Posts

Showing posts from March, 2018

Selesai

Image
" Bagaimana dengan perasaanmu, apakah masih seperti dulu?" Tanyamu malam itu membuat jeda panjang pembicaraan kita. Entah kenapa aku tak lagi mampu menjawab ya. Ragu mulai menggerogoti dada. Pelan-pelan kutenangkan perasaanku. Kuselami baik-baik, kucari jawabannya, dan untuk pertama kalinya aku tak ingin jujur kepadamu. "Entahlah... aku tidak bisa mengatakan ya ataupun tidak. Aku tidak begitu yakin."  jawabku singkat. Entah kenapa separuh diriku merasa begitu bersalah sebab terlalu takut jika kata-kataku akan menyakitimu. Kenapa terlalu sulit mengatakan dengan tegas jika perasaanku betul-betul lenyap? Kenapa begitu berat mengucapkan bahwa perasaanku memang sudah berubah. Selesai selepas hari-hari menyakitkan berhasil kulewati. Bukankah tak ada celah untuk ragu dalam urusan perasaan. Kenapa pula di saat seperti ini aku malah menangis? Apa yang sedang kutangisi?  Mungkin aku tengah menangisi diri yang teramat takut melukaimu. "Bukankah semestin...

Satu Tahun Kepergian Kakak

Image
Hanya hitungan jam, kelahiran berganti dengan kematian. Setipis itu jarak antara kehilangan dan keberadaan seseorang. -- Aku masih mengingat semuanya. Sangat jelas, hingga ke detail hari itu, 26 Maret 2017. Malam kiat larut saat kak Fira datang membawa kabar paling menyedihkan itu. Ketukan pintu kamar diiringi tangisnya yang memilukan sontak membangunkanku. Dengan suara bergetar juga ucapan yang terbata-bata ia mengatakannya. Seketika dada terasa begitu sesak. Betapa luka mendengar kabar duka itu. Dan tangis pun merajai malam itu. Hujan tiba-tiba turun seolah ingin bersaing dengan derasnya tangisan kami. ~ Sebelum subuh kami pun berangkat. Pulang ke Maros, menyaksikan jasadmu yang terbaring kaku, pucat tanpa helaan nafas yang menjadi tanda bahwa memang, tak ada lagi kehidupan di sana. Duniaku tiba-tiba begitu riuh. Ramai yang penuh hanya diisi suara tangisan. Kulihat mama terduduk di sampingmu seperti tak rela melewatkan detik-detik terakhir bersamamu. Pere...

Memeluk Hari-hari Menyakitkan

Image
"Jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah. "Peluklah semuanya." Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu dis esali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?"  *Tere Liye -- Dalam perjalanan pulang. Maros, tempat melarikan diri dari alur yang terlalu menyedihkan.

Kenapa Menulis?

Karena menulis, aku merasa bahagia.  Setiap orang memiliki alasannya masing-masing mengapa ia suka menulis. Di salah satu esainya, G. Orwell menyebutkan bahwa salah satu alasan menulis adalah egoisme: "Bahwa setiap penulis memiliki keinginan terlihat cerdas, untuk dibicarakan, dikenang setelah mati" ... Aku sepakat tapi ternyata aku bukan seseorang yang memiliki alasan itu, sebab bagiku “bahagia” adalah alasan paling sederhana kenapa aku selalu menulis. Aku bahagia saat kata-kata yang ramai di kepala bisa dirapikan dalam satu kalimat tulisanku. Aku bahagia karena setiap keresahan ataupun suara-suara dalam hati berhasil kusampaikan lewat kata-kata yang kutulis. Aku bahagia ketika tangis ataupun bahagia bisa menjadi ingatan, kenangan dalam setiap kata yang kutulis. Aku bahagia ketika kelegaan datang mengusir banyak pikiran tidak baik selepas aku menuangkan perasaan ke dalam tulisan. Aku bahagia karena semua yang tak sanggup kukatakan selalu bisa kutulis.  Singkatnya, kebahagiaa...

