Posts

Showing posts from August, 2022

Day #30 I heal Myself

Image
Ternyata, pulang kepada-Nya adalah cara terbaik yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan luka. Pulang berarti kembali tersambung dengan-Nya, Tuhan yang maha segala. Dia yang sudah menulis skenario hidup manusia yang sayangnya masih sering disalahartikan.      Pulang kepada-Nya adalah kembali, mendekat sedekat-dekatnya, mengakui segala kelemahan dan kekhilafan diri yang takkan sanggup kembali berdiri tanpa kekuatan-Nya. Berdoa dengan penuh harap agar dititipi kesabaran terhadap takdir yang lalu ataupun yang masih tanda tanya, semoga selalu diberi kebijaksanaan mengambil pelajaran dari setiap ujian yang hadir.  Karena pada akhirnya, healing terbaik adalah pulang kepada-Nya, mengadukan seluruh luka sembari memohon diberi kelapangan untuk ikhlas menerima semuanya. Karena hati manusia dalam genggaman-Nya, setiap rasa sakit yang pernah memenuhinya tidak akan hilang tanpa kehendak-Nya.

Day #29 Terbanglah Resah

Doa-doa panjangku agar Dia membantuku melewati hari-hari dan melepas keresahan itu. Aku yang ketika dipenuhi kesedihan seringkali meragukan-Mu, kumohon Engkau yakinkan kembali. Bahwa janji-Mu adalah pasti. Aku yang sering tersungkur jatuh semoga selalu kau beri kekuatan untuk kembali berdiri dan melanjutkan langkah.  Aku yang kadang takut menghadapi esok, semoga Kau beri keberanian tuk menghadapi setiap ketakutanku, agar aku mampu untuk selalu hidup dengan perasaan yang lebih lega.  Aku yang tanpa sadar terlalu mengandalkan diri sendiri, semoga selalu kau ingatkan dengan cara-cara paling lembut.  Aku yang tiap kali tersesat, semoga selalu Kau beri petunjuk untuk kembali. Aku, dengan segala resah yang kadang memberatkan hari-hari, semoga Kau titipkan syukur yang dalam agar ketenangan selalu datang mengisi hati.  Allahu Rabbi … jangan biarkan sejengkal pun langkah kakiku tanpa bimbingan-Mu. Biarkan aku menjadikan Kau satu-satunya tempat bersandar, sepanjang usia yang s...

Day #28 Maaf Untuk Ayah dan Ibu

Meski aku pernah terluka oleh mereka, kini aku ingin memaafkan sebab ternyata itulah yang diinginkan-Nya. Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi setiap orang tua tentu ingin mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Sebab cinta dan kasih sayang seorang ayah dan ibu seringkali tidak sesuai dengan bayangan sang anak. Selalu saja ada hal-hal yang mungkin berseberangan, kesalahpahaman yang malah melukai kedua pihak.  Sebuah hubungan memang bisa menjadi sangat kompleks—seperti di antara kita, ma, pak. Aku tidak akan mengungkit masa lalu mana pun. Aku hanya ingin memaafkan.  Ma, Pak, aku ingin memaafkan semuanya. Aku yang pernah menangis karena merasa terluka oleh kata-kata atau apa pun yang kunggap tidak seharusnya. Meski pernah ada kemarahan dan kecewa yang kusimpan sekian lama, kini aku hanya ingin memaafkan semuanya. Aku tidak ingin merawat luka terlalu lama. Aku yakin, memaafkan adalah salah satu cara untuk menerima dan ikhlas.

Day #27 Kegagalan Terbaik Dalam Hidupku

Image
Kegagalan yang pernah atau sedang dialami, yang mungkin menyisakan luka, tetapi ternyata memberikan pembelajaran berharga. Aku gagal menyelesaikan kuliah tepat waktu. Bagian terburuknya adalah, kegagalan ini tidak hanya tentang diriku sendiri, tapi ada orang lain yang terpaksa harus menerima konsekuensinya. Kalian pasti mengerti maksudku.  Dari sudut pandang orang banyak, aku tahu betul bagaimana mereka memandang sinis, menganggap kegagalan ini sebagai bentuk ketidakbecusanku dalam memikul tanggung jawab. Aku mafhum, memang mereka tidak sepenuhnya salah. Bagaimanapun, aku sudah kenyang dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan yang dilontarkan tanpa empati ataupun asumsi pribadi yang sangat menyudutkan. Memang, semua kuterima dengan sakit hati awalnya, namun perlahan, seiring bertambahnya usia yang ternyata turut menambah perspektifku dalam memandang sesuatu yang membuatku tidak lagi ingin memusingkan semuanya. Terlalu menguras energi. Tanpa kusadari, aku menjadi lebih t...

