Posts

Showing posts from May, 2018

Mencintai Al-Qur'an

Image
Sekiranya hatimu bersih, niscaya kamu tidak akan kenyang (bosan) dengan firman Tuhanmu. (Utsman Bin Affan R.A) Sudahkah kita mengkhatamkan Al-Qur'an? Sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan dalam-dalam. Bahwa ramadan adalah bulan Al-Qur'an; momen terbaik untuk kembali meresapi ayat-ayat-Nya, mempelajari dan mentadabburi isinya, hingga mengkhatamkannya berkali-kali. Lantas, sudah sejauh manakah interaksi kita dengan Al-Qur'an?  Jika waktu kita masih terisi oleh banyak kesibukan-kesibukan yang melalaikan diri dari membacanya, maka tanyakan kembali "apakah kita betul-betul mencintai Al-Qur'an? " Sebab jika kita mencintainya tentu kita akan meluangkan waktu untuk slalu bersamanya, sesibuk apapun kita. Bukankah "cinta" adalah alasan dari banyak sebab termasuk: mengapa seseorang sulit meninggalkan sesuatu? Jawabannya; karena cinta. Demikian dengan Al-Qur'an, jika kita mengaku mencintainya maka buktikan dengan selalu mengisi detik-detik ...

Introspeksi Ramadan

Image
"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan dengan keimanan dan niat yang baik, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ." (HR. Bukhari) Sepuluh hari ramadan berlalu, beberapa pertanyaan mulai mendesak tuk direnungkan dalam-dalam.  Apa kabar ibadahku? Sudah maksimal kah? Ah, rasanya belum cukup maksimal.  Di sepertiga malamku masih kurang dengan sujud-sujud dan doa-doa panjang. Tilawahku tidak sebanyak di awal ramadan, bahkan lajunya kian melambat. Dzikir pagi dan petang kadang tidak utuh juga jumlah rakaat salat dhuha yang masih begitu-begitu saja. Ibadah-ibadah lain pun rasanya masih sangat jauh dari kata efektif. Sungguh, betapa banyak waktu berlalu namun  aku masih penuh dengan penundaan hingga prioritas harian sering tak berjalan sesuai harapan. Seketika aku merasa ditikam oleh penyesalan akan detik-detik yang kubiarkan berlalu dalam kelalaian.  Adakah ramadan selanjutnya masih kujumpai?  Sebuah pertanyaan misterius untuk me...

Dear Jomblo

Image
"Jom(b)lo itu pilihan"  demikian kalimat pembelaan mereka yang merasa tidak nyaman atau mungkin kurang sepakat jika jomblo sering disandingkan dengan kata-kata kurang mengenakkan seperti;  tidak laku, fakir asmara, kesepian, kosong  dan sejumlah statement negatif yang men judge bahwa jomblo memang bukan sesuatu yang baik. Kadang, saya pun tidak mengerti dengan sejumlah meme komik yang membuli para jomblo. Pun di setiap acara kumpul-kumpul khususnya jika di pesta pernikahan mereka yang masih jomblo kerapkali dijadikan sasaran kalimat;  ciee yang jomblo... atau, kapan nyusul-etc... Semenyedihkan itukah seorang jomblo?  Jomblo itu pilihan,  sepenuhnya saya pun menyepakati kalimat ini. Bahwa menjadi jomblo tidak hanya pilihan tapi juga bagian dari prinsip hidup. Ya, saya termasuk seseorang yang menolak tegas aktivitas pacaran sebelum pernikahan. Bukan semata-mata karena pacaran memang tidak ada dalam syariat islam, lebih dari itu saya terlanjur sepak...