Ujian

Image
“Apakah manusia mengira telah beriman hanya dengan mengatakan; kami beriman,” sementara mereka belum diuji.” (Al ankabut [29]: 69) Sederhananya: ujian hadir untuk menyeleksi keimanan seseorang. Sebab dalam situasi yang pelik saat berhadapan dengan sebuah ujian manusia selalu mempunyai dua pilihan: berputus asa dan memilih jalan yang hanya akan merugikan dirinya sendiri atau justru memilih berusaha semaksimal kemampuan, berdoa dan tetap bersabar sesulit apa pun ujian yang dihadapi hingga akhirnya ia mampu survive dan ujian itu berlalu sebagai pelajaran berharga yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. “Berat atau ringan sebuah ujian sebenarnya tidak diukur dari besar kecilnya. Tapi diukur dari perjuangan menghadapinya. Semua ujian itu berat selama tidak dihadapi dan semuanya menjadi ringan apabila dihadapi. Beratnya ujian yang menimpa umat sekarang bukan karena besarnya ujian itu melainkan karenan ringannya iman dan semangat juang mereka.” (Buku Rahasia ...

Hujan dan Kata-Kata

Image
Hujan memang slalu datang mendramatisir keadaan. Rintiknya serupa potongan-potongan kenangan yang jatuh satu per satu, menitik di dasar ingatan. Bersama petrichor dan rindu, kembali kutemukan namamu dalam kata-kata yang berhamburan kehilangan makna. Sepertinya kau tak lebih lagi dari sekedar sisa ingatan yang kian bergerak menjauh. Sebuah perasaan yang pelan-pelan berkemas sebelum akhirnya lenyap disapu waktu. --Makassar yang (lagi-lagi) diguyur hujan sebelum subuh

Sekelumit Cerita: Mahasiswa Tingkat Akhir

Image
Slow better than no progress . .. Tetiba kata-kata ini menjadi kalimat paling pemungkas saat kepala seperti tak sanggup lagi melawan banyaknya pikiran merendahkan. "Ah, kamu memang terlalu santai, kamu terlalu meremehkan tanggungjawab, kamu memang malas berpikir, bla bla ... duh, menghakimi diri sendiri kadang sangat menyakitkan sebab di titik itu seseorang akan menemukan begitu banyak kesalahan yang kadang tidak begitu disadari, lalu diam-diam malah menghancurkan kepercayaan diri hingga di titik ekstremnya (yang sering dan sedang saya alami) malah memaki diri, menganggap jika saya memang tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukannya, saya masih terlalu bodoh tuk memahami, saya memang selalu berpikir pendek dalam mengambil keputusan, terlalu gegabah dan tidak cukup sabar untuk sebuah proses, etc—sekumpulan asumsi negatif yang seperti meruntuhkan harapan atau semangat untuk tetap melangkah. Menyedihkan sekalih! Sore tadi sepulang kampus (lebih tepatnya perpustakaan w...

Monolog Pagi

Image
Kita pernah dalam diam saling memendam. Masing-masing merasa jeda adalah keharusan. Untuk meredam kebosanan, melayani ego yang enggan mengalah. Atau justru sekedar menyepakati: kita kembali menjadi dua orang asing tanpa perlu mengutarakan sebuah alasan. Lalu, saat dialog-dialog menjadi kaku dan hambar, berbagai pertanyaan mulai mengakar di kepalaku. Kesimpulan dan segala asumsi yang kubuat nyatanyaa tak pernah ampuh mereduksi rindu yang seperti hujan deras. Ada saatnya pagi terasa semenyesakkan ini, ditahan dengan harapan yang merapuh. Air mata sesekali kuseka bersama kalimat baik-baik saja. Ya, membohongi diri adalah pengakuan paling pahit saat sebenarnya aku memang sedang tidak baik-baik saja. Tanpamu.

Tanpa Kata-Kata

Image
Kadang, tanpa kata-kata adalah sebuah penjelasan. Seperti titik di ujung kalimat. Serupa puisi kehabisan diksi. Atau, layaknya buku, selesai dengan akhir menggantung: penuh tanya. Pun demikian dengan kita: kesimpulan tanpa kalimat yang menenangkan, juga jarak yang memilih disepakati dalam diam. Maka biarkan, masing-masing kita pergi sukarela lalu pelan-pelan membujuk ingatan untuk segera melupa. Sebab bahagia masih jalan yang sedang kita tempuh walau dengan arah yang tak lagi sama.

