Everything has changed. Both around me, and within me. New month is new beginning. New me. I'm trying to improve myself. To fall in love with the best version of me.
Aku menyebutnya ritual tahunan sebab satu kali dalam setahun, aku ingin betul-betul menikmati setiap detik dalam 24 jam sehari yang akan mengingatkanku banyak hal. Hari kelahiran. Hari yang sebenarnya biasa saja namun selalu menghadirkan semacam emosi khusus yang membuatku merasa wajib menyempatkan diri untuk duduk tenang dan mulai merenungkan hidup sebelum mencoba menulis sesuatu, semacam kontemplasi ataupun sekadar menceritakan kembali masa lalu yang selalu mendatangkan rindu. Waktu memang melesat cepat, aku tiba di umur dua puluhan akhir. Sudah begitu banyak yang terjadi dan bank ingatan kian sesak dengan memori dan segala macam perasaan yang menyertainya. Orang-orang datang dan pergi. Satu fase berganti dengan fase lain. Beberapa hal selesai sementara hal lain baru dimulai. Dan di antara seluruh waktu yang berlalu dengan ragam peristiwa, ternyata aku terus saja merindukan masa lalu. Waktunya bernostalgia. ...
Ramadan dan kenangan-kenangan yang memburam... Ramadan selalu menghadirkan rindu. Kerinduan yang tak selalu bisa dibicarakan—entah sebab kenangan akan ramadan terasa terlalu personal atau memang rasa rindu terkadang begitu abstrak. Tahun ini adalah ramadan ke-30 dalam hidupku. Pertama kali dalam hidupku pula, puasa tidak bersamaan dengan mama. Meski sudah bukan pertama kali kami tidak sahur bersama karena beda tempat, tetap saja rasanya berbeda. Ah, rupanya pelajaran pertama yang kuterima di ramadan ini adalah tentang menerima perbedaan dari orang yang tak disangka akan memiliki pilihan ataupun keyakinan yang tidak lagi sama (soal penentuan puasa). Sejujurnya aku tidak tahu apa yang ingin kutulis selain rindu-rindu yang begitu panjang akan masa lalu. Aku yang begitu mahir menyimpan kenangan, begitu senang memutar ulang kilas balik hidup hingga meneteskan air mata tanpa sadar. Begitu melankolis—hal hal yang bernama masa lalu itu, khususnya masa kecilku. Aku rindu. Ramadan ketika it...
Titik Nol • Pembersihan Jiwa • Oleh Ustaz Agus Al Muhajir Rahimahullah • Faithamins Podcast Jumat pagi saya melihat Instagram story seorang penulis tumblr yang selama ini sering saya jadikan salah satu rujukan mengambli bacaan. Saya selalu suka dengan kutipan dari buku yang biasa diunggah berserta kalimat reflektifnya. Lalu pagi itu, saya menemukan link podcast di Igs beliau yang langsung mengarahkan saya ke Spotify. Satu jam lebih pembahasan yang membuat saya tercenung cukup lama, menulis ulang semuanya agar bisa menjadi pengingat diri, catatan yang cukup panjang yang membuat saya merasa harus membagikannya agar orang lain pun bisa ikut meneguk nikmatnya ilmu. Ada pun pembahasan podcast ini tak jauh-jauh menyinggung hal yang begitu penting bagi para penuntut ilmu, seperti: Tiga adab menuntut ilmu (agar mendapatkan ilmu berkah) 1. Adab terhadap diri sendiri 2. Adab terhadap sumber ilmu 3. Adab terhadap ilmu itu sendiri Ketiganya betul-betul diperlukan, tentu agar menghadiri...