Posts

Showing posts from November, 2018

Memeluk Kehilangan

Image
Detik-detik merangkak lesu kau dan aku masih sibuk memungut satu per satu kenangan yang berserakan, yang saban hari tidak pernah berhasil kita singkirkan Hingga sore menjelang, akhirnya kita bersepakat untuk pulang tidak peduli jika esok hujan akan datang membuat basah ingatan dan kita akan kedinginan  memeluk kehilangan masing-masing --Makassar, rainy november 

Terima Kasih

Terima kasih sudah berusaha meluaskan sabar. Selalu. di setiap sayatan luka dan derai air mata kesedihan. Terimakasih sudah bersusah payah megupayakan syukur. Selalu. Di seluruh bahagia, di segala ujian dan tetiap kehendak-Nya. Terima kasih sudah melakukan banyak kesalahan yang memahamkan banyak hal kemudian. Terima kasih untuk tidak pernah berhenti belajar. Terima kasih sudah bersedia menepikan ego dan mendengar kata hati. Pertarungan pikiran dan perasaan tidak akan ada habisnya. Jangan pernah berhenti berjuang. Terima kasih telah memilih bertahan. Hari ini, nanti, dan seterusnya... Terima kasih, aku, atas seluruh kisah yang memenuhi angka-angka di almanak tahun ini. --Makassar, sepertiga malam kesekian

Patah Hati di Tanah Suci

Image
Lalu, Allah menurunkan hujan pada akhir ritus ini. Bagaimana aku tak membacanya sebagai sebuah tanda? Sedangkan Allah menyuruh manusia sejak ayat Al-Quran pertama turun dengan perintah “Bacalah!” Aku menggeleng, berteriak, tertawa, menangis, bertakbir, dan gila... pada waktu yang sama. Aku menengadah, membiarkan air hujan masuk ke tenggerokan. Jika setiap dini hari aku datang ke Masjid Nabawi dengan memeluk buku Lelaki Penggenggam Hujan dan merasa sedang melapor kepada Rasulullah “Ya Rasulullah ... aku tak punya amalan yang pantas diutarakan, kecuali bahwa aku menulis buku tentangmu dengan air mata cinta.” Dalam tawaf itu, aku mendapatkan jawabannya. (Hal.290) Salah satu bagian yang membuat air mata saya jebol, seperti ikut serta merasakan teduhnya hujan di tanah suci. Saya betul-betul ikut patah hati, tidak menyangka akan terseret ke dalam perjalanan ini dengan emosi yang begitu rupa. Buku ini adalah surat panjang Tasaro kepada bapaknya. Ia menuliskan cerita perjalanan...

Jalan Kesunyian

Image
Ada waktu-waktu tertentu aku memilih menghilang. Tidak betul-betul hilang. Hanya sedang menepi dari riuhnya dunia lalu mulai menapaki jalan kesunyian. Rute yang tak ditempuh kebanyakan orang. Sebuah jalan yang membuatku melangkah dengan begitu hening.   Jalan kesunyian, saat aku merasa tak perlu lagi mengabarkan segala hal yang sedang terjadi. Tentang diri sendiri atau apa pun itu, memang tak semuanya harus dibagi, dipublikasikan, diketahui banyak orang. Ada kalanya, kabar bahagia, kesedihan, segala lelah dan beragam ikhtiar memperjuangkan sesuatu akan lebih baik kita bisukan. Tidak perlu diceritakan, kecuali kepada orang terdekat, yang tulus dan bisa dipercaya.    Jalan kesunyian, saat aku betul-betul menikmati kesunyian, meresapi detak dan mulai melihat orang-orang baik yang mencari keberadaanku. Tenyata, jumlah mereka memang sangat sedikit. Tidak masalah, sebab sedikit orang namun betul-betul tulus lebih berharga dibanding ribuan yang kita sebut kawan tap...