Posts

Suatu Sore di 2016 (Part 2, The End)

Image
(Part sebelumnya baca Disini )  Sesampai di rumah, Afraa menemukan ibunya tengah asyik membaca di  sofa ruang keluarga. Dipangkuannya, terlihat si bungsu yang masih TK sedang terlelap sambil memeluk boneka panda yang kemarin dibelikan ayah. Afraa hanya berlalu sambil melemparkan seulas senyum saat ibu menoleh ke arahnya. Sepertinya ibu baru menyadari bahwa putri kesayangannya sudah pulang. Diikuti tatapan heran ibunya, A fraa menuju kamar yang terletak di lantai dua. Ia sedang tidak mood untuk berbasa-basi seperti yang biasa ia lakukan sepulang kampus. Di kamar yang bercat pink-ungu dengan motif volkadot, Afraa segera merebahkan tubuhnya ke kasur, lalu kemudian mulai memejamkan mata. Ia merasa sangat lelah dan hanya ingin terlelap. Setelah setengah jam lebih berbaring dengan mata tertutup, ternyata ia belum juga bisa tertidur. Entah kenapa, sulit sekali untuk berhenti memikirkan isi surat yang mengundan g air mata beru lang kali . Dan sekali lagi, Afraa ...

Suatu Sore di 2016

Image
Suatu sore di 2016, tepatnya hari ketiga di bulan Januari. Seorang perempuan tengah berdiri sambil memegang selembar kertas yang terlihat kusut seperti habis diremukkan dalam kepalan tangan yang kuat. Perlahan ia membaca kembali kalimat terakhir dari tulisan diatas kertas tersebut. Lalu perlahan air matanya mulai menetes, menciptakan bercak bening diantara huruf-huruf yang berjejer rapi. Beberapa katanya terlihat agak buram, tak lain karena sebuah tangisan yang berulangkali membasahinya. Sekelilingnya nampak lengang, tak ada sepasang mata pun yang  melihatnya. Ia merasa bahwa di kampus ini, tak ada tempat yang paling tepat untuk mengasingkan diri selain sudut lantai lima-tempat paling sepi di waktu sore. Masih dengan posisi yang sama, ketika hening di sekitarnya terasa pas dan membuatnya nyaman untuk melahap sedih sendirian. Kertas yang ia pegang dengan tangan sedikit bergetar malah beradu bersama tangisnya yang semakin kencang. Entah sudah berapa kali ia membaca kertas t...

Seperti Hujan Sore Ini

Image
Mengingatmu, seperti hujan sore ini. Aku selalu menyukainya meski hadirnya membuat soreku terasa lebih sendu. Kau tahu? Sulit sekali mengabaikan percik rindu yang jatuh seperti hujan sore ini. Tak seorang pun yang mampu menghentikan geraknya. Hadirmu hanya singgah beberapa saat. Aku tak bisa menahanmu lebih lama seperti harapanku , p ersis seperti hujan sore ini. Turun dengan derasnya, lalu berhenti saat aku masih menginginkannya. #One Day One Post 

Sekedar Coretan Penutup Hari ini

Image
Hari ini kita melihat matahari, juga langit yang sama. Tapi lagi-lagi, masih dengan perasaan masing-masing. Pagi yang cerah bisa saja terasa lebih sendu untuk seseorang yang tengah melahap sedih berpuluh suap, mencicipi pahitnya  kecewa, lalu membungkusnya serapi mungkin dengan sebuah senyuman seolah itulah tolak ukur untuk mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Singkatnya, seperti itulah sandiwara yang umum dilakukan tiap orang dan khusus untuk makhluk yang bernama perempuan, itu merupakan salah satu keahliannya. Menjadi aktor paling handal dalam hal menyembunyikan setiap inci  perasaannya, menutup rapat segala duka lara, membuat punggungnnya seolah memikul beban berat tak terlihat. Sore tadi sepulang kampus, langit terlihat kelabu seolah sebentar lagi akan turun hujan. Dan benar saja, selepas isya hujan betul-betul turun. A khirnya kupaksa menggerakkan jemari bermain dinatas keyboard laptop, menuliskan stiap kata yang tengah berseliweran di kepalaku. Biarkan s...