Posts

Showing posts from April, 2022

Dinding

Image
Barusan membaca kalimat ini: "kamu dan masa depanmu, ditentukan dengan lima orang terdekat dalam hidupmu." Dalam hati saya bertanya; siapa lima orang itu? Jujur saja, saya tidak bisa menyebut satu pun nama. Apa saya memang tidak cukup dekat dengan siapa-siapa? Pertanyaan yang cukup menggelitik, membuat saya berpikir sekaligus mencari banyak alasan. Mungkin saya terlalu gigih membuat jarak dengan orang-orang di sekitar saya. Mungkin saya sudah terlalu kecewa dengan beberapa orang yang pernah dekat. Mungkin, tanpa sadar saya teramat takut tuk dilukai. Mungkin saya hanya mencoba menghindari sakitnya kedekatan yang harus selesai. Mungkin saya sedang menjaga diri dari keterikatan dengan seseorang. Mungkin saya semakin sulit percaya kepada orang-orang. Mungkin bibir saya terlalu kelu tuk berbagi cerita, terlalu sungkan membebankan orang lain sebagai pendengar. Mungkin saya tak sudi lagi berharap kepada manusia, atau saya memang tidak pandai menjadi makhluk sosial yang baik ... ent...

Agar Tidak Menjadi Munusia Penuh Penyesalan

Tulisan kali ini semacam summary dari salah satu ceramah Ustaz Hanan Attaki. Karena manusia memang sangat rentan menyesalkan sesuatu, maka coba lakukan dua poin berikut agar kita tidak termasuk orang yang kelak penuh penyesalan, menangisi kehidupannya dan berandai-andai sebab menyesalkan begitu banyak kebaikan yang sudah dilewatkan. 1. Muhasabah Muhasabah alias evaluasi diri, menghitung-hitung kesalahan kita lalu kemudian: 2. Mu'aqabah Yaitu mengganti kesalahan-kesalahan tersebut dengan banyak kebaikan atau amalan-amalan lain. Ini semacam penebusan, semisal setelah muhasabah kita tersadar; Oh, kemarin saya lalai, menyia-nyiakan waktu hingga tilawah saya tidak seberapa, hari ini harusnya saya membaca lebih banyak, dua kali lipat bila perlu. Sesederhana itu tapi pekerjaannya tidak bisa dibilang ringan juga sebenarnya. Mumpung Ramadan dan kita semua mengejar predikat takwa, coba kita perhatikan kembali amalan kita, evaluasi lagi, sebab (entah kata sahabat atau ulama yang mana) : hisa...

Tiga Hari, Tiga Simpulan

Ada banyak sekali kejutan tahun ini. Dari Januari, hingga April; Ramadan yang tidak pernah kusangka akan seperti ini. Ada perkenalan, pengalaman, hingga kenangan yang hanya sekali seumur hidup. Seluruhnya betul-betul lautan ilmu yang memperkaya pemahaman hidup.  Bahwa kita terus bertumbuh jika tak pernah berhenti belajar. K ita semakin dewasa oleh penerimaan kita akan perbedaan; sebab setiap manusia unik dan berbeda adalah hal wajar yang tidak perlu sampai membuat perpecahan.  Kita akan menjadi sosok bijaksana dengan ilmu-ilmu yang berhasil kita amalkan, yang tercermin dari laku dan tutur kita yang santun. -Hari ketiga belas-

April

di tengah jalan yang ganjil, kau mencari. pembenaran dari segala duga. jawaban untuk segala tanya.  sekali ini saja. kau ingin jujur;  ada yang tidak beres dari malam tanpa lelap dan siang yang kehilangan senyum. tapi waktu tidak pernah berada di pihakmu. kesempatanmu habis. berakhir dengan seluruh yang tak mampu kau pahami.   semua memang sementara.  sebab kadang, setiap yang berkesan harus sudah. selesai. - Hari kedua belas-

Berhenti atau Lanjut?