Day #26 Ketika Semua Berubah

Hal yang aku takutkan dari perubahan dan bagaimana cara terbaik yang akan aku lakukan untuk menghadapinya. Jujur saja, aku tidak tahu harus menulis apa.  Karena perubahan adalah kepastian, kurasa aku tidak akan takut menghadapinya. Apa aku terlalu optimis dan percaya diri dengan segala perubahan yang menunggu di depan sana? Entahlah. Yang pasti, aku tidak akan menolak perubahan. Aku belajar menerima perubahan, bagaimana pun bentuknya.  Perubahan justru menyadarkanku bahwa tidak ada yang benar-benar abadi di dunia ini. Semua hal memang akan berubah. Seperti dunia tahun 90-an yang tentu saja menjadi sangat berbeda dengan dunia tahun 2022 saat ini. Teknologi yang semakin canggih membuat siapa pun harus beradaptasi jika tidak ingin ketinggalan. Anak-anak begitu akrab dengan gadget, berbagai macam permainan masa lalu perlahan ditinggalkan. Tidak perlu jauh-jauh, aku sendiri menyaksikannya langsung di sekitarku; anak-anak yang lebih suka fokusnya tersita depan layar daripada bermain...

Day #25 Aku Berharga

Aku merasa sangat berharga ketika …. Dibutuhkan. Sesederhana ketika seorang teman mengirimi pesan, ingin didengarkan. Karena baginya, aku adalah teman yang aman untuk menyimpan ceritanya. Rahasia yang tidak ingin dibagi ke siapa pun selain dengan seseorang yang dipercayainya. Denganku ia merasa didengarkan, dipahami dan tidak dihakimi, bagaimana pun kisahnya.  Walaupun hanya menyediakan waktu dan telinga untuk mendengar curhatannya, setidaknya aku bisa merasa jika kehadiranku di dunia ini memang tidak sia-sia. Aku merasa berharga ketika tahu, masih ada yang membutuhkanku. Masih ada orang yang di saat-saat terburuknya hanya ingin menghubungiku, menemuiku jika bisa.  Hal ini membuatku tersadar, bahwa manusia memang selalu butuh orang lain. Semandiri apa pun atau se-andal bagaimana pun ia mengatasi kesendirian dan selalu tampak bisa melakukan segalanya sendirian. Karena ternyata, kebermaknaan kadang bisa diperoleh hanya jika kita terlibat dengan orang lain

Day #24 Maaf Terbaik

Hal yang membuatku merasa sulit memaafkan diriku sendiri dan bagaimana caraku untuk bisa menerima diriku dengan kesalahan ini. Kadang, aku tak betul-betul belajar dari kesalah. Jika melihat ke belakang, ternyata ada beberapa kekeliruan yang kulakukan berulang. Aku menyesali sesuatu untuk kemudian kembali dengan penyesalan yang sama.  Aku membuat pilihan salah berkali kali. Aku membuat orang lain terluka dengan cara yang sama. Aku mengutuk diriku yang begitu payah menyikapi kesalahan dengan lebih baik. Semuanya membuatku cenderung tidak bisa menghargai diriku sendiri.  Aku sadar, aku salah—tapi memaafkan diriku bukan hal mudah ternyata. Aku masih belajar, lebih sayang kepada diri sendiri dengan menerima bahwa seluruh kekurangan itu manusiawi, tidak ada orang yang bisa benar-benar sempurna dalam segala hal.  Merasa sangat buruk adalah bentuk lain penghancuran dan tidak menghargai diri sendiri. Maka aku akan berusaha untuk belajar lebih terbuka dan jujur dengan diri sendiri;...

Day #23 Tumbuh dari Luka

Beberapa takdir memang datang tanpa pertanda—ia memasuki hidup begitu saja. Seperti perangkap. Ketika kau sudah di dalam, tidak ada lagi cara untuk selamat.  Memori itu masih utuh, bahkan setelah satu dekade berlalu. Masa lalu, bagaimanapun jauhnya tetap terkenang.  Tentang luka lama. Air mata, mimpi yang gugur dan kematian pertama. Tiba-tiba saja semua sudah selesai. Tanpa ucapan sampai jumpa dan selamat tinggal. Hanya ada pelukan, penanda perpisahan—sebuah perpisahan dengan tujuan yang tak lagi tertempuh. Takut mengepung. Malam betul-betul muram. Membayangkan esok adalah resah. Mengintip masa depan seperti berada dalam mimpi buruk tanpa akhir. Lalu semua hanya gelap. Kau kehilangan, patah oleh pengharapan. Kenyataan menyudutkanmu, merebut setengah jalan yang sudah kau lalui susah payah—kau kembali ke titik nol.  Kau memang masih berdiri. Di tempat di mana kau tak lagi memiliki langkah. Akan bagaimana selanjutnya? Kau kehilangan kunci jawaban. Putus asa itu panjang...