Pemaksaan

Image
Beberapa hal hanya bisa terwujud jika ada pemaksaan. Kata “paksa” tidak selalu berkonotasi dengan sesuatu yang tidak baik. Seperti dalam memulai sebuah habit pun kadang harus diawali dengan pemaksaan diri sebelum akhirnya betul-betul terbiasa hingga tidak akan ada lagi perasaan berat ataupun sulit seperti saat pertama kali; sebab masih ada unsur paksaan. Pun demikian, saat berhadapan dengan hal-hal yang nampak sangat sulit atau bahkan mustahil tuk terwujud, namun nyatanya kita bisa tetap berhasil berkat adanya pemaksaan. Sebuah pemaksaan baik; memaksa diri melawan seluruh ketidakberdayaan, rasa takut, ragu, pesimis hingga memaksakan diri tuk melampau batas kesanggupan itu sendiri. Kadang kita melihat sesuatu terlampau sulit tuk digapai, namun karena ada tekad dibarengi pemaksaan membuat kita mati-matian memperjuangkannya, hingga kita pun mungkin takkan menyangka jika hal besar tersebut (yang sebelumnya kita pun ragu akan kemampuan kita sendiri), nyatanya berhasil juga kita takluk...

Perempuan yang Masih Sendiri

Image
Aku masih sendiri sebab aku ingin eseorang yang kelak menjadi penggenapku mendapatkan yang terbaik. Seseorang yang akan kuberikan seluruh kasih sayang, juga cinta yang utuh. Cinta yang sekian lama kupelihara sepanjang kesendirianku. Cinta yang belum pernah terucap kepada laki-laki selain ia. Sebab kesendirianku selama ini adalah sebuah usaha menyusun sebaik-baik masa depan. Aku hanya sedang berusaha memperbaiki, juga memantaskan diri karena kelak, darikulah akan lahir generasi yang siap berdiri di barisan terdepan membela dan memperjuangkan agama-Nya. Menjadi sebaik-baik hamba, pun setaat-taat anak kepada kedua orang tuanya. Kesendirianku saat ini tidak lain agar nanti, ia adalah seseorang yang pertamakali merasakan sesuatu yang selama ini mati-matian kujaga. Percayalah, aku hanya ingin menggenggam tangannya sebagai tangan laki-laki pertamakali. Aku menjaga hati, juga diriku sepenuhnya untuk ia seorang. Karena kesendirianku adalah alasan paling tepat untuk menjaga diri. Kau t...

Drama Perempuan

Saya sering menjadi pendengar curhatan-curhatan beberapa teman perempuan dengan problem yang hampir sama. Di tiap cerita saya selalu saja disuguhi pertanyaan berulang: Bagaimana cara move on cepat atau bagaimana melepaskan diri dari zona pertemanan, zona adik-kakak, Hts-etc, yang ternyata berujung php?  Betul-betul sederet drama perempuan. Terjebak dengan keadaan yang tanpa sadar membuatnya nyaman namun pelan-pelan malah melukai dirinya sendiri. Berulangkali ingin membebaskan diri namun slalu saja gagal sebab makhluk pecicilan bernama hati terlalu susah diajak kompromi. Namanya perempuan, perasaan memang slalu mendominasi dibanding logika. Betul, mengatasi perasaan sendiri adalah hal yang sukar untuk seorang perempuan. It’s okay, but... jangan mengabaikan logika dengan dalih belum mampu menaklukkan hati. Plisss... Tangguhlah melawan perasaan sendiri. Jangan berlarut-larut dalam urusan yang hanya menguras energi, air mata (mungkin) namun tak memberikan apa-apa selain kecewa dan rasa...

Membatasi Diri

Image
“Ramadan adalah saat untuk sejenak menjadi emas, diam di tengah-tengah keramaian sekalipun banyak hal yang menarik untuk dikomentari. Untuk tak menghabiskan waktu dalam adu pendapat yang kita tak benar-benar mengerti. Untuk tak mudah membagikan sesuatu sebelum benar-benar yakin keabsahannya.” –Taufik Aulia Ramadan kedua bersama perasaan was-was tentang waktu yang kadang dilalaikan dengan urusan yang tidak begitu penting. Meski sudah berusaha semaksimal mungkin, mengupayakan agar waktu hanya terisi hal-hal baik, tetap saja yang namanya manusia slalu khilaf perihal waktu. Salah satu yang sangat sulit dimanage dengan bijak, apalagi jika sudah dihadapkan dengan sang pencuri Ramadan; Tv, hp, sosmed, etc... Sebagai seorang yang merasa internet adalah sebuah kebutuhan, jujur saya sangat sulit jika sehari saja tanpa terkoneksi dengan dunia maya, meskipun di beberapa waktu saya harus menjadi seseorang yang tiba-tiba menghilang total dari semua akun sosmed (tapi ini hanya di moment tertent...

