu? Tak bisakah kau menolongku? Ajari aku menatap matamu dengan degup jantung yang normal. Ajari aku agar di dekatmu bisa terasa biasa saja. Tapi kata orang, bukan cinta jika tak seperti itu. Entahlah… Antara ingin bersitatap j...

Teruntuk Kamu; sesal yang tumbuh di halaman masa lalu

Image
Hari ini kau akan kehilangan seluruh hal tentangku. Kala tulisan-tulisan yang pernah berisi namamu tak bisa lagi kau temui di mana pun. Bahkan di atas kertas sekalipun; tempat yang sebelumnya selalu rutin kusinggahi tuk sekedar menampung rajutan kataku. Pun, linimasa maya milikku juga takkan sudi lagi dititipi beragam prosa merapuhkan yang seluruhnya hanya tentangmu. Percayalah, aku betul-betul berhasil menghapusmu dari angan, harapan, juga mimpi yang sempat kutangisi berulang kali. Semoga kau paham jika perempuan selalu memiliki caranya sendiri untuk memulihkan diri dari setiap luka yang menggerogoti hatinya. Dan untukku, merutinkan doa dan usaha yang sungguh-sungguh adalah satu paket yang tengah kuperjuangkan kini. Mengapa? Aku hanya takut jika Tuhan menghabisi usiaku dengan hati yang penuh noktah, dosa perasaan karena khilaf pernah mencintaimu dengan cara yang salah. Kau mungkin saja orang yang tepat namun karena waktu yang belum saatnya, memb...

Sebuah Pilihan

Image
Aku pernah berada di titik paling genting tentang hidupku yang sepertinya sedang berjalan menjauhi titik kebaikan. Kala itu keresahan menjadi makanan sehari-hariku. Atas sebuah pilihan yang berhasil melahirkan dilema panjang. Antara kebaikan dan keburukan yang entah di mana sekat antara keduanya. Sebenarnya aku hanya merencanakan sesuatu yang baik tapi nyatanya yang kulakukan justru tercemar oleh banyak hal tidak baik, meski tujuannya masih baik. Ahh... agak sulit tuk membahasakannya, sebab terlalu banyak kontradiksi yang bermain dan aku pun masih kesulitan membahasakannnya. Sebut saja, saat itu adalah fase yang lumayan krisis dimana aku mulai hilang kendali menyikapi pergaulan sehari-hari atau setiap interaksi dalam ranah kampus. Sebab menuntut ilmu, ujiannya memang berat, apalagi untuk perempuan sepertiku yang berada di lingkungan tak sekondusif sebelumnya (read; dulu waktu hidup berasrama tanpa ada yang namanya ikhtilat ). Paling ringkasnya begini; aku nyaris lupa akan p...