Day #22 Menjadi Nyata di Antara Maya

Lelahnya jiwaku karena sosial media dan bagaimana aku akan menjadikannya sebagai sumber semangat. Scroll Instagram sampai bosan, lalu pindah ke Twitter, lanjut membuka Facebook, kembali ke WhatsApp (repeat) . Terlalu banyak stimulus, banjir informasi, takut ketinggalan berita, ikut trending, antusias dengan segala yang viral di linimasa. Hiruk pikuk dunia virtual yang menjebak. Lupa, ada dunia nyata yang mesti dihadapi.  Melihat jauh ke belakang, saat begitu aktif di berbagai sosmed; Facebook hingga instagram. Berselancar di sosial media begitu menyenangkan, bikin kecanduan dan tak jarang malah membuat lupa waktu. Sebuah kebiasaan buruk yang perlahan kutinggalkan. Tidak mudah memang, tapi seiring bertambahnya usia dan banyaknya pemahaman baik, aku tersadarkan—terlalu lama berada di rumah maya betul sangat melelahkan dan bisa menjadi berbahaya. Setelah berefleksi dan membuat komitmen dengan diri sendiri untuk secara berkala melakukan detox sosmed, Alhamdulillah dunia maya tidak lag...

Day #21 Simple Things, Big Happiness

Image
21 hal sederhana yang bisa membuatku merasa bahagia dan menyadari betapa bahagia itu sederhana. 1. Menunggu subuh bersama secangkir kopi 2. Matahari pagi 3. Membaca buku 4. Bersih-bersih—decluttering 5. Membuat daftar 6. Menulis 7. Ke toko ATK, membeli pulpen warna warni, bookmark, dll 8. Membungkus buku 9. Reunian dengan teman lama 10. Ke majelis ilmu/kajian 11. Tidur setelah seprai baru diganti 12. Memberi ucapan di hari spesial teman/saudara 13. Membantu orang lain 14. Membuat challenge untuk diri sendiri 15. Detox social media 16. Me time dengan nonton  17. Berenang 18. Rihla bareng keluarga  19. Jalan pagi 20. Mendengar hujan 21. Mengabadikan momen lewat foto Bahagia memang sederhana. 2:10 pm

Day #20 Hidupku Berharga

Tiga hal penting yang paling berharga dalam hidupku yang mambuat aku merasa sangat bersyukur. 1. Iman. Meski keimanan dalam diriku masih di level rendahan—harus kuakui, entah bagaimana hidupku tanpa-Nya. Mungkin sudah tutup buku, atau hancur berantakan dan tidak pernah memiliki tujuan. Sepenting dan seberharga itulah iman. Aku teringat lirik nasyid dari Raihan " Iman Mutiara" yang merepsentasikan iman dengan begitu indah— "Tanpamu iman bagaimanalah Merasa diri hamba pada-Nya Tanpa iman bagaimanalah Menjadi hamba Allah yang bertaqwa." 2. Cinta. Yang tidak pernah ada habisnya dibahas. Karena memang, sepenting itulah cinta. Yang kupercaya sebagai bahan bakar untuk menjalani komitmen, melakukan banyak kebaikan, selalu menuntut pengakuan dan bukti. Sebuah rasa yang melahirkan energi besar yang bahkan sanggup membuat manusia melewati batas-batasnya. Menjalani hidup tanpa cinta, kira-kira bagaimana?  3. Orang-orang baik di sekitarku—entah sahabat, teman, keluarga. Mereka ...

Day #19 Dear, Me

Jika aku berkesempatan untuk bertemu dengan aku di masa kecilku saat berusia 10 tahun, apa yang akan aku katakan padanya? Hai, diriku yang masih lugu dan penuh rasa ingin tahu .... Terima kasih sudah tumbuh menjadi anak baik—yang suka membaca cerita, rajin kerja pr, ke sekolah dan TPA tepat waktu, tidak melewatkan hafalan surah-surah pendek, senang belajar dan membuat bangga keluarga. Tidak apa-apa menangis, marah, ngambek; semuanya wajar—kamu tetap anak baik kok. Setiap anak unik, pun kamu. Emosi-emosimu itu bukan sesuatu yang keliru, hanya saja, orang-orang di sekitarmu yang mungkin memang tidak bisa sepenuhnya memahamimu. Kau pasti kesulitan saat penuh amarah dan tidak ada yang menenangkan, menawarkan pelukan apalagi—it's okay, orang dewasa kadang memang begitu, kurang empati dengan anak kecil. Hidup mungkin sudah terlalu susah dan kau tidak diizinkan menambah beban dengan emosimu yang meledak itu. Nikmati masa kanakmu, kelak kau akan sangat merindukannya. Ciptakan sebanyak mung...

