Posts

Showing posts with the label Aira's Stories

Ramadan Seperti Mesin Waktu

Image
Ramadan dan kenangan-kenangan yang memburam... Ramadan selalu menghadirkan rindu. Kerinduan yang tak selalu bisa dibicarakan—entah sebab kenangan akan ramadan terasa terlalu personal atau memang rasa rindu terkadang begitu abstrak.  Tahun ini adalah ramadan ke-30 dalam hidupku. Pertama kali dalam hidupku pula, puasa tidak bersamaan dengan mama. Meski sudah bukan pertama kali kami tidak sahur bersama karena beda tempat, tetap saja rasanya berbeda. Ah, rupanya pelajaran pertama yang kuterima di ramadan ini adalah tentang menerima perbedaan dari orang yang tak disangka akan memiliki pilihan ataupun keyakinan yang tidak lagi sama (soal penentuan puasa). Sejujurnya aku tidak tahu apa yang ingin kutulis selain rindu-rindu yang begitu panjang akan masa lalu. Aku yang begitu mahir menyimpan kenangan, begitu senang memutar ulang kilas balik hidup hingga meneteskan air mata tanpa sadar. Begitu melankolis—hal hal yang bernama masa lalu itu, khususnya masa kecilku. Aku rindu. Ramadan ketika it...

Belajar Menjadi Minimalis (Sebuah Jejak)

Image
Masa Pandemi betul-betul memberi banyak sekali pelajaran dan pengalaman, salah satunya: perkenalan saya dengan konsep hidup minimalis. Sebenarnya, sudah lama saya penasaran dan begitu tertarik mempelajari bagaimana menjadi minimalis, namun baru tahun inilah saya betul-betul mendapatkan momennya. Berawal dari membaca satu bab pertama buku Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay, saya langsung tergerak mempraktikkan apa yang baru saja saya pelajari. Dari mengetahui dasar pemikiran yang digunakan Miss Minimalist FJ, saya pun kian bersemangat untuk mengaplikasikannya. Maka mulailah saya melakukan eksperimen dengan ruang kamar yang sudah lama terasa begitu sempit. Saya mulai dengan menyingkirkan benda paling besar di kamar (spring bed ukuran jumbo, padahal selama ini saya tidur sendiri) yang mengambil ruang terlalu banyak. Hasilnya, saya merasa kamar saya menjadi begitu nyaman, lapang dan tentu saja tidak lagi sepenuh sebelumnya.    Saya kemudian belajar menjadi minimalis dengan ...

Catatan Akhir Tahun

Image
Terlalu banyak yang sudah terjadi, seluruhnya semoga menjadi pelajaran berharga yang akan membuat tahun berikutnya menjadi lebih baik lagi. Segala yang sudah berlalu adalah bagian yang membentuk kita saat ini. Aku percaya, segala rupa kehendak-Nya adalah yang terbaik, sekeliru apa pun manusia menafsirkannya. Banyak hal berhasil terlewati dari sekian peristiwa. Yang tentu akan terlalu panjang jika dituliskan seluruhnya. Aku hanya ingin menulis sedikit saja agar kelak aku bisa membacanya kembali lalu merasakan, bahwa yang berlalu, bagaimana pun bentuknya tentu harus menyisakan pemahaman baik yang menumbuhkan dan mendewasakan diri. Tahun ini, aku membuat beberapa goals seperti di tahun-tahun lalu. Beberapa Alhamdulillah berhasil dan beberapa lagi masih terbengkala. Tidak apa, sebab seapik bagaimana pun rencana manusia, takdir Tuhan masih yang pertama, bukan?  Dari sekian goals ataupun resolusi tahunan, yang paling menyenangkan adalah challenge membaca. Berhasil menamatkan 50 lebi...