Saat kau merasa kesanggupanmu sudah habis, merasa kalah, tak lagi mampu melalui semuanya, coba tanya baik-baik hatimu:  " Bukankah kau sudah pernah melewati sesuatu yang lebih berat dari ini? Bukankah sudah berkali-kali kau bertahan dan terus bertahan sebelumnya? "  Sekarang, coba ingat kembali semua masa paling pedih di balik tahun yang sudah.  Tentu ada banyak saat-saat sulit ketika kau berpikir tak mungkin lagi melaluinya. Namun ternyata kau tidak semudah itu dikalahkan keadaan. Kau kuat lebih dari yang bisa kau bayangkan. Kau selalu memilih tetap berdiri, menahan perih, membungkam kalimat-kalimat putus asa dari sisi paling rapuhmu.  " Tidak masalah jika sekali lagi kau harus bertahan habis-habisan ." Ujar sosok paling bijak dari pikiranmu. Tidak apa-apa merasa tidak baik-baik saja. Sebab akan selalu ada energi tuk kembali berjuang selepas seluruh penat menerobos batas pertahananmu. Istirahatlah, untuk esok yang masih harus terisi hal-hal baik. -Hari kesebelas-

Tetap Beribadah walaupun Rebahan

Nyatanya kita memang bisa sambil rebahan dan terhitung ibadah. Karena terus-menerus beramal, (tilawah misalnya) tetap saja membuat kita butuh jeda sejenak, istirahat untuk kemudian melakukan ibadah yang lain. Lalu, ibadah apa yang bisa kita lakukan sambil rebahan? Yang sesantai itu memang tapi menghasilkan pahala, bahkan timbangan kebaikannya sangat berat, iya apaan coba? Subhanallahi wa bihamdi, subhanallahil azhim… cukup ucapkan dua kalimat ini maka sungguh kita sudah melakukan seringan-ringan dzikir namun akan sangat berat timbangan kebaikannya. Dua kalimat yang begitu pendek, yang bahkan hanya memerlukan beberapa detik namun ternyata pahalanya begitu dahsyat. Ibadah ini sangat cocok untuk kita lakukan saat sedang lelah-lelahnya atau pun mungkin lagi malas-malasnya (iya, ini hanya butuh menggerakkan lisan. Sederhana tapi mungkin kita masih sering melalaikannya) Dan tidak hanya itu ternyata, ada lagi yang bisa kita lakukan sambil rebahan; repost kebaikan. Ini mudah dan tidak butuh w...

Ramadan yang Produktif

Satu malam sebelum tidur, (saya menganggapnya semacam pertanda) saya mengecek email, hal yang terhitung sangat jarang saya lakukan dalam keadaan mengantuk. Sebuah surel yang akhirnya sempat terbaca kemudian menggerakkan saya untuk kembali mengevaluasi diri. Diri yang tak habis-habisnya dipenuhi salah tiap harinya. Diri yang seringkali kesulitan menjaga hati dari niat yang keliru. Ah, betapa kita selalu butuh untuk selalu menelisik kedalaman hati agar yang bengkok segera bisa diluruskan dan yang salah bisa diperbaiki. Email tersebut tidak lain adalah Monday Love Letter , Mba Novie yang membahas tentang produktivitas.  Bahwa produktivitas adalah barang mahal. Bukan kah kadang kita sudah menyusun sederet rencana dan segala macam target agar bisa seproduktif mungkin, namun tiba-tiba saja semua menjadi berantakan? Entah karena keadaan diri yang sakit atau alasan lainnya. Begitulah, produktivitas memang takkan terwujud tanpa izin-Nya. Iya, kembali saya diingatkan tentang segala hal yang ...

Menakar Harapan

" Banyak memberi dan berharaplah sedikit ." Kubaca ulang kalimat dalam sebuah novel dari penulis favoritku. Tiba-tiba aku berpikir tentang banyak hal di masa lalu yang membuat patah sebab terlalu banyak harapan yang akhirnya menghadirkan kecewa. Menyakitkan memang, sebab kesudahan harapan adalah hak sang Maha penentu takdir manusia. Kita manusia hanya mengupayakan sebaik yang dimampu dan tidak semestinya menyandarkan seluruh harapan kepada selain-Nya. Harapan, kunci-kunci pembuka kecewa. Dan kita, entah kenapa tidak pernah jera untuk terus berharap. Sebab katanya, untuk apa hidup tanpa harapan? Bukankah harapan adalah bahan bakar untuk menjalani hidup ? Ah, entahlah. Harapan bisa menjadi begitu kompleks ternyata. Tapi, betul sekali kalimat tadi, “ berharaplah sedikit ” memberi yang banyak.  Jika harapan seringkali mengantar pada kecewa mengapa kita tak memperbanyak memberi saja dibanding berharap? Sebab memberi sejatinya akan membuat kita bertambah, bukan? -Hari kedelapan-