Day #18 Jangan Sakiti Aku

Image
Setiap kata-kata, atau perlakuan orang lain terhadapku yang tidak aku sukai dan rencana reaksi terbaik yang akan aku lakukan jika aku mendapatkannya. "Orang beriman tidak stres" kata seseorang ketika aku mengeluhkan banyak hal, merasa stres. Kata-katanya berhasil membungkamku, membuatku merasa "iya, aku memang belum seberiman itu, aku masih stres karena urusan-urusan dunia"—lalu aku merasa perlu mempertanyakan ulang segala hal yang selama ini kulakukan sebagai hamba, apa tidak ada nilainya sedikit pun di mata-Nya?  Kemudian di waktu yang lain, seseorang mengomentari hobiku membaca buku, menyuruhku berhenti, bahkan menyindir dengan kalimat "beli buku terus ...." (seolah membeli buku adalah sesuatu yang tidak layak jika dilakukan terlalu sering) Seseorang yang lain, dengan kata-katanya yang sinis dan nada meremehkan berujar; "Tulisan-tulisan apa itu?" Ia membuat hobiku seperti tidak ada artinya, tidak penting, dan tidak pantas mendap...

26 hal yang kutulis dari siang sampai sore hari ini

Image
1. Jangan terlalu sering mengunjungi masa lalu. Tidak apa-apa sesekali menengok ke belakang untuk berefleksi, tapi jangan lama-lama, berbahaya. Lebih baik fokus melihat ke depan. Susun rencana, hati-hati melangkah. Masih banyak hal yang bisa diusahakan, masih ada bagian-bagian yang perlu dibenahi, masih banyak kesempatan yang layak diperjuangan. Masa depan itu masih suci, jaga ia sebaik-baiknya.  2. Biasakan untuk lebih sering bilang Alhamdulillah —bersyukur setiap saat, untuk hal-hal kecil sekali pun.  3. Jangan berhenti belajar. Ilmu-Nya begitu luas, takkan cukup usia untuk mencicipi semuanya. Belajar setiap hari, dari mana pun, dari siapa pun.  4. Mulai sekarang juga—apa pun itu yang ingin kau kerjakan. Bergegaslah, jangan menunda. Jika tidak bergerak, kau tidak akan ke mana-mana. 5. Daripada berusaha mengesankan orang-orang lebih baik mulailah melakukan apa saja yang akan membuatmu terkesan dan bangga dengan diri sendiri.  6. Tulis semuanya di atas ke...

Day #17 Ingin Mengulangnya, Sekali Lagi

Image
Salah satu momen terbaik dalam hidupku.  Jalan sama Fayant. Dari Maros ke Makassar demi berburu diskon buku di Pelangi Ilmu, nyasar sampai ke Kata Kerja saat mencari alamat Dialektika, menonton berdua, hingga menangis depan Mtos sambil curhat—semua ingin kuulang, jika bisa. Karena menghabiskan waktu berdua Fayant memang seasyik itu. Kami sahabatan sejak SD—dari zaman idola kami Sasuke dan Kakashi, hingga selera bacaan kami bergeser; tidak lagi berputar di novel-novel roman picisan. Momen berdua kami rasanya menjadi sesuatu yang kini begitu jauh—sejak Fayant menikah, kami tak lagi memiliki quality time seperti dulu. Tapi, mungkin memang demikian, jika sahabatmu menikah, maka hubungan kalian tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Sedang rindu masa lalu sama Fayant. Kenangan yang tidak mungkin terulang kembali.  —Makassar, 6:52 pm

Day # 16 Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikan Itu Istimewa

Image
Satu hal atau keputusan paling menantang dalam hidupku, bagaimana aku menyelesaikannya, dan hikmah terbaik yang aku dapatkan karenanya. April 2019. Seorang teman mengirimiku pesan berisi tawaran untuk ikut bersamanya menjadi seorang muhafizhah dalam program Karantina Tahfizh Nasional (KTN) selama sebulan. Awalnya ragu, apa aku sanggup? Terlebih karena saat itu adalah masa-masa di mana aku seharusnya fokus mengurus skripsi. Aku sempat dilema sebelum akhinya meminta izin kepada mama. Aku ingat betul, jawaban mama waktu itu yang akhirnya meyakinkanku untuk menerima tawaran tersebut.  Kalo untuk kebaikan, kenapa tidak? Begitu jawaban mama yang berarti lampu hijau untukku. Sejujurnya, aku menganggap pilihan itu sebagai cara terbaik untuk sejenak menjeda diri dari urusan kampus yang terakhir kali betul-betul menguras emosi. Namun, siapa sangka, keputusanku waktu itu mengubah banyak hal kemudian. Singkat cerita, dengan persiapan seadanya aku pun tiba di lokasi dan langsung men...

