Posts

Showing posts with the label Perempuan

Drama Perempuan

Saya sering menjadi pendengar curhatan-curhatan beberapa teman perempuan dengan problem yang hampir sama. Di tiap cerita saya selalu saja disuguhi pertanyaan berulang: Bagaimana cara move on cepat atau bagaimana melepaskan diri dari zona pertemanan, zona adik-kakak, Hts-etc, yang ternyata berujung php?  Betul-betul sederet drama perempuan. Terjebak dengan keadaan yang tanpa sadar membuatnya nyaman namun pelan-pelan malah melukai dirinya sendiri. Berulangkali ingin membebaskan diri namun slalu saja gagal sebab makhluk pecicilan bernama hati terlalu susah diajak kompromi. Namanya perempuan, perasaan memang slalu mendominasi dibanding logika. Betul, mengatasi perasaan sendiri adalah hal yang sukar untuk seorang perempuan. It’s okay, but... jangan mengabaikan logika dengan dalih belum mampu menaklukkan hati. Plisss... Tangguhlah melawan perasaan sendiri. Jangan berlarut-larut dalam urusan yang hanya menguras energi, air mata (mungkin) namun tak memberikan apa-apa selain kecewa dan rasa...

Karena Perempuan itu Rumit

Image
Beda Nasihat kepada hafidz dan hafidzah ( Sumber : chat temen di grup WhatsApp) Menarik saat DR. Ishom abdul aziz abdul qadir dari mesir membuka kalam di pertemuan malam itu di ma'had putri Yayasan Ibnu Katsir Jember. Kurang lebih “saya ingin tahu, kenapa kalian berada di sini, memilih ada di sini dan belajar di sini.” Pertanyaan klasik, batin saya. Tapi saya juga benar-benar ingin tahu, apakah jawabannya juga se-klasik itu. Tepat para santriwati menjawab dengan semantap jawaban bahwa mereka ingin menjadi hafidzah, membahagiakan kedua orang tua. Simpel tapi mengena. Dan itu tidak salah. Tapi syaikh Ishom geleng-geleng, tersenyum, rupanya berharap ada jawaban lain… nah! Saya suka gaya beliau yang ini, yang membuat saya mengejar-ngejar beliau ke ma'had putri yaa ini heheh.. Tabiatnya yang selalu detil dan berhasil menghidangkan makna terdalam dan fakta yang luput dari pikiran kebanyakan orang atas kalimat-kalimat yang beliau sampaikan dalam muhadharahnya. “Baik...

Kata dan Langkah yang Patah

Harap pun habis Luka kembali hidup seperih kemarin Hari ini kulihat satu per satu huruf mulai lupa Perihal arah yang sekian lama menjadi tujuan Aku lebih memilih kehilangan Sebab senyum menolak tinggal di bibir yang kelu menyebut namamu Dan bahagia tak lagi bersedia menetap lebih lama untuk keyakinan yang terlalu rapuh Kau memang bukan kenyataan Mungkin hanya sekedar imaji Yang membuatku tetap berjalan Dari ragu ke ragu Menuju pintu keberangkatan Bersama kata dan langkah yang patah --Makassar, selepas subuh beranjak

Maafkan

Image
Maafkan, jika kata-kataku pernah melukaimu. Maafkan, jika sikapku membuatmu tak nyaman. Maafkan, jika aku menjadi penulis kecewamu. Maafkan, jika hadirku adalah ke-enggananmu. Maafkan, jika tawaku adalah kesedihanmu. Maafkan, jika sapaku pernah mengusikmu. Maafkan, jika aku bagian dari ketidakbahagiaanmu. Untuk seluruh kesalahan yang tidak kusengaja atau pun kusengaja, aku meminta maaf. Sungguh, aku tak pernah ingin melukai siapa pun. Menjadi pihak yang disakiti selalu lebih baik untukku. Setidaknya, aku nyaman menikmati luka-dibanding seseorang yang kulukai-lalu tak mampu menyembuhkan dirinya. Aku hanya takut, sebab hati manusia siapa yang tahu? Aku tak tahu siapa yang tulus dan siapa yang hanya pura-pura. Setiap orang menyimpan kesedihan, juga kekecewaan dengan caranya masing-masing. Dan yang paling menyedihkan adalah ia yang diam, dalam-dalam meresapi perihnya tanpa seseorang pun yang tahu. Kurasa bukan hanya aku saja yang memilih terlihat baik-baik saja saat kea...

