Posts

Showing posts with the label Jurnal Ramadan

10 Terakhir Ramadan

Image
Ibnul Jauzy rahimahullah berkata:   ‏الليالي والأيام الفاضلة لا يصلح للمريد أن يغفل عنهنّ، لأنه إذا غفل التاجر عن موسم الربح فمتى يربح.   “Malam-malam dan hari-hari yang memiliki keutamaan yang tidak pantas bagi orang yang ingin meraih keutamaan untuk melalaikannya.”   10 Hari terakhir ramadan, momentum paling sakral. Detik-detik yang amat berharga. Di dalamnya terdapat waktu yang sangat istimewa. “Malam seribu bulan” demikian sabda-Nya dalam kalam mulia.  Lantas, tidak tergiurkah kita memberikan ibadah terbaik pada malam-malam terakhir bulan mulia ini? Jika satu malam berharga ini hanya ada sekali di antara ribuan hari, masihkah kita akan melewatkannya begitu saja? Tak ada jaminan jika tahun depan kita masih berjumpa bulan yang penuh berkah ini. Menjadi kandidat peraih malam lailatul qadar adalah seluas-luas kesempatan meraih ampunan-Nya, juga saat terbaik tuk melangitkan ragam permohonan di detik-detik waktu mustajabnya doa. Jangan sampai kita ...

Pertemuan yang Menguji

Image
Di balik sebuah pilihan tentu selalu ada hal yang dikorbankan; sebuah konsekuensi dari keputusan yang kita ambil. Seperti di momen ramadan kali ini, salah satu pilihan yang kadang membuat dilema adalah saat banyaknya ajakan bukber (buka bersama) baik dari teman alumni satu sekolah, teman seorganisasi, teman kuliah hingga ajakan bukber dari keluarga dekat. Sungguh, sebuah kesempatan baik untuk menyambung tali silaturahmi sekaligus menjadi ujian. Sebab kadang, sebuah pertemuan memang mendatangkan kebaikan namun hal-hal tidak baik pun turut membersamainya. Bahasa sederhananya; bisajadi kita malah mencari pahala di sela-sela dosa. Kemarin salah seorang teman saya curhat tentang pengalamannya saat mengikuti sebuah acara bukber dan penggalangan donasi untuk Palestina. Singkat cerita, ia mengaku merasa sangat bahagia bisa mengikuti sebuah project amal namun ada perasaan bersalah yang mengusik batinnya. Ia sadar jika kebaikan yang ia upayakan ternyata malah menjadi ujian yang menggoya...

Memilih Bacaan

Image
"Jika telah datang malam pertama di bulan ramadan maka setan-setan dan jin yang jahat akan dirantai, pintu-pintu neraka akan ditutup dan tidak akan terbuka baginya satu pintu pun, pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak akan tertutup darinya satu pintu pun, dan seseorang penyeru akan menyerukan “Wahai para pencari kebaikan bersegeralah (menuju kebaikan) wahai para pencari keburukan, (berhentilah dari keburukan), Allah membebaskan (seorang hamba) dari api neraka pada setiap malam di bulan ramadan).” --HR.Tirmidzi Ketika bulan ramadan menuntut agar membatasi bacaan (di luar Alquran) sebab singkatnya durasi waktu bulan mulia ini membuat saya betul-betul harus lebih bijak lagi memanage waktu. Saya sadar jika membaca tentu membutuhkan banyak waktu sedangkan ramadan terlalu berharga jika dilalui dengan bacaan yang tidak memberi manfaat atau mungkin hanya sebatas hiburan. Jika yang lalu-lalu saya biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menamatkan sebuah buku maka bulan ini ...

