Posts

Showing posts with the label Random Thoughts

Ingatan yang Melintas Sebelum Tidur

Image
Saya akhirnya memutuskan menulis ketika sudah 30 menit lebih usaha agar tidur tepat waktu gagal. Seperti biasa, ada banyak yang riuh dalam kepala. Memetakannya satu per satu lewat kata-kata adalah cara agar mendapatkan kelegaan. Bagaiamana pun, bagiku—menulis adalah media terbaik untuk katarsis. Medium yang kupilih tuk mengenal dan menemukan diriku sendiri. Saya teringat kalimat seseorang di salah satu platform menulis, (katanya) kurang lebih begini—karena lupa bagaimana redaksi katanya saya menulis apa yang ingatan saya tangkap— kita mengenang agar tidak menghianati masa lalu. Maka ketika kesadaran saya tak kunjung pergi malam ini, saya membiarkan kenangan menerobos masuk, bernostalgia panjang dalam kesunyian yang mengalirkan air mata. Entah kesedihan yang jatuh, penyesalan, atau ketidakmampuan memahami ingatan-ingatan yang datang menyerbu. Ingatan itu memang unik, ada banyak, tapi kita tak bisa memilih, mana yang akan tanggal dan yang tinggal. Meskipun saya cukup sering m...

Januari dan beberapa hal setelahnya

Image
Selepas sore yang mengantuk dan sedikit pusing menunggu waktu berbuka, kuhabiskan waktu dengan blog walking. Mencoba menemukan kembali kesenangan lama yang entah sejak kapan tak lagi menjadi rutinitas. Maklum, dulu sekali, ada masa ketika tiap hari selalu kusempatkan diri membaca tulisan teman blogger, yang hari ini semakin sunyi saja—tak ada lagi saling mengunjungi dan membalas komentar, bahkan aku pun merasa tak butuh lagi mengaktifkan kolom komen. Ehm ... tiba-tiba jadi ruang nostalgia. Gara-gara membaca beberapa blog tadi (yang sekian lama ditinggal pemiliknya, entah karena sudah pindah rumah atau faktor kesibukan hingga tulisannya berhenti di satu titik), aku tergerak menulis sesuatu—tulisan yang saat ini kuketik, yang masih tak tahu akan ke mana—tapi sudah diberi judul yang sengaja kutulis pertama untuk mengawali,  what's on my mind ? Sebab ada banyak hal yang sering datang di sela-sela rutinitas harian, pikiran acak yang sayangnya tak selalu bisa kutulis meski begitu ingin. ...

26 hal yang kutulis dari siang sampai sore hari ini

Image
1. Jangan terlalu sering mengunjungi masa lalu. Tidak apa-apa sesekali menengok ke belakang untuk berefleksi, tapi jangan lama-lama, berbahaya. Lebih baik fokus melihat ke depan. Susun rencana, hati-hati melangkah. Masih banyak hal yang bisa diusahakan, masih ada bagian-bagian yang perlu dibenahi, masih banyak kesempatan yang layak diperjuangan. Masa depan itu masih suci, jaga ia sebaik-baiknya.  2. Biasakan untuk lebih sering bilang Alhamdulillah —bersyukur setiap saat, untuk hal-hal kecil sekali pun.  3. Jangan berhenti belajar. Ilmu-Nya begitu luas, takkan cukup usia untuk mencicipi semuanya. Belajar setiap hari, dari mana pun, dari siapa pun.  4. Mulai sekarang juga—apa pun itu yang ingin kau kerjakan. Bergegaslah, jangan menunda. Jika tidak bergerak, kau tidak akan ke mana-mana. 5. Daripada berusaha mengesankan orang-orang lebih baik mulailah melakukan apa saja yang akan membuatmu terkesan dan bangga dengan diri sendiri.  6. Tulis semuanya di atas ke...

Menulis adalah menjaga kewarasan

Kata-kata yang ditulis bisa jadi untuk menguatkan diri sendiri, menjadi sebentuk perlawanan juga pembelaan harga diri, dan sebuah cara tuk membebaskan segala hal yang sulit dibicarakan. Sebab terkadang, keterusterangan yang dilontarkan lewat lisan, dengan emosi yang tak terbendung akan menjauhkan seseorang dari kehati-hatian memilih kata, dan seringnya akan keluar kalimat, yang meskipun benar tapi karena penyampaiannya yang kurang santun, maka tidak bisa jika tidak menyakiti siapapun yang mendengarnya. Kejujuran kadang memang pahit dikatakan, namun menuliskan semuanya dengan penuh kelembutan dan pengertian serta kehati-hatian agar tak salah memilih diksi tentu saja akan membuatnya lebih mudah diterima dan memperkecil kemungkinan timbulnya luka (tentu saja lebih baik dihindari).  Jadi, meski lebih sulit, kau tetap memilih menuliskan seluruh keresahanmu dan kau akan tetap dalam diammu yang tenang hingga emosi beserta kata-kata kasar cukup dikunci dalam benak. Kau tak ingin melemparka...