Bayang-Bayang Masa Depan

Image
Di catatan yang lalu aku pernah menuliskan jika ternyata usia seperti jebakan waktu berupa sekumpulan dilema yang tak kunjung usai seiring berkurangnya jatah umur manusia. Aku sering mengatakan jika inilah fase  quarter life crisis  yang terlalu dini. Di umur yang baru saja beranjak dari 20 aku merasakan banyak perubahan drastis, baik urusan yang mungkin terlihat receh hingga yang betul-betul serius.  Pertama;  Perkara amalan atau ibadah dan hal-hal yang menyangkut masa depan nanti selepas kehidupan di dunia tentunya. Entah tepatnya sejak kapan, aku slalu disesaki dengan banyak pertanyaan seputar kematian.  Gimana kalo esok waktu kematianku? Apa kabar amal-ibadahku-sudah cukup kah tuk membeli tiket surga? Hingga yang membuatku nyaris frustasi  “katanya kamu mau khusnul khatimah (sebaik-baik akhir) tapi kok malah malas-malasan-masih sering lalai-bagimana jika di detik kesia-siaan itu malaikat maut malah datang menjemput? Doa harus berkolerasi den...

Akad

Image
Menyaksikan teman-teman memakai gaun pengantin seperti di beberapa akad sebelumnya, aku tak pernah semelankolis melihat foto ini. Dear My beloved friend, Rabiatul Adawiah... Akad terucap. Ganjil pun menggenap. Mimpi menjadi nyata. Senyummu merekah. Barakallah.. kusemogakan setiap yang terbaik untukmu. Selamat menikmati cinta yang halal, cinta yang hakiki. Selamat menjalani takdir terbaikmu. Kini kau paham jika cinta bersemi selepas akad slalu lebih indah dibanding setumpuk ketidakpstian sebelumnya. Rasanya baru kemarin kita bertemu. Saling mengenal hingga akhirnya akrab. Aku tak tahu mengapa takdir-Nya slalu saja mengagumkan. Untuk sebuah temu yang menjadi awal ukhuwah diantara kita. Mari mengenang kawan.. Bisa dibilang kebersamaan kita sangat singkat-bahkan tak sampai setahun. Sekelas hanya beberapa hari sebelum akhirnya aku memilih jalanku sendiri. Namun, masih kuingat dengan jelas beberapa potong kenang perihal masa lalu berisi namamu, wajahmu dan segala hal per...

Memaknai Hidup

Image
Sejatinya hidup tak pernah betul-betul berakhir. Di dunia kita memang kefanaan namun di akhirat manusia adalah keabadian dengan dua takdir yang saling bertolak belakang. Berada di seburuk-buruk tempat atau justru menetap di sebaik-baik akhir bersama orang-orang pilihan. Seluruh perbuatan kita saat ini adalah rangkaian usaha tuk meraih kebahagiaan tak ternilai harganya atau kesengsaraan berupa siksaan tak berujung. Setiap kita bertanggjawab penuh atas diri masing-masing. Untuk setiap tingkah laku, sikap juga seluruh berbuatan-baik atau pun buruk akan berbuah manis atau justru menjadi sesal paling pedih sebab waktu selamanya tak mampu disuruh berbalik ke masa lalu tuk memperbaiki setumpuk khilaf di dunia. Hari ini adalah kenyataan yang harus dihadapi untuk melangkah menuju masa depan. Setiap keputusan yang kita ambil akan memiliki sebab-akibat di hari kemudian. Ada kalanya kita akan berjumpa dengan kehadiran juga perpisahan. Dan tiap peristiwa tentu akan menawarkan makna. Sem...

