Posts

Showing posts from February, 2018

Review Buku: Maka Nikmat Rindu Mana Lagi yang Kau Dustakan?

Image
Penulis: Tetta Sally Penerbit: MIB Indonesia Jumlah Halaman: 177 “Sebab yang paling menyakitkan dari menunggu ialah rindu.”  (Hal.54) Menjatuhkan hati adalah menerima pilihan yang kadang terasa begitu rumit. Mengacuhkannya, membunuhnya, atau justru melupakannnya. Namun, tak sedikit pula yang justru rela bertahan dengan menunggu sepaket dengan rindu.  Lantas, mampukah mereduksi rindu, kala menunggu menjadi pilihan satu-satunya? Atau, menunggu bagaimana yang tak mesti disesaki rindu?  Jawabannya; Rasakan saja. Cukup rasakan, bagaiamana rindu mampu membawa seseorang pada perasaan-perasaan yang entah, definisi apa yang paling tepat tuk membahasakannya. Saat kepalamu dipenuhi berbagai praduga, tersesat hanya di satu nama, berputar hanya pada bagian ingatan yang itu-itu saja, hingga akhirnya kau terlelap. Memilih menidurkan rindu yang beku sebab temu masih terjebak dalam harapan, tempat menyimpan begitu banyak doa tentang seseorang yang kau sebut ...

Dear Annisa

Image
Annisa istiqamah nama lengkapnya. Salah satu perempuan paling berkesan yang sempat menghabiskan ratusan hari bersamaku.  Menulisnya membuat banyak kenangan mulai bermain di kepalaku. Tentang begitu banyak cerita yang sempat terangkai bersamanya. Ah, kehidupan beberapa tahun lalu betul-betul mengundang rindu yang panjang. Dulu kami tidak hanya sekedar satu sekolah tapi juga memiliki banyak kesamaan yang membuat keakraban itu masih kental hingga kini, saat masing-masing kami terpisah sekat bernama jarak. Annisa; kukenal sebagai teman sekamar, teman sekelas, teman muraja'ah, teman bercerita, teman main hujan, teman jalan-jalan, teman dengan begitu banyak definisi. Untuk menuliskannya rasanya akan begitu panjang.  "Lebay yaa ?"  Iya, tak apa, seperti ia yang paling sering melabeliku dengan kata itu Annisa; perempuan berkacamata. Paling rajin mempertanyakan banyak hal yang biasa membuatku malas menanggapinya. Kadang-kadang ia menyebalkan, tapi aku...

Menahan Amarah

Image
Aku marah tapi memilih baik-baik saja dengan diamku. Saat kau merasa keadaan membuatmu sangat layak tuk memaki sesuatu atau pun seseorang. Sebab apa yang tengah kau hadapi betul-betul menarik emosi datang, beramai-ramai merampas ketenanganmu dan tentu saja menyesakkan dada. Hatimu berantakan. Sakit. Dan kau harus berusaha menenangkan pikiran yang sedang memancing dirimu tuk melampiaskannya dengan kata-kata kasar ataupun sumpah serapa. Hingga kemudian, setitik kesadaran mulai meladeni nurani. Bahwa kau harus segera selesai dengan amarahmu, sesulit apa pun mengalahkan diri yang nyaris kehilangan kendali sebab nafsu keparat. Badanmu bergetar, kepalamu terasa pening. Mata pun berkaca-kaca sebelum akhirnya ritual menangis berlangsung tanpa suara. Kata-kata umpatan yang semestinya mengalir dari bibirmu hanya tercekat di kerongkongan hingga akhirnya kau telan dengan paksa. Situasinya mungkin hampir sama saat kau berusaha berenang melawan arus. Sangat sukar. Demikian be...

Sudut Kamar

Tempat mendiskusikan banyak hal. Berbicara dengan isi kepala dan nurani. Tempat berdebat kusir antara  perasaan dan logika. Ruang sunyi sekaligus paling bising. Sunyi sebab sekitarku hanya terisi suara langkah jarum jam bersaing dengan deru napas yang pelan dan tenang, sedang di kepalaku gemuruh sedang berlangsung meriah. Seperti sebuah konser, ramai dengan suara-suara pikiran yang terlalu keras kepala untuk kusuruh diam. Di sini, tempat mengurai isi kepala yang selalu saja dilanda overthinking . Di sini, aku berusaha mengumpulkan kembali, seluruh keyakinan yang kadang dihabisi ragu. Di sini, tempat terbaik meresapi waktu sekaligus menguatkan diri sendiri. Di sini aku suka menangis bahkan tertawa sendirian. Menangisi kesalahan-kesalahan di masa lalu sembari berusaha memaafkan diri sendiri. Menertawakan kebodohan-kebodohan yang sudah berulang kali kulakukan atau sesekali menangis sekaligus tertawa karena perasaan yang kadang tak lagi terdefinisi. --Makassar, tengah mala...

