Posts

Januari dan beberapa hal setelahnya

Image
Selepas sore yang mengantuk dan sedikit pusing menunggu waktu berbuka, kuhabiskan waktu dengan blog walking. Mencoba menemukan kembali kesenangan lama yang entah sejak kapan tak lagi menjadi rutinitas. Maklum, dulu sekali, ada masa ketika tiap hari selalu kusempatkan diri membaca tulisan teman blogger, yang hari ini semakin sunyi saja—tak ada lagi saling mengunjungi dan membalas komentar, bahkan aku pun merasa tak butuh lagi mengaktifkan kolom komen. Ehm ... tiba-tiba jadi ruang nostalgia. Gara-gara membaca beberapa blog tadi (yang sekian lama ditinggal pemiliknya, entah karena sudah pindah rumah atau faktor kesibukan hingga tulisannya berhenti di satu titik), aku tergerak menulis sesuatu—tulisan yang saat ini kuketik, yang masih tak tahu akan ke mana—tapi sudah diberi judul yang sengaja kutulis pertama untuk mengawali,  what's on my mind ? Sebab ada banyak hal yang sering datang di sela-sela rutinitas harian, pikiran acak yang sayangnya tak selalu bisa kutulis meski begitu ingin. ...

Tentang Belajar

Image
Belajar memang proses panjang—selama hidup yang sungguh sebentar ini. Sayangnya, tidak semua orang merasa butuh belajar atau lebih tepatnya, barangkali tidak ada kesadaran dalam diri bahwa 'belajar' adalah hal yang tidak boleh berhenti selama ajal belum tiba. Kita bisa belajar dari mana saja, lewat siapa saja, apa pun medianya; buku-buku, pengalaman orang lain, alam yang terhampar, bahkan kepada hal-hal kecil di sekitar kita. Maka beruntunglah mereka yang selalu mampu menarik pelajaran dari segala hal yang dihadirkan dalam hidupnya. Mereka yang memiliki kepekaan tuk merasai sesuatu, menelaahnya, hingga memperoleh pelajaran darinya. Mereka yang memiliki mental pembelajar, selalu merasa harus terus belajar, menjadikan hidup sebagai kelas raksasa tuk menimba pemahaman. Perihal belajar, Cak Nun dalam buku Mencari Buah Simalakama menulis: "Ada yang selalu belajar, ada yang sedang belajar, ada yang baru sekarang belajar, ada yang belum belajar, ada yang malas belajar...

Membicarakan Kehilangan

Sejak bapak meninggal 26 September 2006 lalu, bagiku—September adalah waktu untuk berkabung. Bulan yang sepanjang hidup akan kuingat sebagai perpisahan penuh air mata. Bukannya ingin mendramatisir kenangan, tapi bagiku, kehilangan karena seseorang yang kaucintai menutup usia adalah duka yang tak tertandingi. Sejauh ini belum ada yang menyaingi perasaan sedih karena ditinggalkan oleh bapak. Sebab setelahnya, rindu selalu datang bersama tangis yang akan susah payah dihentikan. Sudah 16 tahun sejak hari terakhir kali kulihat bapak. Kilasan belasan tahun silam itu tak bisa hilang dari ingatanku; bapak yang terbaring dengan mata terpejam, tanpa nafas dan gerakan apa pun lagi. Aku yang tidak cukup kuat melihat itu berpindah ke kamar sebelah, menangis sejadi-jadinya lalu setelah keluar dari kamar tempat bapak menghembuskan nafas terakhirnya, tak pernah lagi kulihat sosoknya.  Umurku baru sepuluh tahun kala itu. Aku terlalu takut melihat bapak dibawa pergi, jadi selepas kelelahan menangis ...

Selepas Agustus

Image
Everything has changed. Both around me, and within me. New month is new beginning. New me. I'm trying to improve myself. To fall in love with the best version of me. Keep moving forward, Raa. 

Day #30 I heal Myself

Image
Ternyata, pulang kepada-Nya adalah cara terbaik yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan luka. Pulang berarti kembali tersambung dengan-Nya, Tuhan yang maha segala. Dia yang sudah menulis skenario hidup manusia yang sayangnya masih sering disalahartikan.      Pulang kepada-Nya adalah kembali, mendekat sedekat-dekatnya, mengakui segala kelemahan dan kekhilafan diri yang takkan sanggup kembali berdiri tanpa kekuatan-Nya. Berdoa dengan penuh harap agar dititipi kesabaran terhadap takdir yang lalu ataupun yang masih tanda tanya, semoga selalu diberi kebijaksanaan mengambil pelajaran dari setiap ujian yang hadir.  Karena pada akhirnya, healing terbaik adalah pulang kepada-Nya, mengadukan seluruh luka sembari memohon diberi kelapangan untuk ikhlas menerima semuanya. Karena hati manusia dalam genggaman-Nya, setiap rasa sakit yang pernah memenuhinya tidak akan hilang tanpa kehendak-Nya.