Monolog Pagi



Kita pernah dalam diam saling memendam. Masing-masing merasa jeda adalah keharusan. Untuk meredam kebosanan, melayani ego yang enggan mengalah. Atau justru sekedar menyepakati: kita kembali menjadi dua orang asing tanpa perlu mengutarakan sebuah alasan.

Lalu, saat dialog-dialog menjadi kaku dan hambar, berbagai pertanyaan mulai mengakar di kepalaku. Kesimpulan dan segala asumsi yang kubuat nyatanyaa tak pernah ampuh mereduksi rindu yang seperti hujan deras.


Ada saatnya pagi terasa semenyesakkan ini, ditahan dengan harapan yang merapuh. Air mata sesekali kuseka bersama kalimat baik-baik saja. Ya, membohongi diri adalah pengakuan paling pahit saat sebenarnya aku memang sedang tidak baik-baik saja. Tanpamu.

Popular posts from this blog

29 dan perkara-perkara yang lalu

Untuk Mima'

Perbaikan Dimulai Dengan Ilmu