Igauan: Apa yang Kupikirkan Saat Terjaga Pukul Dua Dini Hari

Image
Mungkin orang-orang di sekitarmu memandangmu sebagai bagian dari kegagalan. Seseorang yang telah memenuhi seluruh kriteria tuk dijadikan sasaran empuk bagi sederet pertanyaan menyebalkan  miskin empati. Kapan ini, kapan itu? Kenapa kau begitu terlambat? (dalam segala hal; entah soal jodoh, karir, studi, ataupun pencapaian lain yang kebanyakan orang di usiamu sudah jauh melewati masa itu). Daripada menceracau panjang lebar tentang beragam benturan dan hambatan yang sudah memenuhi jalanmu (karena rute perjalanan hidup setiap orang beda-beda; ada yang semulus tol, ada pula yang berliku, curam, penuh lubang dan tanjakan tajam), rasanya akan lebih baik jika menjawab seadanya, sepaket senyum ramah dan pura-pura santai. Karena terkadang, percuma saja membela diri dengan segala alasan dan argumen yang ujung-ujungnya malah disalahpahami. Kau tahu betul, ada banyak tipe manusia yang cenderung hanya mampu melihat kelemahan terbesar orang lain lantas menghakimi berdasar sudut pandangnya yang ...

Agustus dan Rencana-rencana yang Tertinggal

Agustus kembali—bulan yang akan selalu mengingatkanku dengan usia yang segera beranjak, berganti umur baru. Seperti angka yang tanggal pada almanak tahun, usia yang pergi tak akan pernah kembali, menyisakan setumpuk kenangan, penyesalan dan rencana-rencana yang tertinggal di belakang. Sungguh, waktu terus berjalan, pandemi masih bertahan dan entah sampai kapan. Tiga tahun terakhir yang berat bagiku, saat-saat yang tidak membawaku pada harapan apa pun, tanpa sesuatu yang terasa berarti—atau aku yang belum cukup dalam menggali sebuah makna. Pergantian tahun tak lebih dari fase yang semestinya berlalu, tidak peduli bagaimana isinya sebab bertahan saja mungkin sudah menjadi satu-satunya tujuan di hadapan segala keterbatasan dan ketidakpastian keadaan. Bisa tetap waras, masih diberi kesehatan dan sedikit kesadaran rasanya sudah sangat bersyukur, lebih dari cukup tuk merasa keberuntungan hidup tidak pernah pergi. Melewati sekian waktu yang penuh dengan emosi terpendam tidaklah mudah, terlebi...

Pertanyaan-pertanyaan

Image
Sesekali, luangkan waktumu untuk bertanya kepada dirimu sendiri. Anggap saja bagian dari kontemplasi untuk melihat kembali hidup yang sudah kau lalui dan yang sedang kau jalani saat ini. Sudah sampai mana perjalananmu? Bagaimana kau menghabiskan jatah waktu yang amat terbatas ini? S eberapa banyak peristiwa yang berhasil kau maknai? Apakah hidupmu masih seperti dulu? Tidak ada kemajuan yang berarti atau, kau justru sudah bertumbuh begitu baik dengan segala ragam ujian hidup? Sudahkah kau memberi arti kepada orang lain? Atau, kau tak lebih sekedar menjadi sesuatu yang tidak memberikan kebaikan apa-apa bagi hidup seseorang?  Bagaimana hubungan dengan Rabbmu? Seberapa dekat kau dengan-Nya? Sudah jelaskah tujuan dan orentasi hidupmu?   Sederet tanya yang akan terus beranak-pinak. Tak ada habisnya. Hidup selalu dipenuh dengan pertanyaan. Beberapa memang mempunyai jawaban dan mudah didapatkan, namun banyak juga yang tidak, bahkan ada yang memerlukan waktu sekian lama ...

Seberapa Penting Sebuah Apresiasi Terhadap Tulisan?

Image
Seberapa penting sebuah apresiasi bagi penulis atau seseorang yang hanya sekadar suka menulis tapi tidak berniat menjadi penulis? Mungkin ada yang merasa sangat penting atau malah tidak sama sekali. Nah, bagaimana dengan saya, seseorang yang bahkan belum berani menulis sebuah buku? Setelah membaca ini saya bertekad minimal sekali sebulan harus menulis status di facebook. Tidak perlu panjang, asal nulis aja. Dulu, saya menganggap bahwa apresiasi seseorang terhadap tulisan saya tidak akan memberi pengaruh apa-apa, apalagi dengan prinsip menulis saya yang waktu itu terasa sangat egois: saya menulis karena saya suka, karena saya merasa sangat lega setiap kali berhasil menumpahkan unek-unek lewat tulisan, bodoh amat apa kata orang, saya menulis hanya untuk saya sendiri. Demikian, pikiran saya hanya sampai di situ. Dapat dm begini jadi terharu. Saya bahkan tidak pernah bertemu tapi mereka membaca tulisan saya. Terimakasih! Karena memegang prinsip tersebut saya pun...

Kenapa Menulis?

Karena menulis, aku merasa bahagia.  Setiap orang memiliki alasannya masing-masing mengapa ia suka menulis. Di salah satu esainya, G. Orwell menyebutkan bahwa salah satu alasan menulis adalah egoisme: "Bahwa setiap penulis memiliki keinginan terlihat cerdas, untuk dibicarakan, dikenang setelah mati" ... Aku sepakat tapi ternyata aku bukan seseorang yang memiliki alasan itu, sebab bagiku “bahagia” adalah alasan paling sederhana kenapa aku selalu menulis. Aku bahagia saat kata-kata yang ramai di kepala bisa dirapikan dalam satu kalimat tulisanku. Aku bahagia karena setiap keresahan ataupun suara-suara dalam hati berhasil kusampaikan lewat kata-kata yang kutulis. Aku bahagia ketika tangis ataupun bahagia bisa menjadi ingatan, kenangan dalam setiap kata yang kutulis. Aku bahagia ketika kelegaan datang mengusir banyak pikiran tidak baik selepas aku menuangkan perasaan ke dalam tulisan. Aku bahagia karena semua yang tak sanggup kukatakan selalu bisa kutulis.  Singkatnya, kebahagiaa...