Posts

Showing posts from March, 2022

[Review Buku] Di Mana Wajah Tuhan yang Maha Penyayang?

Image
Untuk meningkatkan kepedulian ataupun kepekaan sosial, tentu saja seseorang mesti menjadi pembaca, yang tidak sekadar menyimak sekilas tapi juga bersedia tuk menyesaki kepalanya dengan segala macam respons terhadap apa saja yang ditemukan di sekelilingnya. Dari pengalaman saya membaca “Di Mana Wajah Tuhan yang Maha Penyayang” rasanya cukup tuk menyimpulkan jika penulis tentu termasuk seseorang yang peka, kritis, dan peduli terhadap isu-isu sosial yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Sejujurnya saya bukanlah pembaca opini ataupun esai, namun sejak pandemi saya mulai memprioritaskan buku non fiksi yang memang sangat dibutuhkan kepala saya, (yang sungguh bebal tersebab bertahun-tahun kelewatan menikmati genre roman fiksi yang menciptakan halu dan cukup membuat daya nalar saya mengap-mengap) namun karena buku ini jelas-jelas bukan fiksi, saya memiliki kegembiraan tersendiri bisa menjadi bagian/pembaca buku solo Mus, penulis yang sempat saya kira akan menerbitkan buku puisi. Ternyata...

Menulis adalah menjaga kewarasan

Kata-kata yang ditulis bisa jadi untuk menguatkan diri sendiri, menjadi sebentuk perlawanan juga pembelaan harga diri, dan sebuah cara tuk membebaskan segala hal yang sulit dibicarakan. Sebab terkadang, keterusterangan yang dilontarkan lewat lisan, dengan emosi yang tak terbendung akan menjauhkan seseorang dari kehati-hatian memilih kata, dan seringnya akan keluar kalimat, yang meskipun benar tapi karena penyampaiannya yang kurang santun, maka tidak bisa jika tidak menyakiti siapapun yang mendengarnya. Kejujuran kadang memang pahit dikatakan, namun menuliskan semuanya dengan penuh kelembutan dan pengertian serta kehati-hatian agar tak salah memilih diksi tentu saja akan membuatnya lebih mudah diterima dan memperkecil kemungkinan timbulnya luka (tentu saja lebih baik dihindari).  Jadi, meski lebih sulit, kau tetap memilih menuliskan seluruh keresahanmu dan kau akan tetap dalam diammu yang tenang hingga emosi beserta kata-kata kasar cukup dikunci dalam benak. Kau tak ingin melemparka...