Posts

Showing posts from October, 2017

Life Goals dan Distraksinya

Image
Belakangan saya merasa berada di fase lumayan insecure dengan begitu banyak pikiran-pikiran  random yang menyesaki kepala. Saat kuliah semester tujuh barusaja dimulai dan bayang-bayang KKP (Kuliah Kerja Profesi) masih penuh tanda tanya sebab fakultas belum memberi kepastian atau pun pengumuman resminya sementara itu, teman-teman di jurusan yang berbeda sudah mulai mengajukan judul.  Rasanya langkah saya ketinggalan padahal kami memulai kuliah di tahun yang sama. Tidak dinafikkan jika rasa was-was mulai menyergap dan saya hanya bisa berusaha mengabaikannya dengan berpositif thinking bahwa semua butuh proses-pelan-pelan saja asal tidak jalan di tempat. Begitulah saya berusaha mendoktrin diri agar segala kekhawatiran bisa mereda atau hilang ditelan keyakinan baik. Life goals atau tujuan/capaian yang ingin diraih dalam hidup tak lepas dari umur juga beban tanggungjawab, baik sebagai anak seperti yang dicita-citakan orang tua, sebagai mahasiswa yang baik, atau pun sel...

Bayang-Bayang Masa Depan

Image
Di catatan yang lalu aku pernah menuliskan jika ternyata usia seperti jebakan waktu berupa sekumpulan dilema yang tak kunjung usai seiring berkurangnya jatah umur manusia. Aku sering mengatakan jika inilah fase  quarter life crisis  yang terlalu dini. Di umur yang baru saja beranjak dari 20 aku merasakan banyak perubahan drastis, baik urusan yang mungkin terlihat receh hingga yang betul-betul serius.  Pertama;  Perkara amalan atau ibadah dan hal-hal yang menyangkut masa depan nanti selepas kehidupan di dunia tentunya. Entah tepatnya sejak kapan, aku slalu disesaki dengan banyak pertanyaan seputar kematian.  Gimana kalo esok waktu kematianku? Apa kabar amal-ibadahku-sudah cukup kah tuk membeli tiket surga? Hingga yang membuatku nyaris frustasi  “katanya kamu mau khusnul khatimah (sebaik-baik akhir) tapi kok malah malas-malasan-masih sering lalai-bagimana jika di detik kesia-siaan itu malaikat maut malah datang menjemput? Doa harus berkolerasi den...

Masih Mahasiswa Baru

Image
Sudah pukul 2:55. Saya berusaha menggali beberapa kisah di awal kuliah. Berawal dari membaca kicauan twitter di tahun 2014, saya lalu tertawa mengingat betapa semester pertama, kedua dan ketiga adalah periode ter-labil yang pernah saya lalui. Sebuah foto yang sempat saya posting menjadi gerbang kenangan yang kemudian membuat saya menulis ini.  Tanggal 23 September 2014 adalah hari yang tak terlupakan. Selasa pagi dengan semangat yang meletup-letup, saya menginjakkan kaki di fakultas FISIP, sembari mencari kelas pertama sekaligus kuliah perdana sebagai anak sospol. Sebenarnya kuliah pertama hari senin tanggal 22, tapi lagi-lagi karena kuper saya yang terlalu akhirnya saya ketinggalan info. Finally, hari itu terlalu berkesan hingga rasanya mustahil tuk hilang di tumpukan kenangan yang kian hari semakin sesak dengan cerita-cerita baru. Matahari pagi bulan september menjadi latar penuh kehangatan untuk sebuah awal yang penuh dengan perasaan-perasaan anomali. Ada haru juga ketakutan...

Review: Sajak Penghuni Surga: Kumpulan Puisi

Image
Sajak Penghuni Surga: Kumpulan Puisi by Wawan Kurn My rating: 5 of 5 stars Untuk seseorang yang baru saja mengaku sebagai penikmat puisi, buku sajak penghuni surga sepertinya berhasil mereduksi keengganan saya untuk membaca lebih banyak lagi buku-buku puisi-malah sepertinya saya mulai ketagihan. Sebelumnya saya sempat membaca beberapa buku puisi koleksi sahabat saya yang sudah lama menjadi pecandu puisi. Sesuatu yang kadang tidak bisa saya pahami “Bagaimana mungkin ia sangat menyukai sekumpulan kata dipenuhi metafora-metafora atau pun diksi yang meliuk-liuk-yang bilang begini maksudnya begitu (meminjam bahasanya Sapardi) hal yang rasanya lebih tepat saya katakan ambigu atau abu-abu? Entahlah... Sepertinya puisi memiliki daya magis yang slalu berhasil menghipnotis para pembacanya. Januari lalu saya iseng membeli buku puisi hujan bulan juni karya fenomenal Sapardi yang kemudian malah membentuk pandangan saya tentang puisi bahwa: puisi hanya diperuntukkan untuk mere...