02.00

Image
Istaiqiznaal an! Istaiqiznaal an! Pengumuman berbahasa arab barusan menerobos kesadaranku. Lebih cepat sejam dari bunyi alarmku biasanya. Aku terbangun. Bernostalgia . Sayup-sayup suara nasyid terdengar. ~ Pelan, desember akan habis, tahun berganti, semoga yang belum rampung lekas selesai.         Tak perlu ada sesal yang berjejal. Sebab aku percaya, selalu ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari hal paling menyakitkan sekali pun.  Lalu, bagaimana selanjutnya? Entah. --Sekolah putri Darul Istiqamah, pukul dua dini hari

Catatan Tentang Kakak Perempuanku

Image
Flashback ramadan tahun lalu...  Aku tengah menuliskan sesuatu saat ia datang mengetuk pintu kamarku. Fokusku seketika terhenti dari layar laptop. Sejenak mengistirahatkan jemari yang sedari tadi asik menari di atas keyboard. Kubuka pintu dan kami pun saling melempar senyum sebelum ia memulai percakapan. Kupikir ia mau menceritkan pengalaman i'tikaf di beberapa ramadan terakhirnya, ternyata lebih dari itu. Ada hal khusus yang ingin ia sampaikan kepadaku, adik bungsu yang katanya lumayan keras kepala dan cukup egois.  Aku merekam sebaik mungkin kata-katanya kala itu. “Dek, mulai sekarang aku memutuskan takkan lagi membaca novel ataupun menulis hal-hal fiksi seperti dulu. Aku masih diam menyimak, penuh tanya “ada apa dengannya?” ini semacam pengunduran dirinya sebagai kakak yang slalu kompak membicarakan perihal hobi kami: tentang menulis ataupun membaca. Aku menarik kesimpulan diantara berbagai spekulasi yang muncul di benakku.  “Aku sudah m...

Mei dan MIWF

Image
source; Ig kak Iid :) Tepat seminggu setelah berakhirnya MIWF ( Makassar International Writers Festival) yang merupakan perayaan literasi terbesar di Indonesia Timur. Acara yang diadakan selama empat hari ini menyisakan pengalaman tak terlupakan bagi siapapun yang ikut serta merasakan euforianya. Maklum, festival yang berlangsung di benteng Rotterdam ini hanya ada sekali setahun tiap bulan mei. Meski hanya hadir sekali di hari kedua aku tetap merasa sangat bahagia sebab MIWF memberikan kesan luar biasa yang membuatku membulatkan tekad agar bisa kembali hadir di MIWF selanjutnya, tentu jika masih diberi umur hingga tahun depan. Acara ini menyuguhkan lautan ilmu dengan menghadirkan orang-orang hebat yang menjadi pengisi panel-panel diskusi ataupun agenda-agenda menarik lainnya. Seluruhnya betul-betul sukses menghidupkan atmosfer literasi, membuat MIWF seperti memiliki magnet yang mampu menarik hati para penikmatnya. Hanya setengah hari aku berada di sana namun detik-d...

Satu Tahun Kepergian Kakak

Image
Hanya hitungan jam, kelahiran berganti dengan kematian. Setipis itu jarak antara kehilangan dan keberadaan seseorang. -- Aku masih mengingat semuanya. Sangat jelas, hingga ke detail hari itu, 26 Maret 2017. Malam kiat larut saat kak Fira datang membawa kabar paling menyedihkan itu. Ketukan pintu kamar diiringi tangisnya yang memilukan sontak membangunkanku. Dengan suara bergetar juga ucapan yang terbata-bata ia mengatakannya. Seketika dada terasa begitu sesak. Betapa luka mendengar kabar duka itu. Dan tangis pun merajai malam itu. Hujan tiba-tiba turun seolah ingin bersaing dengan derasnya tangisan kami. ~ Sebelum subuh kami pun berangkat. Pulang ke Maros, menyaksikan jasadmu yang terbaring kaku, pucat tanpa helaan nafas yang menjadi tanda bahwa memang, tak ada lagi kehidupan di sana. Duniaku tiba-tiba begitu riuh. Ramai yang penuh hanya diisi suara tangisan. Kulihat mama terduduk di sampingmu seperti tak rela melewatkan detik-detik terakhir bersamamu. Pere...

Sekelumit Cerita: Mahasiswa Tingkat Akhir

Image
Slow better than no progress . .. Tetiba kata-kata ini menjadi kalimat paling pemungkas saat kepala seperti tak sanggup lagi melawan banyaknya pikiran merendahkan. "Ah, kamu memang terlalu santai, kamu terlalu meremehkan tanggungjawab, kamu memang malas berpikir, bla bla ... duh, menghakimi diri sendiri kadang sangat menyakitkan sebab di titik itu seseorang akan menemukan begitu banyak kesalahan yang kadang tidak begitu disadari, lalu diam-diam malah menghancurkan kepercayaan diri hingga di titik ekstremnya (yang sering dan sedang saya alami) malah memaki diri, menganggap jika saya memang tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukannya, saya masih terlalu bodoh tuk memahami, saya memang selalu berpikir pendek dalam mengambil keputusan, terlalu gegabah dan tidak cukup sabar untuk sebuah proses, etc—sekumpulan asumsi negatif yang seperti meruntuhkan harapan atau semangat untuk tetap melangkah. Menyedihkan sekalih! Sore tadi sepulang kampus (lebih tepatnya perpustakaan w...