Privilege Jika Dicintai oleh-Nya

“Kau tahu, nikmat yang hanya diberikan kepada orang-orang yang dicintai Allah? Bukan dunia sayang, sebab jika pun dunia memiliki nilai walau seberat sebelah sayap nyamuk, maka Allah takkan memberikannya kepada orang-orang tidak beriman.  Lantas, apa? Hati yang selalu bersyukur dan lisan yang senantiasa berdzikir mengingat-Nya.” Demikian, yang kutangkap dari mendengar ceramah UHA (Ust. Hanan Attaki). -Hari ketujuh-

Fatamorgana

Sudah menjadi lumrah kehidupan di dunia Cabaran dan dugaan mendewasakan usia Rintangan dilalui tambah pengalaman diri Sudah sunnah ketetapan Ilahi Deras arus dunia menghanyutkan yang terleka Indah fatamorgana melalaikan menipu daya Dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi Tiada sudahnya dunia yang dicari Begitu indah dunia siapa pun kan tergoda Harta, pangkat dan wanita melemahkan jiwa Tanpa iman dalam hati kita kan dikuasai Syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi Pulanglah kepada Tuhan cahaya kehidupan Keimanan ketakwaan kepadanya senjata utama Sabar menempuh jalan tetapkan iman di hati Yakinkan janji Tuhan syurga yang sedia menanti Imanlah penyelamat dunia penuh pancaroba Hidup akhirat kita kekal bahagia Imanlah penyelamat dunia penuh pancaroba Hidup akhirat kita kekal bahagia (Hijjaz, "Fatamorgana", nasyid legend yang liriknya ternyata cukup dalam tuk dimaknai) Saat ujian hadir seperti menyedot seluruh kemampuanmu untuk bertahan, menangis menjadi ritual pelepasan ...

Melepas Keterikatan pada Dunia yang Sementara

" Penderitaan merupakan petunjuk ke arah keadaan terikat kita. Keterikatan semu kita berada pada sesuatu yang membuat kita menangis, yang menimbulkan rasa sakit paling besar. Pada hal-hal itulah kita mengikatkan diri, padahal seharusnya kita hanya mengikatkan diri pada Allah. " [Hal.7] Disclaimer : tulisan ini adalah sebuah review singkat sehabis membaca ulang "Reclaim your Heart" yang ditulis Yasmin Mogahed. Salah satu buku bertema self help islami yang membantu saya melewati saat "tidak baik-baik saja" dalam hidup. Bagi saya, buku yang telah menjadi perantara bagi begitu banyak kesadaran yang akhirnya membuat saya merenung, menyelami perasaan paling gelap yang selama ini berusaha saya sangkal. Memang tidak ada karya sempurna, tapi buku ini bisa membantu siapa pun yang ingin melihat gambaran hubungan antar manusia dan kehidupan dengan segala kompleksitasnya dengan sederhana. Saya anggap sederhana sebab penulis selalu mampu mengambil contoh yang tak perlu...

Sampai Kematian Menyudahi

Kemarin saya tidak sempat update tulisan, padahal sebenarnya sudah ada draf sejak sebelum tidur. Karena memang "Diary Ramadan" ini sejak awal memang dijadwalkan akan rilis setiap habis isya, ketika target tilawah terpenuhi. Masalahnya, kemarin saya tidur pukul sebelas lewat, bangun 02:00 lantas tidak sempat kailulah (tidur qabla zuhur sekitar sejam) karena saya harus ke perpus dan pulangnya sore. Waktu mepet hanya untuk mandi dan menyiapkan menu berbuka. Habis magrib masih berjuang mengejar target hingga lepas isya: langsung mendarat di kasur (berhubung mata sudah memberontak minta lelap). Makan malam pun terlewat karena tidur tentu lebih mendesak. Saya terbangun dua kali dan menyadari .... saya belum sempat menulis Diary Ramadan . Utang satu hari. (Sekian edisi curcol tidak penting tapi cukup melegakan untuk saya) Lalu mari kembali pada judul tulisan ini. Tentang kematian yang lagi-lagi menyentak kesadaran saya. Kabar duka yang membuat saya tertegun lama sebelum akhirnya j...