Mencintai Al-Qur'an

Image
Sekiranya hatimu bersih, niscaya kamu tidak akan kenyang (bosan) dengan firman Tuhanmu. (Utsman Bin Affan R.A) Sudahkah kita mengkhatamkan Al-Qur'an? Sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan dalam-dalam. Bahwa ramadan adalah bulan Al-Qur'an; momen terbaik untuk kembali meresapi ayat-ayat-Nya, mempelajari dan mentadabburi isinya, hingga mengkhatamkannya berkali-kali. Lantas, sudah sejauh manakah interaksi kita dengan Al-Qur'an?  Jika waktu kita masih terisi oleh banyak kesibukan-kesibukan yang melalaikan diri dari membacanya, maka tanyakan kembali "apakah kita betul-betul mencintai Al-Qur'an? " Sebab jika kita mencintainya tentu kita akan meluangkan waktu untuk slalu bersamanya, sesibuk apapun kita. Bukankah "cinta" adalah alasan dari banyak sebab termasuk: mengapa seseorang sulit meninggalkan sesuatu? Jawabannya; karena cinta. Demikian dengan Al-Qur'an, jika kita mengaku mencintainya maka buktikan dengan selalu mengisi detik-detik ...

Introspeksi Ramadan

Image
"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan dengan keimanan dan niat yang baik, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ." (HR. Bukhari) Sepuluh hari ramadan berlalu, beberapa pertanyaan mulai mendesak tuk direnungkan dalam-dalam.  Apa kabar ibadahku? Sudah maksimal kah? Ah, rasanya belum cukup maksimal.  Di sepertiga malamku masih kurang dengan sujud-sujud dan doa-doa panjang. Tilawahku tidak sebanyak di awal ramadan, bahkan lajunya kian melambat. Dzikir pagi dan petang kadang tidak utuh juga jumlah rakaat salat dhuha yang masih begitu-begitu saja. Ibadah-ibadah lain pun rasanya masih sangat jauh dari kata efektif. Sungguh, betapa banyak waktu berlalu namun  aku masih penuh dengan penundaan hingga prioritas harian sering tak berjalan sesuai harapan. Seketika aku merasa ditikam oleh penyesalan akan detik-detik yang kubiarkan berlalu dalam kelalaian.  Adakah ramadan selanjutnya masih kujumpai?  Sebuah pertanyaan misterius untuk me...

Dear Jomblo

Image
"Jom(b)lo itu pilihan"  demikian kalimat pembelaan mereka yang merasa tidak nyaman atau mungkin kurang sepakat jika jomblo sering disandingkan dengan kata-kata kurang mengenakkan seperti;  tidak laku, fakir asmara, kesepian, kosong  dan sejumlah statement negatif yang men judge bahwa jomblo memang bukan sesuatu yang baik. Kadang, saya pun tidak mengerti dengan sejumlah meme komik yang membuli para jomblo. Pun di setiap acara kumpul-kumpul khususnya jika di pesta pernikahan mereka yang masih jomblo kerapkali dijadikan sasaran kalimat;  ciee yang jomblo... atau, kapan nyusul-etc... Semenyedihkan itukah seorang jomblo?  Jomblo itu pilihan,  sepenuhnya saya pun menyepakati kalimat ini. Bahwa menjadi jomblo tidak hanya pilihan tapi juga bagian dari prinsip hidup. Ya, saya termasuk seseorang yang menolak tegas aktivitas pacaran sebelum pernikahan. Bukan semata-mata karena pacaran memang tidak ada dalam syariat islam, lebih dari itu saya terlanjur sepak...

Pemaksaan

Image
Beberapa hal hanya bisa terwujud jika ada pemaksaan. Kata “paksa” tidak selalu berkonotasi dengan sesuatu yang tidak baik. Seperti dalam memulai sebuah habit pun kadang harus diawali dengan pemaksaan diri sebelum akhirnya betul-betul terbiasa hingga tidak akan ada lagi perasaan berat ataupun sulit seperti saat pertama kali; sebab masih ada unsur paksaan. Pun demikian, saat berhadapan dengan hal-hal yang nampak sangat sulit atau bahkan mustahil tuk terwujud, namun nyatanya kita bisa tetap berhasil berkat adanya pemaksaan. Sebuah pemaksaan baik; memaksa diri melawan seluruh ketidakberdayaan, rasa takut, ragu, pesimis hingga memaksakan diri tuk melampau batas kesanggupan itu sendiri. Kadang kita melihat sesuatu terlampau sulit tuk digapai, namun karena ada tekad dibarengi pemaksaan membuat kita mati-matian memperjuangkannya, hingga kita pun mungkin takkan menyangka jika hal besar tersebut (yang sebelumnya kita pun ragu akan kemampuan kita sendiri), nyatanya berhasil juga kita takluk...

