Posts

[Review Buku] Man's Search For Meaning; Sebuah Perjalanan Menemukan Makna Hidup di Tengah Realitas yang Penuh Derita

Image
Judul Buku: Man's Search For Meaning Penulis: Viktor E. Frankl Penerjemah: Haris Priyatna Penerbit: Noura Books Tebal Buku: 233 halaman Terbit: Cetakan ke-11, Agustus 2021 Format: Paperback ISBN: 978-602-385-416-5 Menarik, menyentuh, dan mengispirasi; tiga kata inilah yang saya simpulkan selepas menamatkan Man's Search For Meaning.  Bagi saya pribadi, cerita tentang seorang tawanan dengan segala rupa penderitaannya adalah bacaan yang sangat menarik dan layak tuk disimak. Lewat bahasanya yang lugas, dr. Viktor menyuguhkan sisi kehidupan yang penuh siksaan dan tampak tidak lagi memiliki harapan. Dengan memakai kacamata penulis, kita akan dibuat tersentuh, seolah diajak melihat langsung bagaimana setiap episode kehidupan bisa menjadi sedemikian menyakitkan; waktu terus beranjak tak lebih dan kurang sebatas repetisi dari ketidakbahagiaan, keputusasaan, dan sederet kesedihan yang tak berkesudahan. Lembar demi lembar buku ini akan membawa kita pada bagian-bagian lain dari perjalanan ...

Anak Pertama; '23 Rewind' dan Beberapa Hal di Balik Proses Kelahirannya

Image
  Finally, tahun ini aku berhasil menerbitkan buku pertama; setelah sekian lama yang penuh drama, niat dan tekad maju-mundur, penuh ragu beserta ketidakpercayaan diri yang jatuh. Ternyata memang betul, membaca buku itu mudah, yang susah adalah menulis buku. Anak pertama yang kunamai '23 Rewind' ini penuh cacat dan masih butuh perbaikan yang serius, (maklum, dilahirkan terpaksa) namun kehadirannya cukup membuatku terharu karena prosesnya betul-betul memuakkan. Dan entah mengapa, aku ingin berbagi beberapa hal yang mewarnai perjalanannya. Berikut beberapa fakta di balik 23 Rewind; 1. Pertama kali dimulai akhir 2019, kemudian selesai tahun 2020 (sempat berhenti total karena laptop rusak dan harus ada penyusunan ulang hingga naskah terbengkala sekian lama) lalu tahun ini, tepatnya di bulan kelahiranku: Agustus, akhirnya diterbitkan juga. 2. Terbit edisi terbatas. Untuk memenuhi syarat penerbit harus cetak sekian eksemplar, tidak ada PO, promosi, dst. Sebenarnya, rencana...

Saat hujan belum reda dan anehnya; kopi pagiku belum habis

kucatat tahun ini dengan air mata penyesalan, dan rasa bersalah mimpi-mimpi yang kuhianati akan menjadi ingatan tidak menyenangkan di tahun berikutnya  — tentu saja, jika aku masih bersedia melanjutkan hidup Januari, Februari, dan kini Desember. musim hujan yang muram mengantar langkah menuju gerbang perpisahan sebuah akhir yang tidak menawarkan apa-apa selain sederet kenangan yang akan tertinggal di belakang aku hanya ingin memeluk tahun yang takkan pernah kembali berharap tumpukan kesalahan yang menggunung masih termaafkan.

Titik Nol

Image
Day 7 A book that I love reading "Jauh adalah kata yang mengawali perjalanan. Jauh menawarkan misteri keterasingan, jauh menebarkan aroma bahaya, jauh memproduksi desir petualangan menggoda. Jauh adalah sebuah pertanyaan sekaligus jawaban. Jauh adalah titik tujuan yang penuh teka-teki." (Hlm.16)  Salah satu buku favorit tahun ini. Tentang perjalanan yang begitu berani; dimulai dari daratan Cina, menyebrang ke Tibet, Nepal, India, hingga ke Afghanistan. Sebuah petualangan panjang menaklukkan berbagai tantangan, menambang beragam pengalaman dan cerita yang memperkaya pemahaman hidup. Sebagai seseorang yang pernah bercita-cita keliling dunia, saya cukup terkesan dengan kisah petualangan penulis. Membaca buku ini membangunkan mimpi-mimpi lama sekaligus kembali mencatat mimpi yang lain. Saya berharap suatu waktu bisa menempuh perjalanan hebat seperti penulis. Menyaksikan keindahan negeri atap dunia, melihat betapa eksotisnya gunung Everest, menyusuri kepadatan Kabul, hingga mencic...

Menghadapi Kecewa

Day 6 A life lesson I have learned Tahun sebelumnya, 2020 bisa dibilang tahun yang paling banyak membuat saya menangis sekaligus belajar banyak hal.  Dua ribu dua puluh; ketika pandemi tidak menunjukkan tanda-tanda selesai, saya merasa betul-betul di titik terendah. Suatu keadaan ketika saya merasa bahwa semua orang di sekitar saya seolah serempak melukai, membuat saya kehilangan kepercayaan, bahkan harapan. Di satu titik saat saya tak lagi sanggup bersuara, tidak mampu membuat keputusan apa-apa hingga berujung pergi dari rumah, memutuskan diri dari semua orang. Saya mengambil jarak dari manusia-manusia yang sudah terlalu banyak mengecewakan. Sekitar seminggu yang betul-betul hanya sendirian, tanpa distraksi internet, saya mencoba mencari diri saya, mencoba menyelamatkan hidup, dan mimpi-mimpi yang patah. Kala itu, di waktu-waktu paling sunyi, ketika saya selalu terbangun sebelum pukul tiga subuh, saya melewatkan waktu selepas salat dengan menangis sejadi-jadinya, bercerita tentang...