Suatu Sore yang Melankolis
Aku selalu mencintai hujan seperti halnya mencintai banyak hal yang ditawarkan semesta. Entah itu berupa semilir angin di sore hari, senja-senja yang megah ataupun matahari yang tak pernah alfa menjemput pagi. Untuk setiap kenyamanan yang jatuh bersama tiap tetesnya, maka menulis tentang hujan, aku menolak bosan. Suatu sore yang melankolis saat aku tengah asik memandang hujan disalah satu sudut kampus. Karena mencintai hujan, maka hadirnya kuanggap sebagai euforia setelah rutinitas kuliah yang melelahkan. Seperti itu yang kurasakan tapi tidak demikian dengan beberapa orang disekitarku. Diantara mereka ada yang hanya terdiam dengan ekspresi tidak begitu senang melihat hujan. Ada juga yang justru sibuk mengoceh, merutuki hujan yang tiba-tiba turun sembari berharap, hujan segera reda. Hmm… Karena setiap orang bisa melihat hujan yang sama namun tidak dengan perasaan yang sama. Untuk orang-orang yang tidak suka kehadirannya, kurasa itu wajar saja. Sebab hujan akan menjadi...