Posts

Selesai

Image
" Bagaimana dengan perasaanmu, apakah masih seperti dulu?" Tanyamu malam itu membuat jeda panjang pembicaraan kita. Entah kenapa aku tak lagi mampu menjawab ya. Ragu mulai menggerogoti dada. Pelan-pelan kutenangkan perasaanku. Kuselami baik-baik, kucari jawabannya, dan untuk pertama kalinya aku tak ingin jujur kepadamu. "Entahlah... aku tidak bisa mengatakan ya ataupun tidak. Aku tidak begitu yakin."  jawabku singkat. Entah kenapa separuh diriku merasa begitu bersalah sebab terlalu takut jika kata-kataku akan menyakitimu. Kenapa terlalu sulit mengatakan dengan tegas jika perasaanku betul-betul lenyap? Kenapa begitu berat mengucapkan bahwa perasaanku memang sudah berubah. Selesai selepas hari-hari menyakitkan berhasil kulewati. Bukankah tak ada celah untuk ragu dalam urusan perasaan. Kenapa pula di saat seperti ini aku malah menangis? Apa yang sedang kutangisi?  Mungkin aku tengah menangisi diri yang teramat takut melukaimu. "Bukankah semestin...

Satu Tahun Kepergian Kakak

Image
Hanya hitungan jam, kelahiran berganti dengan kematian. Setipis itu jarak antara kehilangan dan keberadaan seseorang. -- Aku masih mengingat semuanya. Sangat jelas, hingga ke detail hari itu, 26 Maret 2017. Malam kiat larut saat kak Fira datang membawa kabar paling menyedihkan itu. Ketukan pintu kamar diiringi tangisnya yang memilukan sontak membangunkanku. Dengan suara bergetar juga ucapan yang terbata-bata ia mengatakannya. Seketika dada terasa begitu sesak. Betapa luka mendengar kabar duka itu. Dan tangis pun merajai malam itu. Hujan tiba-tiba turun seolah ingin bersaing dengan derasnya tangisan kami. ~ Sebelum subuh kami pun berangkat. Pulang ke Maros, menyaksikan jasadmu yang terbaring kaku, pucat tanpa helaan nafas yang menjadi tanda bahwa memang, tak ada lagi kehidupan di sana. Duniaku tiba-tiba begitu riuh. Ramai yang penuh hanya diisi suara tangisan. Kulihat mama terduduk di sampingmu seperti tak rela melewatkan detik-detik terakhir bersamamu. Pere...

Memeluk Hari-hari Menyakitkan

Image
"Jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah. "Peluklah semuanya." Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu dis esali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?"  *Tere Liye -- Dalam perjalanan pulang. Maros, tempat melarikan diri dari alur yang terlalu menyedihkan.

Kenapa Menulis?

Karena menulis, aku merasa bahagia.  Setiap orang memiliki alasannya masing-masing mengapa ia suka menulis. Di salah satu esainya, G. Orwell menyebutkan bahwa salah satu alasan menulis adalah egoisme: "Bahwa setiap penulis memiliki keinginan terlihat cerdas, untuk dibicarakan, dikenang setelah mati" ... Aku sepakat tapi ternyata aku bukan seseorang yang memiliki alasan itu, sebab bagiku “bahagia” adalah alasan paling sederhana kenapa aku selalu menulis. Aku bahagia saat kata-kata yang ramai di kepala bisa dirapikan dalam satu kalimat tulisanku. Aku bahagia karena setiap keresahan ataupun suara-suara dalam hati berhasil kusampaikan lewat kata-kata yang kutulis. Aku bahagia ketika tangis ataupun bahagia bisa menjadi ingatan, kenangan dalam setiap kata yang kutulis. Aku bahagia ketika kelegaan datang mengusir banyak pikiran tidak baik selepas aku menuangkan perasaan ke dalam tulisan. Aku bahagia karena semua yang tak sanggup kukatakan selalu bisa kutulis.  Singkatnya, kebahagiaa...

Ujian

Image
“Apakah manusia mengira telah beriman hanya dengan mengatakan; kami beriman,” sementara mereka belum diuji.” (Al ankabut [29]: 69) Sederhananya: ujian hadir untuk menyeleksi keimanan seseorang. Sebab dalam situasi yang pelik saat berhadapan dengan sebuah ujian manusia selalu mempunyai dua pilihan: berputus asa dan memilih jalan yang hanya akan merugikan dirinya sendiri atau justru memilih berusaha semaksimal kemampuan, berdoa dan tetap bersabar sesulit apa pun ujian yang dihadapi hingga akhirnya ia mampu survive dan ujian itu berlalu sebagai pelajaran berharga yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. “Berat atau ringan sebuah ujian sebenarnya tidak diukur dari besar kecilnya. Tapi diukur dari perjuangan menghadapinya. Semua ujian itu berat selama tidak dihadapi dan semuanya menjadi ringan apabila dihadapi. Beratnya ujian yang menimpa umat sekarang bukan karena besarnya ujian itu melainkan karenan ringannya iman dan semangat juang mereka.” (Buku Rahasia ...