Posts

Writing For Healing Journal

Image
Agustus ini aku menantang diri sendiri untuk menulis selama 30 hari dengan tema-tema yang kuambil dari buku " Heal Your Self; Untukmu yang Pernah Terluka" (Novie Ocktaviane). Anggap saja sebagai penebus dua tantangan menulis sebelumnya yang tak kuselesaikan: gratitude journal (hanya sampai seminggu) dan  Diary Ramadan yang   berhenti di hari ke lima belas.  Sebenarnya aku ragu bisa menulis konsisten sebulan ini, tapi melihat jejak lalu ternyata aku tidak sesulit itu juga untuk komitmen menulis. Tahun lalu misalnya, aku menantang diri sendiri untuk menulis di igs selama 15 hari, selang seling sepanjang Januari dan berhasil. Ramadan 2020 pun, Alhamdulillah, aku bisa menulis selama 30 hari penuh. Nah, kali ini kembali aku mencoba untuk 30 hari menulis—yang sebenarnya (saat ini) hanya ingin kusimpan di draf pribadi, nanti di- apload setelah rampung betul, tapi karena pekan pertama rasanya sudah begitu menyenangkan dan aku yakin bisa lanjut, jadi bismillah ... aku...

Rewind Dalam Perjalanannya

Image
Bagiku, menulis adalah mengumpulkan keberanian tuk berbicara kepada diri sendiri; self talk penuh kejujuran, tentang apa saja. Apakah tentang perasaan,  pilihan-pilihan hidup, ataupun riuh isi kepala dengan segala macam pertanyaannya. Menulis adalah proses panjang untuk berdamai dengan segala sesal di masa lalu, bersepakat tuk pulih dari segala luka dan kembali meneruskan langkah dengan lebih berani. Menulis 23 rewind adalah berkontemplasi lama; mengingat banyak cerita dan kumpulan kenangan lama yang mulai terpinggirkan dari ingatan.  Rewind adalah tanda, untuk usia yang sudah melalui banyak sekali hal, menemukan beragam pembelajaran dan menjadi murid kehidupan yang bertekad tuk menuliskan sebanyak-banyaknya hikmah dalam perjalanan hidup yang teramat singkat ini. 

Dinding

Image
Barusan membaca kalimat ini: "kamu dan masa depanmu, ditentukan dengan lima orang terdekat dalam hidupmu." Dalam hati saya bertanya; siapa lima orang itu? Jujur saja, saya tidak bisa menyebut satu pun nama. Apa saya memang tidak cukup dekat dengan siapa-siapa? Pertanyaan yang cukup menggelitik, membuat saya berpikir sekaligus mencari banyak alasan. Mungkin saya terlalu gigih membuat jarak dengan orang-orang di sekitar saya. Mungkin saya sudah terlalu kecewa dengan beberapa orang yang pernah dekat. Mungkin, tanpa sadar saya teramat takut tuk dilukai. Mungkin saya hanya mencoba menghindari sakitnya kedekatan yang harus selesai. Mungkin saya sedang menjaga diri dari keterikatan dengan seseorang. Mungkin saya semakin sulit percaya kepada orang-orang. Mungkin bibir saya terlalu kelu tuk berbagi cerita, terlalu sungkan membebankan orang lain sebagai pendengar. Mungkin saya tak sudi lagi berharap kepada manusia, atau saya memang tidak pandai menjadi makhluk sosial yang baik ... ent...

Agar Tidak Menjadi Munusia Penuh Penyesalan

Tulisan kali ini semacam summary dari salah satu ceramah Ustaz Hanan Attaki. Karena manusia memang sangat rentan menyesalkan sesuatu, maka coba lakukan dua poin berikut agar kita tidak termasuk orang yang kelak penuh penyesalan, menangisi kehidupannya dan berandai-andai sebab menyesalkan begitu banyak kebaikan yang sudah dilewatkan. 1. Muhasabah Muhasabah alias evaluasi diri, menghitung-hitung kesalahan kita lalu kemudian: 2. Mu'aqabah Yaitu mengganti kesalahan-kesalahan tersebut dengan banyak kebaikan atau amalan-amalan lain. Ini semacam penebusan, semisal setelah muhasabah kita tersadar; Oh, kemarin saya lalai, menyia-nyiakan waktu hingga tilawah saya tidak seberapa, hari ini harusnya saya membaca lebih banyak, dua kali lipat bila perlu. Sesederhana itu tapi pekerjaannya tidak bisa dibilang ringan juga sebenarnya. Mumpung Ramadan dan kita semua mengejar predikat takwa, coba kita perhatikan kembali amalan kita, evaluasi lagi, sebab (entah kata sahabat atau ulama yang mana) : hisa...

Tiga Hari, Tiga Simpulan

Ada banyak sekali kejutan tahun ini. Dari Januari, hingga April; Ramadan yang tidak pernah kusangka akan seperti ini. Ada perkenalan, pengalaman, hingga kenangan yang hanya sekali seumur hidup. Seluruhnya betul-betul lautan ilmu yang memperkaya pemahaman hidup.  Bahwa kita terus bertumbuh jika tak pernah berhenti belajar. K ita semakin dewasa oleh penerimaan kita akan perbedaan; sebab setiap manusia unik dan berbeda adalah hal wajar yang tidak perlu sampai membuat perpecahan.  Kita akan menjadi sosok bijaksana dengan ilmu-ilmu yang berhasil kita amalkan, yang tercermin dari laku dan tutur kita yang santun. -Hari ketiga belas-