Day #15 Alhamdulillah, For Everything

Image
Lima hal yang aku syukuri hari ini. 1. Alhamdulillah , aku masih bangun tepat waktu, dalam keadaan sehat dan sudah memiliki rencana—akan melakukan apa seharian. 2. Alhamdulillah , aku masih bisa puasa sunnah Senin, salah satu habit zaman santri yang kembali kuusahakan. 3. Alhamdulillah , aku masih memiliki teman-teman baik yang peduli—salah seseorang tiba-tiba mengirimiku pesan menanyakan kabar setelah kemarin aku absen dari majelis tarbiyah. 4. Alhamdulillah , masih diberi kemudahan untuk akses belajar: dari nonton di YouTube, membaca newsletter dari penulis-penulis luar, hingga membaca buku-buku self improvement.    5.  Alhamdulillah , aku masih bisa melakukan hal-hal yang kusenangi: membaca buku, menulis diary dan melanjutkan writing for healing ini, yang ternyata sudah hari ke lima belas.  Bersyukur memang melegakan dan lebih membantu kita untuk menghayati nikmat-Nya. Bahwa ada hal-hal yang bagi kita, mungkin mudah saja diperoleh hingga cenderung ...

Day #14 Lelahku Hari Ini

Image
Lelah yang aku rasakan atas peran sehari-hariku, yang mungkin tidak orang lain ketahui.   ( Warning! tulisan kali ini hanya akan berisi curhat sepenuhnya) Jujur, aku lelah menjadi diriku yang sekarang—saat ini. Aku lelah dengan hari-hari yang kuhadapi. Selalu ada masalah yang harus diselesaikan, to-do list harian yang membuatku merasa bersalah jika tidak kukerjakan—membuat keinginan menonton pun selalu kutahan karena rasanya tidak pantas. Konon, anak INFJ (16 kepribadian  MBTI ) memang yang paling keras ke diri sendiri, tipe yang menuntut segala sesuatunya mesti berjalan sesuai idealismenya. Jika tidak, reaksinya bisa berlebihan: perasan bersalah ke diri sendiri yang membuat lupa untuk mengapresiasi usahanya sendiri. Kurang lebih seperti aku saat ini. Hari ini aku merasa tidak melakukan apa-apa yang berarti, tapi lelahnya luar biasa. Mungkin karena faktor overthinking yang kembali. Sudah beberapa malam ini aku menghabiskan 30 menit hingga satu jam pertama ...

Day #13 Bahasa Cinta

Image
Saat aku sedang sedih, marah, atau kecewa, aku ingin orang lain melakukan ini kepadaku …. Sejujurnya aku tidak tahu harus menulis apa untuk melanjutkan kalimat di atas—karena setiap merasakan emosi-emosi di atas, sudah pasti aku memilih menjauhi semua orang. Aku sadar, berada di antara orang-orang saat moodku kacau selalu berakhir tidak baik. Aku yang tidak suka bicara di saat marah ataupun sedih seringkali membuat orang tersinggung karena aku merespons ucapannya dengan judes, irit kata, dsb.  Diamku sudah terlalu sering disalahartikan, dianggap annoying , padahal aku hanya sedang berjuang melawan diriku sendiri. Aku menahan agar amarah ataupun air mataku tidak keluar. Karena aku tahu, saat marah dan tidak diam, aku mungkin hanya akan melukai orang dengan kata-kataku yang nanti akan kusesali selamanya. Dan jika sudah terlanjur menangis akan sangat sulit untuk berhenti. Begitulah aku, fakta yang sangat tidak dipahami siapa-siapa.  Tapi, jika bisa berharap (tapi aku ...