Coret-Coret Tentang Perasaan

Image
Belakangan aku punya kebiasaan baru. Menulismu; sesuatu yang terjadi begitu saja sejak kata “kagum” kusematkan untukmu. Aku memang suka menulis, tapi admit it , aku hanya menulis sesuatu yang menurutku penting atau berkesan. Cerita-cerita yang tak ingin kulupa seiring waktu berganti dan kian bertambah banyaknya kenangan yang mengendap di kepalaku.  Memori manusia tidak dirancang tuk mengingat segala hal, maka dengan menulis aku ingin membuat segala tentangmu terabadikan dalam catatan yang kutulis di halaman ini. Aku menulis ini untuk mengarsipkan perasaanku. Sesuatu yang tak pernah mampu kukatakan. Oktober basah. Persis seperti tahun-tahun sebelumnya. Penuh hujan. Aku menyukainya meski kutahu betul, jika rintiknya selalu saja membuat suasana sendu, serta merta membangunkan jiwa melankolisku. Seolah tak ingin melewatkan sedetik pun bulir hujan yang menitik kaca jendelaku, demikian dengan kenangan, perasaan yang tak ingin sekedar mengendap di kepala, ia ingin ternarasikan ...

Review: Rindu

Image
Rindu by Tere Liye My rating: 5 of 5 stars Selepas membaca"Rindu"tepat jam 1:18 malam.. Saya terpekur lama-berkontemplasi dalam-dalam. Hm, tidak sia-sia saya duduk beberapa jam hanya untuk menamatkan novel ini. Karya Tere yang memang sudah saya tunggu-tunggu sejak sebulan lalu. Dan seperti novel-novel terdahuli, saya mau bilang "kereen banget" pokoknya. Tentang 5 pertanyaan penting. 5 jawaban dalam satu perjalanan panjang. Agak mirip dengan Rembulan, novel bang tere yang paling saya sukai:) Sebuah pelajaran berharga tentang kehidupan dengan berbagai pamahaman-pemahaman baik yang terselip dalam isi cerita. Seperti biasa, Tere liye slalu bisa menjelaskan pesan-pesan yang terdapat dalam tulisannya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Sukses membuat saya tertegun sejenak, menangis terharu dan akhirnya terjaga hanya skedar untuk kembali merenungi hidup ini. Betul-betul malam yang melankolis. Thanks bang Tere, buku/novel ke 20 y...

Akad

Image
Menyaksikan teman-teman memakai gaun pengantin seperti di beberapa akad sebelumnya, aku tak pernah semelankolis melihat foto ini. Dear My beloved friend, Rabiatul Adawiah... Akad terucap. Ganjil pun menggenap. Mimpi menjadi nyata. Senyummu merekah. Barakallah.. kusemogakan setiap yang terbaik untukmu. Selamat menikmati cinta yang halal, cinta yang hakiki. Selamat menjalani takdir terbaikmu. Kini kau paham jika cinta bersemi selepas akad slalu lebih indah dibanding setumpuk ketidakpstian sebelumnya. Rasanya baru kemarin kita bertemu. Saling mengenal hingga akhirnya akrab. Aku tak tahu mengapa takdir-Nya slalu saja mengagumkan. Untuk sebuah temu yang menjadi awal ukhuwah diantara kita. Mari mengenang kawan.. Bisa dibilang kebersamaan kita sangat singkat-bahkan tak sampai setahun. Sekelas hanya beberapa hari sebelum akhirnya aku memilih jalanku sendiri. Namun, masih kuingat dengan jelas beberapa potong kenang perihal masa lalu berisi namamu, wajahmu dan segala hal per...

Memaknai Hidup

Image
Sejatinya hidup tak pernah betul-betul berakhir. Di dunia kita memang kefanaan namun di akhirat manusia adalah keabadian dengan dua takdir yang saling bertolak belakang. Berada di seburuk-buruk tempat atau justru menetap di sebaik-baik akhir bersama orang-orang pilihan. Seluruh perbuatan kita saat ini adalah rangkaian usaha tuk meraih kebahagiaan tak ternilai harganya atau kesengsaraan berupa siksaan tak berujung. Setiap kita bertanggjawab penuh atas diri masing-masing. Untuk setiap tingkah laku, sikap juga seluruh berbuatan-baik atau pun buruk akan berbuah manis atau justru menjadi sesal paling pedih sebab waktu selamanya tak mampu disuruh berbalik ke masa lalu tuk memperbaiki setumpuk khilaf di dunia. Hari ini adalah kenyataan yang harus dihadapi untuk melangkah menuju masa depan. Setiap keputusan yang kita ambil akan memiliki sebab-akibat di hari kemudian. Ada kalanya kita akan berjumpa dengan kehadiran juga perpisahan. Dan tiap peristiwa tentu akan menawarkan makna. Sem...