Posts

Turning 28

Image
Bagiku, hari kelahiran selalu menjadi waktu terbaik untuk berefleksi sekaligus menjadi momentum yang tepat tuk mengupayakan perubahan; menjadi versi yang lebih baik lagi. Sebab ada banyak hal yang masih harus dibenahi. Ada harapan-harapan baru yang masih harus dirawat. Ada prasangka baik yang harus terus diupayakan juga doa-doa yang tidak boleh berhenti. Hidup memang harus dijalani dengan baik—untuk menjadi sebaik-baik hamba.  Alhamdulillah, untuk umur kesekian;  semoga berisi keberkahan di dalamnya  dan semoga kesempatan hidup ini tidak kubiarkan hanya berlalu dan menjadi sia-sia—doa yang akan kuulang tiap bertemu kembali dengan 18 Agustus; hari pertama aku hadir di dunia. Jujur saja, hari ini adalah hari ulang tahun paling campur aduk. Hal-hal yang beberapa hari lalu sudah kurencanakan berakhir hancur berantakan karena kejadian tak terduga. Hari yang kupikir akan menyenangkan ternyata berubah menjadi ruang ujian yang menekan. Rupanya, sabarku sedang diuji sedemikian rup...

Membicarakan Buku-Buku Tahun Ini

Image
Wow … sudah 2024. Happy new year!  Yap, tahun ini memang terasa melesat cepat— meski saat berduka waktu akan terasa sangat pelan —loh malah curcol, haha). Kembali ke judul, aku mau sharing sedikit tentang buku-buku yang kubaca tahun ini. Dengan bantuan goodreads aku cukup puas karena reading list- ku terekam dengan cukup rapi dan menyenangkan. Aku masih konsisten memasang target bacaan dan menuntaskannya, meski tetap saja belum sanggup menulis review dengan serius. Total buku yang kubaca ada 51 judul menurut catatan goodreads (meski sebenarnya lebih dari itu jika dihitung dengan buku-buku yang kubaca ulang). Lumayan banyak, tapi anehnya tak satu pun bisa kusebut top books alias buku favorit. Sungguh berbeda dengan tahun lalu saat aku justru dilema memilih lima judul saja dari semua bacaanku—semoga besok-besok aku sempat menulis apa saja yang membuat buku menjadi favorit versiku. Singkatnya, tahun ini terasa hambar untuk pengalaman membacaku. Aku tidak memf...

Spritual yang Kering kerontang

Kau tak lagi menengok niat yang menghuni hati hingga tujuanmu mengabur, bahkan hilang arah Shalat lima waktumu tak khusyuk, hanya sekadar ritual penggugur kewajiban  Rakaat shalat sunnahmu terpangkas Bacaan qur'anmu tak lagi penuh perenungan  Doa-doamu tak selama dan sekhidmat biasanya Dzikirmu semakin singkat Puasa Senin-Kamismu sering terlewat Waktu kau sia-siakan dengan banyak hiburan tidak perlu. Melenakan, melalaikan hingga hari-harimu luput dari perenungan tentang mati Lalu, kau masih bertanya, apa yang menghambatmu tuk mendekat dengan-Nya? —Makassar, 10:22 pm

27; ucapan yang terlambat untuk diri sendiri

Image
Meski umur berkurang, kau masih punya kesempatan untuk "menjadi sesuatu" yang kau inginkan. Kau juga masih memiliki energi untuk banyak perjalanan, menapaki tempat-tempat terbaik di bumi-Nya.  Sebab tidak ada waktu paling tepat untuk "memulai sesuatu" selain saat ini. Dengan apa pun yang kau punya; entah tekad, semangat, dan kesabaran yang semoga tak pernah habis. Selamatkan usiamu. Lakukan apa saja yang bisa membuatmu bahagia, lebih bersyukur, dan bermakna. Sudahi mengingat masa lalu yang membuat getir. Berhentilah menjadi penonton hidup orang lain dan mulailah menulis kebaikan. —Maros, 8:22 am

Kehilangan Kata-kata

Image
Sebuah usaha membincangi diri sendiri ketika merasa sudah begitu lama tidak menulis .... Seperti kata Aan Mansyur dalam salah satu wawancara yang sepenuhnya saya sepakat  Seperti membaca, saya selalu menganggap menulis sebagai kebutuhan yang memiliki banyak alasan, untuk apa? Untuk memetakan perasaan ataupun pikiran salah satunya, namun bagaimana menghadapi keadaan kehilangan kata-kata saat ada begitu banyak perasaan ataupun pikiran yang bergejolak? Entahlah. Saya tidak melakukan apa-apa selain membaca tulisan orang lain yang kadang terasa begitu menenangkan  karena 'cukup mewakili' apa yang sebenarnya ingin saya ungkapkan, tepat di kala saya tak memiliki kata-kata yang memadai untuk menuliskannya.  Persis seperti yang terjadi belakangan atau saat ini—ketika saya melihat diri saya berlalu bersama sekian hari, bahkan bulan tanpa menuliskan apa pun. Saya merasa kehilangan sebagian diri saya sebelum saya menyebut kondisi ini sebagai fase kehilangan kata-kata. Jujur saja, say...