Perempuan yang Masih Sendiri

Image
Aku masih sendiri sebab aku ingin eseorang yang kelak menjadi penggenapku mendapatkan yang terbaik. Seseorang yang akan kuberikan seluruh kasih sayang, juga cinta yang utuh. Cinta yang sekian lama kupelihara sepanjang kesendirianku. Cinta yang belum pernah terucap kepada laki-laki selain ia. Sebab kesendirianku selama ini adalah sebuah usaha menyusun sebaik-baik masa depan. Aku hanya sedang berusaha memperbaiki, juga memantaskan diri karena kelak, darikulah akan lahir generasi yang siap berdiri di barisan terdepan membela dan memperjuangkan agama-Nya. Menjadi sebaik-baik hamba, pun setaat-taat anak kepada kedua orang tuanya. Kesendirianku saat ini tidak lain agar nanti, ia adalah seseorang yang pertamakali merasakan sesuatu yang selama ini mati-matian kujaga. Percayalah, aku hanya ingin menggenggam tangannya sebagai tangan laki-laki pertamakali. Aku menjaga hati, juga diriku sepenuhnya untuk ia seorang. Karena kesendirianku adalah alasan paling tepat untuk menjaga diri. Kau t...

Drama Perempuan

Saya sering menjadi pendengar curhatan-curhatan beberapa teman perempuan dengan problem yang hampir sama. Di tiap cerita saya selalu saja disuguhi pertanyaan berulang: Bagaimana cara move on cepat atau bagaimana melepaskan diri dari zona pertemanan, zona adik-kakak, Hts-etc, yang ternyata berujung php?  Betul-betul sederet drama perempuan. Terjebak dengan keadaan yang tanpa sadar membuatnya nyaman namun pelan-pelan malah melukai dirinya sendiri. Berulangkali ingin membebaskan diri namun slalu saja gagal sebab makhluk pecicilan bernama hati terlalu susah diajak kompromi. Namanya perempuan, perasaan memang slalu mendominasi dibanding logika. Betul, mengatasi perasaan sendiri adalah hal yang sukar untuk seorang perempuan. It’s okay, but... jangan mengabaikan logika dengan dalih belum mampu menaklukkan hati. Plisss... Tangguhlah melawan perasaan sendiri. Jangan berlarut-larut dalam urusan yang hanya menguras energi, air mata (mungkin) namun tak memberikan apa-apa selain kecewa dan rasa...

Membatasi Diri

Image
“Ramadan adalah saat untuk sejenak menjadi emas, diam di tengah-tengah keramaian sekalipun banyak hal yang menarik untuk dikomentari. Untuk tak menghabiskan waktu dalam adu pendapat yang kita tak benar-benar mengerti. Untuk tak mudah membagikan sesuatu sebelum benar-benar yakin keabsahannya.” –Taufik Aulia Ramadan kedua bersama perasaan was-was tentang waktu yang kadang dilalaikan dengan urusan yang tidak begitu penting. Meski sudah berusaha semaksimal mungkin, mengupayakan agar waktu hanya terisi hal-hal baik, tetap saja yang namanya manusia slalu khilaf perihal waktu. Salah satu yang sangat sulit dimanage dengan bijak, apalagi jika sudah dihadapkan dengan sang pencuri Ramadan; Tv, hp, sosmed, etc... Sebagai seorang yang merasa internet adalah sebuah kebutuhan, jujur saya sangat sulit jika sehari saja tanpa terkoneksi dengan dunia maya, meskipun di beberapa waktu saya harus menjadi seseorang yang tiba-tiba menghilang total dari semua akun sosmed (tapi ini hanya di moment tertent...