Dear Annisa

Image
Annisa istiqamah nama lengkapnya. Salah satu perempuan paling berkesan yang sempat menghabiskan ratusan hari bersamaku.  Menulisnya membuat banyak kenangan mulai bermain di kepalaku. Tentang begitu banyak cerita yang sempat terangkai bersamanya. Ah, kehidupan beberapa tahun lalu betul-betul mengundang rindu yang panjang. Dulu kami tidak hanya sekedar satu sekolah tapi juga memiliki banyak kesamaan yang membuat keakraban itu masih kental hingga kini, saat masing-masing kami terpisah sekat bernama jarak. Annisa; kukenal sebagai teman sekamar, teman sekelas, teman muraja'ah, teman bercerita, teman main hujan, teman jalan-jalan, teman dengan begitu banyak definisi. Untuk menuliskannya rasanya akan begitu panjang.  "Lebay yaa ?"  Iya, tak apa, seperti ia yang paling sering melabeliku dengan kata itu Annisa; perempuan berkacamata. Paling rajin mempertanyakan banyak hal yang biasa membuatku malas menanggapinya. Kadang-kadang ia menyebalkan, tapi aku...

Sudut Kamar

Tempat mendiskusikan banyak hal. Berbicara dengan isi kepala dan nurani. Tempat berdebat kusir antara  perasaan dan logika. Ruang sunyi sekaligus paling bising. Sunyi sebab sekitarku hanya terisi suara langkah jarum jam bersaing dengan deru napas yang pelan dan tenang, sedang di kepalaku gemuruh sedang berlangsung meriah. Seperti sebuah konser, ramai dengan suara-suara pikiran yang terlalu keras kepala untuk kusuruh diam. Di sini, tempat mengurai isi kepala yang selalu saja dilanda overthinking . Di sini, aku berusaha mengumpulkan kembali, seluruh keyakinan yang kadang dihabisi ragu. Di sini, tempat terbaik meresapi waktu sekaligus menguatkan diri sendiri. Di sini aku suka menangis bahkan tertawa sendirian. Menangisi kesalahan-kesalahan di masa lalu sembari berusaha memaafkan diri sendiri. Menertawakan kebodohan-kebodohan yang sudah berulang kali kulakukan atau sesekali menangis sekaligus tertawa karena perasaan yang kadang tak lagi terdefinisi. --Makassar, tengah mala...

Setumpuk Kisah

Image
  Berawal dari bait lagu yang tengah mengudara di langit kamar, ingatan itu bertamu. Tentang setumpuk kisah yang seketika membuat kenangan melesat cepat. Detik seolah melemparku ke masa lalu. Kala itu, duniaku belum berkenalan dengan kata rumit. Hari-hari berkesan terlewati dalam hangat keluarga yang masih utuh. Bersama mama dan juga bapak yang seringkali pergi meninggalkan kami, membuatku terlalu dini tuk memahami arti keberadaan. Tiba-tiba rindu memeras air mata. Ah, betapa sulit manusia melepas apa-apa yang pernah terlanjur menyentuh hati. Persis seperti beberapa kenangan yang masih melekat meski satu dua tiga kisah mulai terhapus bersama waktu. Kepala memang tidak didesain tuk mengingat segala hal. Aku menulis agar aku tetap mengingat, salah satunya bahwa hidup memang butuh keseimbangan. Ada bahagia tentu karena kita merasakan kesedihan. Dan juga, kita akan paham kehilangan selepas ditinggal pergi oleh sesuatu yang kita anggap berharga. Sesederhana itu. ...