September, Tentang (J)atuh dan Episode yang Memilukan

Image
September dan sebuah rasa yang tak lagi mampu kubahasakan dengan sederhana. Sebab logika yang lagi-lagi enggan berperan-atau mungkin aku yang terlampau sulit memberinya ruang walau sekedar tuk memikirkan sebab-akibat paling buruknya. Aku terlanjur kacau-nyaris tak tahu harus bagaimana-sembari merutuk diri dengan sebuah tanya “Mengapa terlalu mudah larut dalam pesonamu?” Mengapa namamu slalu saja menggema di keheningan atau pun riuhnya kepalaku? Mengapa tak pernah mudah jika itu tentang mengambil langkah-menjauhimu?   Mengapa dan mengapa yang lain terus saja menyesaki benakku. Aku seolah lumpuh di hadapan “sesuatu” yang aku pun entah harus menyebutnya apa. Apakah memang aku tengah terjebak dengan hal semacam “suka, kagum atau cinta (yang katanya menempati kasta tertinggi perasaan) ? Batinku sibuk mencari jawaban. Aku tak tahu. Perihal rasa mengapa harus namamu yang menjadi tuannya. Aku tak paham di bagian mana yang membuatku jatuh. Ketahuilah, aku bukan perempuan yang mudah...

Teruntuk Perempuan

Image
Dear perempuan... Sesukar bagaimanakah menahan diri dan meredam gejolak rasa? Betapa sulitkah mendamaikan perasaan yang terlanjur sesak oleh harapan? Tak lelahkah hatimu digores kecewa? Cobalah mengambil jeda, walau sebentar saja. Mari kita berbicara dengan penuh kejujuran perkaraahati, milik kita yang selalu saja di barisan belakang, perihal melawan ego dan logika. Resapi diri yang seringkali berkawan nafsu, kepada rasa yang sempat menistakan fitrah. Terangkanah... Renungkanlah. Perempuan.  Adalah kita, kata yang selalu bersanding dengan kelembutan, penyayang, dan juga "makhluk perasaan." Kurasa Adam mana pun akan sepakat tentang kita yang teramat mudah dikendalikan perasaan. Dari zaman kenabian pun, Aisyah sudah membuktikan bahwa perempuan adalah makhluk Tuhan yang teramat perasa. Terlalu mudah terbawa perasaan hingga cemburunya terhadap Khadijah tak mampu ia sembunyikan di hadapan Rasulullah. Itu selevel perempuan mulia istri Rasulullah, lalu bagaimana dengan kit...

Teruntuk Perempuan yang Melepas Harapan

Image
Kepadamu, perempuan dalam kebisuan soal rasa. Yang tak alpa memangku harap di sela napasmu. Tentang sosok yang pernah rutin kau aminkan sebagai masa depan. Lalu, seperih apa rasanya, kala Tuhan menolak skenario yang kau inginkan?   Aku tak pernah berada di titik luka seperti yang sedang kau rasakan, tapi ketahuilah teman, kita satu hati sebagai makhluk yang dicipta slalu menomorsatukan perasaan dibanding logika.   Kita tak bisa mendesain harapan agar segaris dengan kenyataan, namun kita selalu bisa mencoba sedikit mereduksi rasa sakit jika kecewa menyapa, lalu pelan-pelan merelakan apa-apa yang sudah tak mungkin tuk kita genggam. Beberapa bulan lalu, aku ikut merasakan kebahagiaanmu. Kau berkabar bahwa pertemuan yang tak kau sangka-sangka ternyata menjadi awal yang baik sekaligus waktu paling tepat memiliki cerita baru dengan mengenalnya sebagai definisi lain dari harapan .  Kini waktunya mengenang, cukup di beberapa saat pada bagian-bagian paling indah yang...

Saya; Perempuan

Image
Alhamdulillah saya terlahir sebagai seorang perempuan. Seorang perempuan yang kini genap 20 tahun menjejak di bumiNya, dengan setumpuk cerita dan pengalaman. Perempuan yang slalu ingin menulis apa saja yang berseliweran di kepalanya. Yaa, saya cukup aktif untuk urusan menulis. Mungkin memang di sini passion saya. Lalu seiring waktu berlalu, begitu banyak hal terjadi dalam hidup saya. Sekelumit pelajaran mengantar saya menapaki tangga-tangga kedewasaan yang perlahan membuat saya mulai memahami banyak hal. Tentang perempuan dan bagaimana ia. Atau mungkin apa saja tentang saya. Yaa, kan saya perempuan, hehe. Saya masih seperti mayoritas perempuan pada umumnya. Kadang begitu cengeng, amat mudah meneteskan air mata, sering menjadi bodoh dalam urusan cinta, dan amat rentan dibuat baper. Yah, makhluk perasa adalah kami, kaum hawa. Tapi di luar itu. Saya merasa sedikit agak beda di beberapa bagian. Mungkin ini wilayah minoritas untuk perempuan. Saya tidak begitu suka...