Tips Agar Istiqamah

Istiqamah memang berat. Konsisten melakukan kebaikan bisa sedemikian sulit karena manusia (saya pribadi) bisa goyah dan memang naik turun iman kadang tidak teratasi hingga istiqamah bisa drop di tengah jalan. Lalu bagaimana agar istiqamah? Sebagai seseorang yang belum maksimal melakukan usaha-usaha untuk istiqamah, yang tahu dan ada ilmu tapi pengamalan masih nihil, maka biarkan saya me -review kembali cara-cara agar kita bisa istiqamah: (dinukil dari salah satu ceramah ustaz Adi Hidayat). 1. Pelajari ilmunya: cari hadits, ayat, petunjuk/tata cara dalam pelaksanaan ibadah. Ingat, ilmu akan menjaga kita melakukan ibadah dengan benar. 2. Catat/kumpulkan motivasinya. Ini sangat membantu kita saat iman kita melemah. Misal: tulis keutamaan tahajjud dan tempel di tempat yang mudah terlihat. Nah, ini saya belum mengamalkan. Tapi memang sangat ampuh menurut pengalaman lalu. Saya ketika masih santri sampai sekarang paling ingat tentang keutamaan dua rakaat sebelum subuh dan membaca Al-Kahfi ma...

Sekolah Pertama

Disclaimer : Tulisan ini ke- trigger  setelah membaca salah satu cuitan di Twitter, kenapa seorang ibu lebih memilih menyekolahkan anaknya di swasta dibanding negeri. (bisa dibaca di sini ). Tulisan ini tidak terstruktur, dan mungkin akan melompat-lompat. Maklum, saya hanya sekadar berusaha menuangkan apa yang melintas di pikiran saya tanpa sempat berpikir soal keefektifan kalimat sebagaimana sebaiknya sebuah tulisan disusun. Tulisan ini sebenarnya lebih ke curhatan berdasar pengalaman dan pengamatan pribadi yang tentu bersifat subjektif. Dan lagi, saya menulis ini karena saya sepenuhnya sepakat bahwa pendidikan seorang anak dimulai dari rumah. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka seorang ibu seharusnya memiliki ilmu parenting yang mumpuni sebelum memutuskan menjadi seorang ibu. Jelas, peran ibu bukanlah tanggungjawab yang ringan. Konsekuensi menjadi orang tua adalah tantangan besar, khususnya ibu. Ibu, yang bahkan disebut tiga kali dalam sebuah hadis sebelum ayah dal...

Persiapan Adalah Kunci

Belajar dari pengalaman sebulan terakhir yang setiap malam Ahad dikejar deadline , asli bikin uring-uringan; tiga jam (sebenarnya dua jam) sebelum submit tugas baru buka modul, riset tipis-tipis, menentukan topik, hingga baru nge-instal wps, nulis seadanya, bingung dengan fiturnya, drama yang berujung bodo amat yang tidak pada tempatnya. Lalu perbedaan zona waktu menjadi begitu indah. Sama dengan Ramadan, semua butuh persiapan yang mumpuni biar hasilnya maksimal. Tamu ini cuman datang sekali loh setahun, harus dijamu dengan sebaik-baiknya supaya meninggalkan kesan terbaik. Persiapan versiku: ngulik materi seputar Ramadan (baca buku, ikut kajian daring, catat poin pentingnya) nge- print jurnal, checklist harian, membuat daftar doa, nyusun strategi kejar khatam sesuai target, nulis daftar forbidden things, dst.  Karena puasa adalah menahan, maka Ramadan adalah medan ujian yang menantang: tidak sekadar menahan haus dan lapar, tapi juga sederet menahan lainnya. Sejauh ini yang terber...