Mama

Aku pulang. Seperti biasa, mama menyambutku dengan senyuman. Sebaris lengkungan di bibirnya bak penawar seluruh letihku. Mama memang salah satu sumber semangatku. Cukup dengan menikmati beberapa jam bersamanya saja, aku akan merasa stok semangatku kembali terisi penuh. Mama dengan seluruh kebaikannya akan membuatku baik-baik saja dalam artian paling jujurku. Mama yang selalu bisa membaca pertanda di mataku tanpa perlu bercerita panjang lebar. Ia yang kadang membuatku harus menahan air mata diam-diam sebab menangis di hadapannya terasa sama saja dengan menyakitinya. Aku tahu, ia yang paling terluka saat melihat ada kesedihan di wajah anaknya. Dan aku, tentu berusaha untuk tidak membuatnya khawatir meski kutahu ikatan batin kami membuatnya selalu mengetahui apa-apa yang tidak pernah kukatakan.  Mama yang rutin bertanya bagaimana keadaanku, yang kadang aku terpaksa berbohong “baik-baik saja” sekalipun saat itu mataku tengah menciptakan hujan pribadi. Sebisa mungkin suara kubuat normal...

Bayang-Bayang Masa Depan

Image
Di catatan yang lalu aku pernah menuliskan jika ternyata usia seperti jebakan waktu berupa sekumpulan dilema yang tak kunjung usai seiring berkurangnya jatah umur manusia. Aku sering mengatakan jika inilah fase  quarter life crisis  yang terlalu dini. Di umur yang baru saja beranjak dari 20 aku merasakan banyak perubahan drastis, baik urusan yang mungkin terlihat receh hingga yang betul-betul serius.  Pertama;  Perkara amalan atau ibadah dan hal-hal yang menyangkut masa depan nanti selepas kehidupan di dunia tentunya. Entah tepatnya sejak kapan, aku slalu disesaki dengan banyak pertanyaan seputar kematian.  Gimana kalo esok waktu kematianku? Apa kabar amal-ibadahku-sudah cukup kah tuk membeli tiket surga? Hingga yang membuatku nyaris frustasi  “katanya kamu mau khusnul khatimah (sebaik-baik akhir) tapi kok malah malas-malasan-masih sering lalai-bagimana jika di detik kesia-siaan itu malaikat maut malah datang menjemput? Doa harus berkolerasi den...

Masih Mahasiswa Baru

Image
Sudah pukul 2:55. Saya berusaha menggali beberapa kisah di awal kuliah. Berawal dari membaca kicauan twitter di tahun 2014, saya lalu tertawa mengingat betapa semester pertama, kedua dan ketiga adalah periode ter-labil yang pernah saya lalui. Sebuah foto yang sempat saya posting menjadi gerbang kenangan yang kemudian membuat saya menulis ini.  Tanggal 23 September 2014 adalah hari yang tak terlupakan. Selasa pagi dengan semangat yang meletup-letup, saya menginjakkan kaki di fakultas FISIP, sembari mencari kelas pertama sekaligus kuliah perdana sebagai anak sospol. Sebenarnya kuliah pertama hari senin tanggal 22, tapi lagi-lagi karena kuper saya yang terlalu akhirnya saya ketinggalan info. Finally, hari itu terlalu berkesan hingga rasanya mustahil tuk hilang di tumpukan kenangan yang kian hari semakin sesak dengan cerita-cerita baru. Matahari pagi bulan september menjadi latar penuh kehangatan untuk sebuah awal yang penuh dengan perasaan-perasaan anomali. Ada haru juga ketakutan...

Coret-Coret Tentang Perasaan

Image
Belakangan aku punya kebiasaan baru. Menulismu; sesuatu yang terjadi begitu saja sejak kata “kagum” kusematkan untukmu. Aku memang suka menulis, tapi admit it , aku hanya menulis sesuatu yang menurutku penting atau berkesan. Cerita-cerita yang tak ingin kulupa seiring waktu berganti dan kian bertambah banyaknya kenangan yang mengendap di kepalaku.  Memori manusia tidak dirancang tuk mengingat segala hal, maka dengan menulis aku ingin membuat segala tentangmu terabadikan dalam catatan yang kutulis di halaman ini. Aku menulis ini untuk mengarsipkan perasaanku. Sesuatu yang tak pernah mampu kukatakan. Oktober basah. Persis seperti tahun-tahun sebelumnya. Penuh hujan. Aku menyukainya meski kutahu betul, jika rintiknya selalu saja membuat suasana sendu, serta merta membangunkan jiwa melankolisku. Seolah tak ingin melewatkan sedetik pun bulir hujan yang menitik kaca jendelaku, demikian dengan kenangan, perasaan yang tak ingin sekedar mengendap di kepala, ia ingin ternarasikan ...