Day #12 Syukurku kepada-Mu

Image
Aku sangat bersyukur atas kesempatan hidup yang telah Allah berikan untukku, maka sebagai bentuk syukurku aku akan …. Aku akan lebih rajin bilang Alhamdulillah. Seperti kata ustaz Khalid di salah satu ceramahnya, hamdalah: Alhamdulillah adalah sebagai bentuk syukur yang harus dibiasakan. Tidak hanya sehabis makan saja, tapi setiap saat. Karena di setiap hembusan nafas kita ada nikmat-Nya yang tak terhitung, yang selalu luput dari kesyukuran.   Aku sangat bersyukur atas kesempatan hidup yang telah Allah berikan untukku, maka sebagai bentuk syukurku aku akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Dengan berusaha memaksimalkan ibadah-ibadah harian seperti yang kembali mulai kulakukan di bulan ini: menyusun daftar daily habits  dari bangun tidur hingga terlelap yang akan kuberi ceklis jika kukerjakan. Aku ingin berkomitmen dengan diriku sendiri untuk menjaga beberapa ibadah sunnah sebagai amalan andalan. Dan aku sadar, tidak akan terlalu sulit untukku karena memang...

Day #11 Beranjak Dewasa

Image
Aku dan ingatanku tentang menantangnya fase beranjak dewasa  Masih tentang kedewasaan, yang kali ini cukup menantang karena mau tidak mau aku harus me- rewind ingatanku, beberapa tahun ke belakang. Bahwa di sana ada banyak kenangan yang tidak selalu menyenangkan; kegagalan, kehilangan, frustrasi, dan berbagai kisah di balik “beranjak dewasa”. Kadang tidak mudah mengingat kembali saat kita merasa bahwa sebenarnya kita masih berada di fase itu. Kita masih sedang berjalan di medan juang yang dua tiga tahun lalu kita mulai. Masih basah dalam ingatan, saat-saat sulit ketika aku mulai menyadari sedang berada dalam fase kedewasaan. Rasanya ada banyak sekali emosi dan air mata yang mengisi hari-hariku. Lalu, mari memutar mundur jarum sejarahku sendiri: ada masa ketika perjalananku terasa tidak pantas lagi diteruskan, aku bukan hanya kelelahan, tapi juga kehilangan alasan-alasan kenapa harus berjuang sekeras itu?...

Day #10 Kepada Masa Depan

Image
Kekhawatiranku akan masa depan: jodoh, karier, keluarga, kematian, dan kehidupan akhirat. Bagaimana aku harus menyikapi kekhawatiran-kekhawatiran itu? Jadi manusia dewasa itu sulit, ada banyak kekhawatiran yang harus dihadapi. Memang, dewasa bukan soal usia dan angka, tapi mindset . Sebab semakin bertambah umur seseorang, tak selalu sejalan dengan berkembangnya perspektif. Dari sini sudah kelihatan urgensinya belajar, membaca buku-buku dan yang juga tak kalah penting; sadar kebutuhan akan ilmu. Kadang, saya miris sendiri ketika berbicara dengan seseorang yang berpendidikan (sudah sarjana, bahkan lebih), tapi sayang sekali karena pola pikir ataupun perilakunya sangat tidak menggambarkan seorang yang terdidik (tidak ada maksud men- judge atau menggeneralisir pihak mana pun, tapi ini ironi dalam pengalaman pribadiku). Singkatnya, banyak orang di usia dewasa tapi masih tidak dewasa. Membahas kedewasaan tentu akan sangat panjang dan bukan di sini sekmennya. Aku hanya mencoba me...

Day #9 Ketakutan Terbesarku

Image
Satu hal yang sangat aku takuti dan bagaimana aku bisa menghadapi ketakutan itu. Salah satu topik yang menarik dalam self talk-ku belakangan; what your biggest fear? Dan jawaban yang kudapat beragam, terlalu banyak ketakutan dan kekhawatiran yang datang silih berganti. Hari ini aku mungkin memiliki satu ketakutan dan kegelisahan akan satu hal yang esoknya akan berubah, berganti ke hal lain. Namun, untuk tema kali ini, aku ingin menengok satu momen pada April lalu.  Flashback …. Satu malam di pertengahan Ramadan, saat-saat paling sunyi ketika waktu berjalan menuju pukul satu, aku sempat bertanya kepada diri sendiri “apa sih yang kau takutkan?” Tanya yang muncul begitu saja setelah menyadari satu fakta, bahwa ada saja hal-hal yang normal dan biasa menurutku tapi menjadi satu ketakutan bagi orang lain. Contoh paling real -nya ini, saat aku hanya sendirian, tengah malam, terduduk di tengah masjid yang separuh lampunya sudah padam dengan pintu-pintu dan jendela yang semuanya...