Jejak Perpisahan

Image
Subuh ini saya membaca kembali tulisan lama dari teman-teman seperjuangan di pesantren. Saya ingat betul coretan-coretan di buku bersampul hijau itu adalah kata-kata yang mereka tuliskan sebelum kami berpisah. Tahun 2012 lalu, demi sebuah mimpi saya harus pergi meninggalakan pesantren, tempat saya lahir dan bertumbuh.  Saya slalu percaya, tulisan adalah jejak yang takkan terhapus waktu. Saya tidak bisa mengingat seluruh hal seperti yang saya inginkan, karena itu saya slalu menulis dan salah satu hal terakhir yang saya lakukan sebelum berpisah dengan mereka adalah menyuruh mereka menulis apapun yang mereka ingat tentang saya. Anggap saja sebagai pesan atau pun kesan selama mengenal saya sebagai seorang teman.  Maka tertulislah beberapa kalimat yang hari ini, saat membacanya membuat perasaan haru menyeruak bersama kenangan dan mimpi yang pernah tumbuh subur di halaman masa lalu. ===== Penampakan: sebagian dari tulisan-tulisan mereka. @Umem: I think about you.. ...

Catatan Tentang Kakak Perempuanku

Image
Flashback ramadan tahun lalu...  Aku tengah menuliskan sesuatu saat ia datang mengetuk pintu kamarku. Fokusku seketika terhenti dari layar laptop. Sejenak mengistirahatkan jemari yang sedari tadi asik menari di atas keyboard. Kubuka pintu dan kami pun saling melempar senyum sebelum ia memulai percakapan. Kupikir ia mau menceritkan pengalaman i'tikaf di beberapa ramadan terakhirnya, ternyata lebih dari itu. Ada hal khusus yang ingin ia sampaikan kepadaku, adik bungsu yang katanya lumayan keras kepala dan cukup egois.  Aku merekam sebaik mungkin kata-katanya kala itu. “Dek, mulai sekarang aku memutuskan takkan lagi membaca novel ataupun menulis hal-hal fiksi seperti dulu. Aku masih diam menyimak, penuh tanya “ada apa dengannya?” ini semacam pengunduran dirinya sebagai kakak yang slalu kompak membicarakan perihal hobi kami: tentang menulis ataupun membaca. Aku menarik kesimpulan diantara berbagai spekulasi yang muncul di benakku.  “Aku sudah m...

Mei dan MIWF

Image
source; Ig kak Iid :) Tepat seminggu setelah berakhirnya MIWF ( Makassar International Writers Festival) yang merupakan perayaan literasi terbesar di Indonesia Timur. Acara yang diadakan selama empat hari ini menyisakan pengalaman tak terlupakan bagi siapapun yang ikut serta merasakan euforianya. Maklum, festival yang berlangsung di benteng Rotterdam ini hanya ada sekali setahun tiap bulan mei. Meski hanya hadir sekali di hari kedua aku tetap merasa sangat bahagia sebab MIWF memberikan kesan luar biasa yang membuatku membulatkan tekad agar bisa kembali hadir di MIWF selanjutnya, tentu jika masih diberi umur hingga tahun depan. Acara ini menyuguhkan lautan ilmu dengan menghadirkan orang-orang hebat yang menjadi pengisi panel-panel diskusi ataupun agenda-agenda menarik lainnya. Seluruhnya betul-betul sukses menghidupkan atmosfer literasi, membuat MIWF seperti memiliki magnet yang mampu menarik hati para penikmatnya. Hanya setengah hari aku berada di sana namun detik-d...