Setumpuk Kisah

Image
  Berawal dari bait lagu yang tengah mengudara di langit kamar, ingatan itu bertamu. Tentang setumpuk kisah yang seketika membuat kenangan melesat cepat. Detik seolah melemparku ke masa lalu. Kala itu, duniaku belum berkenalan dengan kata rumit. Hari-hari berkesan terlewati dalam hangat keluarga yang masih utuh. Bersama mama dan juga bapak yang seringkali pergi meninggalkan kami, membuatku terlalu dini tuk memahami arti keberadaan. Tiba-tiba rindu memeras air mata. Ah, betapa sulit manusia melepas apa-apa yang pernah terlanjur menyentuh hati. Persis seperti beberapa kenangan yang masih melekat meski satu dua tiga kisah mulai terhapus bersama waktu. Kepala memang tidak didesain tuk mengingat segala hal. Aku menulis agar aku tetap mengingat, salah satunya bahwa hidup memang butuh keseimbangan. Ada bahagia tentu karena kita merasakan kesedihan. Dan juga, kita akan paham kehilangan selepas ditinggal pergi oleh sesuatu yang kita anggap berharga. Sesederhana itu. ...

Kata dan Langkah yang Patah

Harap pun habis Luka kembali hidup seperih kemarin Hari ini kulihat satu per satu huruf mulai lupa Perihal arah yang sekian lama menjadi tujuan Aku lebih memilih kehilangan Sebab senyum menolak tinggal di bibir yang kelu menyebut namamu Dan bahagia tak lagi bersedia menetap lebih lama untuk keyakinan yang terlalu rapuh Kau memang bukan kenyataan Mungkin hanya sekedar imaji Yang membuatku tetap berjalan Dari ragu ke ragu Menuju pintu keberangkatan Bersama kata dan langkah yang patah --Makassar, selepas subuh beranjak

Mama

Aku pulang. Seperti biasa, mama menyambutku dengan senyuman. Sebaris lengkungan di bibirnya bak penawar seluruh letihku. Mama memang salah satu sumber semangatku. Cukup dengan menikmati beberapa jam bersamanya saja, aku akan merasa stok semangatku kembali terisi penuh. Mama dengan seluruh kebaikannya akan membuatku baik-baik saja dalam artian paling jujurku. Mama yang selalu bisa membaca pertanda di mataku tanpa perlu bercerita panjang lebar. Ia yang kadang membuatku harus menahan air mata diam-diam sebab menangis di hadapannya terasa sama saja dengan menyakitinya. Aku tahu, ia yang paling terluka saat melihat ada kesedihan di wajah anaknya. Dan aku, tentu berusaha untuk tidak membuatnya khawatir meski kutahu ikatan batin kami membuatnya selalu mengetahui apa-apa yang tidak pernah kukatakan.  Mama yang rutin bertanya bagaimana keadaanku, yang kadang aku terpaksa berbohong “baik-baik saja” sekalipun saat itu mataku tengah menciptakan hujan pribadi. Sebisa mungkin suara kubuat normal...

Laki-laki yang Bertanya Tentang Kepastian

Image
Pict Source: Tumblr   Kau bergeming. Matamu masih memandang lurus ke jendala besar yang mengarah ke jalanan. Di luar hujan menderas membuat kedai kopi kian dipadati pengunjung. Aku berdehem mencoba memecah hening. “Ah maaf, aku melamun.” Katamu yang kembali melayangkan perhatian ke arahku. “Tidak masalah mengenang-asal kau tahu jalan pulang, seperti itu yang kubaca di novel-novel dengan akhir yang tidak membahagiakan.” Balasku sambil menatap kedua bola matamu.  Aku tahu betul bahwa di sana ada tangisan yang disekap keengganan tuk terlihat rapuh di hadapan perempuan. Kau hanya tertawa. Tawa sumbang yang membuatku sadar bahwa kau memang sedang tidak baik-baik saja. “Jadi, bagaimana menurutmu, apakah yang kulakukan selama ini sia-sia?" Kau tahu betul perjuanganku selama ini. Tiga tahun bahkan, dan semuanya harus berakhir seperti ini.” Lagi-lagi kau tertawa di ujung kalimat panjangmu barusan. Tawa yang dibuat-buat. Sandiwaramu percuma saja. Aku bahkan bisa membaca kesedihan...