Karena Perempuan itu Rumit

Image
Beda Nasihat kepada hafidz dan hafidzah ( Sumber : chat temen di grup WhatsApp) Menarik saat DR. Ishom abdul aziz abdul qadir dari mesir membuka kalam di pertemuan malam itu di ma'had putri Yayasan Ibnu Katsir Jember. Kurang lebih “saya ingin tahu, kenapa kalian berada di sini, memilih ada di sini dan belajar di sini.” Pertanyaan klasik, batin saya. Tapi saya juga benar-benar ingin tahu, apakah jawabannya juga se-klasik itu. Tepat para santriwati menjawab dengan semantap jawaban bahwa mereka ingin menjadi hafidzah, membahagiakan kedua orang tua. Simpel tapi mengena. Dan itu tidak salah. Tapi syaikh Ishom geleng-geleng, tersenyum, rupanya berharap ada jawaban lain… nah! Saya suka gaya beliau yang ini, yang membuat saya mengejar-ngejar beliau ke ma'had putri yaa ini heheh.. Tabiatnya yang selalu detil dan berhasil menghidangkan makna terdalam dan fakta yang luput dari pikiran kebanyakan orang atas kalimat-kalimat yang beliau sampaikan dalam muhadharahnya. “Baik...

Me Time

Image
Fase saat moodswing banget. Tidak ingin bertemu siapa-siapa, pun tidak menanggapi tumpukan chat di whatsapp. Do nothing. Hanya berdiam di kamar. Tenggelam dengan diri sendiri. Merenung, berpikir, merasakan, dan meresapi detik-detik berlalu pergi. Aku menyebutnya: Metime yang lumayan kritis. Sudah seperti ritual bulanan untuk melawan diri sendiri. Satu bagian yang dikuasi kekuatan negatif.  Tentang setumpuk ragu menyoal pilihan yang melahirkan dilema panjang-membuat pikiran betah skali merumitkan banyak hal-yang semestinya disederhanakan. Tentang ego, keras kepala dan pikiran-pikiran pendek yang terlalu mudah menghakimi sesuatu. ~ Tenang... santai, rileks. Jangan panik. Tetap nyaman, nikmati setiap suka, dukanya apalagi. Jangan lupa menyediakan kembali stok sabar yang banyak. Sebab kita adalah ujian bagi orang lain-dan sebaliknya (?) #CMIIW Ya, me time slalu dibutuhkan tuk mengambil jeda, sejenak menepi dari hiruk pikuk keramaian agar kaki tetap melangkah di m...

Sendiri

Image
EDCOUSTIC – SENDIRI MENYEPI Sendiri Menyepi Tenggelam dalam renungan... Kadang, dalam hidup kita hanya butuh sendiri. Berbicara dengan nurani, menyelami diri dan seluruh pikiran. Segala kekalutan adalah rute, perjalanan panjang yang menenggelamkan. Jauh ke dalam ruang yang hanya berisi kesadaran. Untuk memaknai, untuk menemukan; ketenangan yang mulai hilang.  Ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan perlahan kucari, mengapa diriku hampa… mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi… Mengapa dan mengapa mulai mengetuk bilik-bilik hati dengan berbagai jawaban. Mungkin memang karena khilaf yang tak bertepi, tumpukan dosa dan ketersesatan yang tak kusadari kian jauh membawaku pergi. Hilang arah. Lepas dari tujuan hidupku.  Oh Tuhan aku merasa sendiri menyepi... ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi sampai kapan ku begini resah tak bertepi kembalikan aku pada cahaya-Mu yang sempat menyala benderang di hidu...