Day #8 Penyelamatan Terbaik

Image
Aku merasa Allah menyelamatkan Hidupku Ketika … aku nyaris saja menyerah. Berkali-kali dihadapkan pada kegagalan, dibenturkan dengan realita menyakitkan, babak belur oleh luka-luka, semua pengalaman menyakitkan itu membuatku sadar; aku dengan ketidakberdayaanku seharusnya tidak salah menyandarkan harapan. Aku pernah berada di titik terendah hidup; ketika nafas terasa semakin pendek, sekujur tubuh dipenuhi rasa sakit, kepala hanya disesaki keraguan dan putus asa, lalu kupikir … karena sudah di tubir jurang, sekalian saja terjun ke dasar dan segalanya pasti akan berarkhir. Sebab aku teramat lemah tuk kembali melanjutkan langkah, terlalu takut tuk semakin hancur dan tak pernah kembali pulih. Dalam sempit dan sesaknya sudut pandangku, ternyata Dia masih bersedia menyelamatkanku, menyelamatkan hidup yang kusangka sudah harus diselesaikan. Aku menangis terhadap pikiran-pikiran buruk yang sempat menguasaiku. Aku runtuh dalam penyesalan, terisak bersama kesadaran yang mencerahkan...

Day #7 Aliran Rasa

Image
Sesuatu yang mendominasi perasaanku selama sepekan ke belakang.  Mungkin ini yang disebut JOMO, joy of missing out , kebalikan dari FOMO (fear of missing out) sesuatu yang membuat orang-orang begitu kecanduan dengan sosial media. Kuakui, aku pun pernah di masa itu, lalu ketika menengok jejak sekian tahun lalu aku hanya bisa tersenyum kecut. Sebab tersadar, betapa tidak pantas rasanya saya julid (walaupun hanya sebatas ngedumel dalam hati) kepada orang-orang yang dalam pandanganku—yang sangat sempit ini—begitu asyik menghabiskan waktunya hanya scroll sosial media. Bahkan pernah, dengan sinisnya aku berujar “bukan sayang kuota, tapi waktu, kuota kalo habis masih bisa dibeli, kan” ketika suatu hari aku membantu kakak mencari pengaturan untuk membatasi pemakaian tiap aplikasi, digital wellbeing/app timer di smart phone-nya. Karena aku menggunakan fitur ini sebagai cara membatasi diri dengan dunia maya, (meminjam istilah dari Atomic Habits) alat menjaga komitmen. Memang, ...

Day #6 Hari Terakhirku

Image
Jika ini adalah hari terakhirku hidup di dunia, satu hal penting yang ingin aku lakukan adalah …. Menghubungi satu per satu orang-orang penting dalam hidupku. Mereka yang selama ini memberikan kontribusi berarti, orang-orang baik yang sudah dihadirkan Tuhan sebagai perantara untukku memahami banyak hal.  Urutan pertama tentu saja keluarga, unit terkecil dari kelompok sosialku yang paling memberi dampak besar selama masa awal pertumbuhanku. Aku akan mengatakan kepada mereka, betapa aku sangat menyayangi kalian, aku sangat beruntung memiliki keluarga ini, aku teramat bersyukur bisa hadir di tengah orang-orang baik yang tak henti mengalirkan kebaikan padaku—tidak peduli seburuk apa pun aku. Karena pada akhirnya, aku sadar, keluarga adalah akar, tempat aku tumbuh pertama kali, belajar menjadi manusia dan menjadi bagian dari sebuah hubungan.  Akan kusampaikan kepada mereka, satu per satu; kak, terima kasih karena … aku akan menyebutkan setiap kebaikan-kebaikan kecil yan...

Day #5 Surat Untukku di Masa Depan

Image
Jika aku berkesempatan untuk bertemu dengan diriku yang berasal dari masa depan, apa yang akan aku katakan padanya? Just get the insight, keep moving and growing. Jangan terlalu sering menengok ke belakang. Tidak apa-apa jika tak menjadi seperti yang pernah begitu kau impikan. Cukup ambil pelajaran berharganya. Sebab ada begitu banyak jalan untuk menjadi bermakna dan hidup akan selalu menyuguhkan pilihan dengan bermacam-macam kemungkinan. Fokus saja pada hal-hal yang masih berada dalam kendalimu.   Belajar berdamai dengan kesalahan yang lalu. Jangan pernah merasa gagal menjadi manusia hanya karena kau tidak berhasil dalam beberapa hal. Tidak apa-apa merasa sedih, tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja, toh setiap perasaan akan berlalu. Kau tetap berharga, sebanyak apa pun kekeliruan yang pernah kau sesali. Biarkan semuanya membuatmu bertumbuh, menjadi dewasa dan lebih mahir menghadapi situasi-situasi terburuk yang selalu datang tiba-tiba. Mengikhlaskan masa la...

