[Review Buku] Di Mana Wajah Tuhan yang Maha Penyayang?
Untuk meningkatkan kepedulian ataupun kepekaan sosial, tentu saja seseorang mesti menjadi pembaca, yang tidak sekadar menyimak sekilas tapi juga bersedia tuk menyesaki kepalanya dengan segala macam respons terhadap apa saja yang ditemukan di sekelilingnya. Dari pengalaman saya membaca “Di Mana Wajah Tuhan yang Maha Penyayang” rasanya cukup tuk menyimpulkan jika penulis tentu termasuk seseorang yang peka, kritis, dan peduli terhadap isu-isu sosial yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Sejujurnya saya bukanlah pembaca opini ataupun esai, namun sejak pandemi saya mulai memprioritaskan buku non fiksi yang memang sangat dibutuhkan kepala saya, (yang sungguh bebal tersebab bertahun-tahun kelewatan menikmati genre roman fiksi yang menciptakan halu dan cukup membuat daya nalar saya mengap-mengap) namun karena buku ini jelas-jelas bukan fiksi, saya memiliki kegembiraan tersendiri bisa menjadi bagian/pembaca buku solo Mus, penulis yang sempat saya kira akan menerbitkan buku puisi. Ternyata...