Masalah dan Kedewasaan

Image
Mendefinisikan kedewasaan rasanya cukup panjang untuk ditulisakan (lagi mode malas nulis panjang). Intinya, dewasa versi singkat yang saya pengang: “dewasa memang bukan soal usia tapi dewasa adalah tentang sikap dan pemikiran seseorang.  Bagaimana sesorang mampu menyikapi setiap kondisi/masalah dalam hidupnya dengan sebijak mungkin. Ia yang mampu menempatkan diri sebagai solusi, bukan malah menjadi bagian dari masalah. Ia yang slalu bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang luas. Ia yang mampu menerima dan menjadikan setiap peristiwa atau pun seseorang sebagai media untuk terus belajar, bertumbuh menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Jadi dewasa adalah proses seumur hidup.” (nah loh, ini malah agak panjang). Sejujurnya, saya pun selalu bertanya-tanya kepada diri sendiri “ apakah saya sudah dewasa ?” Dan jawabannya sudah pasti: tidak. Ya, saya tidak pernah bisa mengakui diri saya seseorang yang sudah dewasa meskipun beberapa orang menganggap saya dewasa ...

Stagnan

Image
Setiap orang tentu akan berjumpa dengan fase stagnannya masing-masing. Sebuah titik di mana setiap langkah yang kita ambil mulai kita pertanyakan kembali. Ada ragu, yakin, dan mungkin juga sesal. Saat di mana hidup adalah serangkaian tanya yang tak menemukan jawaban. Serupa susunan puzzle yang terhambur atau teka teki silang yang harus dipecahkan. Lebih mengerikan lagi seumpama bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu. Mencekam lagi meresahkan. Rasanya kita sedang terjebak di kondisi yang entah harus bagaimana. Sulit, bahkan walau hanya sekedar menemukan padanan kata paling tepat tuk membahasakan kerumitannya. Ada perasaan gamang yang tengah merenggut kenyamanan, membuat detik-detik seolah ombak yang menarikmu ke tengah samudera luas. Terombang ambing tanpa arah. ~ Mungkin seperti itu yang dinamakam kehilangan diri sendiri. --Makassar, di tengah riuh-kisruh isi kepala

Kepada Diri Sendiri (2)

Image
Biar kuletakkan segala kenangan tentangmu. Di sana, di tempat terjauh yang tak mungkin lagi kuraih. Lalu biarkan waktu yang mengurus sisanya. Aku biarlah seperti ini, menunggu perih segera menyingkir sembari terus menyunggingkan senyum baik-baik saja.  Hari ini kau memang disakiti, tapi percayalah bahwa tak ada luka yang benar-benar tidak akan pulih. Sesakit apa pun tentu akan sembuh juga. Maka bersabarlah, sebab ada saatnya kau akan menertawakan rasa yang hari ini setengah mati kau tangisi. Seseorang bisa melukai hatimu, tapi kau tetap berkuasa tuk membuatnya tetap tangguh, belajar melewatinya hingga pulih segalanya. Kau tak lagi sepilu hari ini. Seseorang itu akan kembali sama dengan orang lain. Tak ada lagi yang spesial; seistimewa apa pun dulu ia.  Sesederhana itu siklusnya. Akan ada yang lebih baik selepas perasaanmu dihancurkan dan tidak dihargai. Ayo, tersenyumlah. Kau masih memiliki banyak kesempatan untuk bahagia yang lain. --Makassar Pukul 3:35 m...

Kepada Diri Sendiri

Image
Berhentilah bercerita di atas kertas ataupun halaman katamu. Sudahi meratap seakan engkau perempuan paling terluka. Hapus air matamu, kumpulkan kembali ketegaranmu. Buang jauh-jauh kesedihanmu. Letakkan semua beban yang kini memberatkan langkah. Kembalikan arahmu. Tatap masa depan dengan yakin. Jemput dengan senyuman. Terbitkan kembali harapan-harapan baru. Tulis kembali mimpimu. Dan Lanjutkan setiap perjuanganmu. Akhir yang manis akan tiba jika kau mengusahakannya dengan sungguh-sungguh. Hidup terlalu berharga untuk rapuh terlalu lama. Setiap duka akan sudah. Percayalah, sederas apa pun hujan, toh akan mereda juga pada akhirnya. Karena kau harus yakin, semesta selalu maha adil, meski kau terlalu bebal memahami keadilannya. Tetap berpikir yang baik, meski hatimu memang sedang tidak baik-baik saja.