Day #4 Untukmu yang Menyakiti

Image
Ucapan terima kasih dariku kepada yang pernah menyakitiku, karena kesakitan itu membuatku bertumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh. Tulisan   yang didedikasikan kepada mereka yang pernah meninggalkan luka mendalam. Terima kasih, kalian. Teman-teman yang pernah kuanggap sahabat baik selama beberapa tahun kebersamaan kita. Kalian membuatku lebih memahami arti sebuah pertemanan. Tentang betapa pentingnya ketulusan dan kepercayaan dari sebuah hubungan, perihal apa saja yang mesti ada dalam pertemanan yang sehat, hingga bagaimana kita harus menyudahi jalinan jika sudah sampai red flag. Terima kasih sudah menyakiti dengan ketidakjujuran dan hilangnya ketulusan. Dari kalian aku belajar tuk lebih gigih lagi mempertahankan nilai-nilai yang kuyakini.  Terima kasih, kau yang pernah datang membuat berantakan hati. Kau membuatku sadar, seberapa penting sebuah batasan dalam interaksi agar tak perlu ada perkenalan lebih jauh yang melibatkan perasaan terlalu dalam. Kau mengaja...

Day #3 Sudah, Aku Memaafkanmu

Image
Seseorang yang ingin aku maafkan, sebab menjadi sebaik-baik hamba-Nya berarti meninggalkan dendam dan permusuhan.  Disclaimer : tulisan ini hanya residu dari perasaan yang pernah tinggal, yang kini sudah sepenuhnya tanggal.  Dulu, aku menganggap pertemuanku dengannya sebagai hal istimewa—sesuatu yang tak pernah kusangka akan berakhir dengan penyesalan yang mengarati hati sekian lama. Ini bukan perihal dendam ataupun permusahan. Sebab aku tak sedikit pun menaruh dendam, apalagi ingin membangun permusuhan. Aku tak punya cukup energi untuk keduanya sebab yang kuperjuangkan sekian lama hanya ikhlas.  Ikhlas yang dalam perjalanannya kadang begitu sukar. Selalu saja ada kenangan yang menyandung langkah hingga aku harus jatuh berkali-kali sebelum tiba di ruang penerimaan yang teramat lapang dan menenangkan.  Bahwa terhadap kesalahan orang lain, kita tak boleh hanya berhenti di proses memaafkan karena setelahnya, kita pun harus menerima lalu mengambil sebuah pela...

Day #2 Selepas Kau Pergi

Image
Rasanya ditinggalkan oleh orang tersayang dan pembelajaran berharga yang kudapatkan karenanya. Perpisahan itu begitu tak terduga. Tiba-tiba saja aku sudah berada dalam kamar dengan suara tangisan memenuhi seisi ruangan. Bapak masih berbaring dengan selang infus yang masih sama dengan beberapa hari lalu—bedanya, saat itu sudah tak ada lagi kehidupan di sana. Tubuh itu tak lagi bernafas, mata itu, selamanya akan terpejam. Jasadnya sisa seonggok badan dengan kenangan panjang dalam ingatan kami. Jika ditanya bagaimana rasanya, aku tidak tahu pasti selain hanya 'kesedihan' karena ditinggal. Sedih karena statusku kini menjadi yatim, seseorang yang ditinggal mati oleh sosok ayah. Saat itu aku belum terlalu paham kehilangan . Aku masih duduk di bangku SD, anak sepuluh tahun yang masih terlalu dini tuk menafsir perpisahan bersama seluruh perasaan yang hadir. Yang kutahu pasti, bapak meninggal yang berarti ia akan dikubur dan kami pun berpisah selamanya. Ia, selamanya.   Aku ...

Day #1 Aku dan Diriku

Image
Persepsi positifku tentang diriku sendiri. Aku senang dengan diriku yang selalu menuntut perbaikan, yang seringkali gelisah saat misi-misi kebaikan yang kurencanakan tidak berjalan seperti yang kuharapkan.  Aku paling mencintai diriku yang selalu tahu bagaimana kembali memeluk diri sendiri, melakukan banyak hal sebagai upaya  selflove. Karena bagaimanapun, aku sadar bahwa tak seorang pun akan mampu memahami diriku sebaik yang kulakukan.  Aku menyayangi diriku yang meskipun banyak melakukan kekeliruan tapi tetap meluangkan waktu untuk bermuhasabah, mengevaluasi dan mengoreksi kesalahan serta kebaikan apa yang patut diteruskan. Sabab bagiku, sebuah refleksi/ self talk akan selalu bisa memukul kesadaran, tentu saat kita bersedia mengambil jeda dari riuh dunia untuk duduk bersama diri sendiri.  Tidak apa-apa melakukan kesalahan yang membuat diri merasa buruk, namun jangan lupa berbenah dan berusaha semaksimal mungkin agar tak lagi mengulangi hal-hal tidak bai...