Dalam Bayang-bayang Maut
Mengapa segala hal terus-menerus, begitu konsisten, mengingatkanku pada kematian? Lagu yang kudengar, mimpi yang tidak bisa kulupa ketika terbangun, buku yang kubaca, bahkan tulisan acak yang kutemukan di beranda. Semuanya seperti beramai-ramai memberi tanda. Aku ketakutan, gemetar menyadari jika waktunya saja yang rahasia, kematian pasti datang. Jodoh masa depan sudah menunggu dengan pasti; maut.
Kenangan lama muncul terlalu sering, begitu kuat menarikku pada satu titik ketika aku teramat mudah menenteskan air mata emosional. Aku … berkali-kali terjatuh. Kegelapan seolah mengurungku, memerangkapku dengan tembok-tembok tinggi yang sulit ditembus. Bagaimana lolos dari penjara seperti ini?
Aku menganggap ini semacam pertanda baik, bagaimanapun ngerinya merasa diri seolah tercabut dari kehidupan yang sesungguhnya. Mungkinkah Engkau ingin aku segera berkemas? Lebih baik lagi mengumpulkan bekal selagi mampu dan kesempatan mengemis ampunan-Mu masih tersedia.
Memang belakangan ini ingatan tentang akhir hidupku entah mengapa sangat karib di setiap hariku. Aku merasa sebagai tawanan malaikat maut yang sebentar lagi dijemput menuju alam selanjutnya, sebuah tempat yang tentu hanya mampu kujangkau dengan segala macam dugaan.
Dunia ini, kesementaraan yang kadang melilitku pada pesonanya, melupakanku akan kehadiran-Mu. Sekarang, setelah semua yang terjadi, aku berharap Engkau takkan melepasku dari jebakan ingatan tentang mati. Aku selalu ingin mengingatnya, sebagai kenyataan, masa depan yang akan kucintai dengan cara-cara yang baik. Menyiapkan bekal, melepas keterikatan dari makhluk atau apa pun selain Engkau—semuanya ingin kuperjuangkan.
Terima kasih untuk tanda-tanda-Mu, peringatan yang teramat gamblang tentang bagaimana aku harusnya melanjutkan hidupku. Walau terkadang nafas nyaris putus oleh duka, kaki tertanam di lumpur dosa akan penyesalan lalu, rupanya aku masih percaya: kasih-Mu masih lebih besar dari semua masalahku, ketakutan, atau kecemasanku. Penderitaan yang Engkau hadirkan sebagai wujud ikatan, terasa amat erat, tiba-tiba membuatku merasa lebih dekat, ketergantunganku penuh, hanya kepada Engkau.
Sebab aku tak pernah memiliki daya selain oleh kekuatan yang Engkau titipkan padaku. Aku sungguh lemah, tak mampu berdiri tanpa bantuan-Mu. Kepayahanku ini adalah bukti, hanya Engkau satu-satunya buhul tali paling kuat untuk berpegang, tempat mengadu satu-satunya. Sebagai hamba yang tak memiliki apa-apa, aku datang meminta kasih-Mu, memohon maaf-Mu. Berharap Engkau berkenan mendamaikan segala gejolak hatiku, menentramkan hidupku. Tak masalah jika harus lewat kejadian menyedihkan atau kesadaran yang mematikan.
Karena semua urusan orang beriman adalah baik, aku sangat percaya tentang ini, dan bukankah kata-kata-Mu pun sudah seterus terang itu menjelaskan, bisa jadi yang tidak kita sukai malah sesuatu yang baik, dan begitu pula sebaliknya? Kau mahatahu, aku sok tahu.
Tolong, jaga keyakinanku ini agar imanku tak lagi merosot terlalu jatuh. Kembalikan aku ketika langkahku mulai mencari jalan lain selain jalan-Mu.
—Ruang tengah, ketika Makassar menjadi kota yang sangat nyaman untuk kesendirian ini