Ramadan dan kenangan-kenangan yang memburam...
Ramadan selalu menghadirkan rindu. Kerinduan yang tak selalu bisa dibicarakan—entah sebab kenangan akan ramadan terasa terlalu personal atau memang rasa rindu terkadang begitu abstrak.
Tahun ini adalah ramadan ke-30 dalam hidupku. Pertama kali dalam hidupku pula, puasa tidak bersamaan dengan mama. Meski sudah bukan pertama kali kami tidak sahur bersama karena beda tempat, tetap saja rasanya berbeda. Ah, rupanya pelajaran pertama yang kuterima di ramadan ini adalah tentang menerima perbedaan dari orang yang tak disangka akan memiliki pilihan ataupun keyakinan yang tidak lagi sama (soal penentuan puasa).
Sejujurnya aku tidak tahu apa yang ingin kutulis selain rindu-rindu yang begitu panjang akan masa lalu. Aku yang begitu mahir menyimpan kenangan, begitu senang memutar ulang kilas balik hidup hingga meneteskan air mata tanpa sadar. Begitu melankolis—hal hal yang bernama masa lalu itu, khususnya masa kecilku.
Aku rindu. Ramadan ketika itu. Saat ketika menyambut ramadan terasa begitu meriah. Sahur pertama yang selalu kutunggu sebab hampir seluruh anggota keluarga akan hadir (kecuali kakak kedua yang sedang studi di LN). Kami sekeluarga akan duduk melingkar di ruang tengah. Makan sahur bersama. Aku yang bungsu sekaligus paling kecil selalu jadi yang terakhir bergabung. Ingatan ini begitu samar tapi entah bagaimana masih tinggal. Aku masih ingat sahur kala itu terasa sangat ramai. Aku juga ingat betapa hangatnya berkumpul dengan orang-orang yang kusebut keluarga. Senang, tentu saja. Sesederhana itu yang dipahami anak kecil yang bahkan belum duduk di bangku sekolah dasar.
Masa lalu itu sudah begitu jauh ternyata. Tertinggal di antara memori yang terus bertambah setiap harinya.
Ingatan akan ramadan ketika aku sudah memasuki sekolah dasar lain lagi. Sedikit lebih jelas dan sudah lebih banyak yang tinggal. Pukul dua dini hari—adalah waktu ketika speaker masjid membangunkan warga; shalatulllail... Aku selalu ikut bersama mama ke masjid Jami, masjid paling besar di lingkungan kami. Salat yang kulakukan demi satu ceklis di amaliah ramadanku. Salat lail sebelas rakaat dengan bacaan satu juz tiap malam—yang selalu hanya sanggup kuikuti witirnya: tiga rakaat, dengan terkantuk-kantuk di barisan paling belakang, titik kumpul anak-anak sepertiku.
Usai salat subuh pasti ada pengajian. Kami anak-anak bermain di luar masjid. Tangga adalah tempat favorit meski berbahaya—kala itu belum ada pagar pembatas tangga yang lumayan tinggi itu. Kalo jatuh mungkin akan patah tulang atau keseleo. Anehnya kami tidak pernah takut, yang ada kami justru merasa tertantang untuk melompat di tangga-tangga bawah, mengukur kemampuan. Menunggu pagi sekaligus selesainya pengajian hampir selalu kuhabiskan dengan bermain di tangga, atau main kartu (kuartek; entah bagaiamana penulisan yang benar). Lalu, ada lagi permainan yang tiba-tiba kuingat; sejenis petasan berwarna merah, terbuat dari kertas yang digulung macam obat nyamuk yang akan bunyi jika dipukul (ditumbuk) pakai batu. Ada pun nama toko tempat kami sering membeli mainan pada masa itu; Kunci Mas. Entah apa sekarang toko itu masih ada. Dulu, toko mainan memang sangat jarang, kami harus berjalan cukup jauh, keluar area pesantren karena “Kunci Mas” berada di kompleks sebelah. Mengingatnya bikin senyum. Entah ada berapa kali aku ke sana membeli bongkar pasang favoritku.
Bagian lain dari ramadan yang takkan kulupakan; buka puasa bersama di masjid Jami. Selain jadi tempat salat lail, subuh berjamaah, masjid ini juga jadi tempat berkumpul dalam rangka bukber seluruh warga. Kami anak-anak menyambut sore dengan suka cita. Aku selalu bersemangat, membawa camilan atau kue dari rumah, kadang juga bekal makan malam. Menunggu azan magrib di deretan belakang, barisan khusus anak-anak, menerima pembagian kue dari ibu-ibu yang bertugas membawa sekaligus mengurus pabuka (perkelompok; dibagi berdasarkan lokasi tinggal kami—ada tujuh istiqamah)—paling menggembirakan jika yang dapat giliran adalah istiqamah kami, aku akan mendatangi mama untuk request kue sendiri dan pasti dapat bonus.
Semuanya betul-betul kenangan indah yang kusyukuri adanya. Setidaknya, semua tetap menyenangkan sebelum ramadan ke-10 dalam hidupku. Tahun yang takkan kulupa selamanya, September 2006. Tepatnya ramadan hari ketiga. Pagi itu bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Aku masih sepuluh tahun. Menangis dalam ketidakmengertian. Aku lalu merasakan ramadan yang betul-betul berbeda dari yang pernah kulewati. Aku yang akhirnya tersadar, ramadanku takkan pernah lagi lengkap.
Kehilangan bapak adalah luka. Kenangan yang tak pernah bisa dilupakan memori anak sepuluh tahun—hingga hari ini, ketika usia sudah hampir dua dekade bertambah, kehilangan itu tetap sama. Begitu sedih, begitu menyakitkan. Dan ramadan selalu jadi pintu untuk mengingat semuanya. Pahit dan manis. Kehilangan dan penerimaan. Keikhlasan yang masih ditempuh. Berbaik sangka kadang begitu sulit diupayakan.
Ah, maaf pak. Anak bungsumu masih tidak bisa mengenangmu tanpa tangis. Ramadanku selalu tentang kau. Kau yang pergi begitu lekas. Kau yang tak meninggalkan banyak kenangan. Kau yang kini hanya tertempuh lewat doa-doa. Doa—yang kupercaya tidak akan pernah membuat kita berjarak, walau di dua dunia yang jelas berbeda. Begitu jauh, tanpa kesempatan temu lagi—tapi semoga kita akan berjumpa di syurga-Nya, kelak.
—Makassar, siang yang abu-abu
3:08 pm