Posts

Sebuah Pertanyaan

Image
"Apa seseorang bisa hidup tanpa satu pun harapan yang hidup dalam dadanya?" Sejujurnya itu adalah sesuatu yang sedang kutanyakan kepada diriku sendiri. Dan baru-baru ini, aku menemukan pertanyaan serupa dari seseorang yang tidak kukenal di tumblr. Kupikir, mungkin ia sedang mencoba melepas sedikit saja sesak di hatinya dengan melayangkan pertanyaan teoritis seperti itu. Aku hanya tersenyum sembari menjawab, bisa .  ... Setiap orang memiliki kegelisahannya masing-masing. Keresahan yang entah harus ia bagi kepada siapa-hingga ia memilih untuk mencari jalan asing yang mungkin akan membuatnya tersesat dalam ke-legaan atau kegamangan yang sulit diutarakan. Ia sedang melakukannya. Aku sangat memahami pertanyaannya sebab aku sedang berada di posisinya. Menemukan seseorang dengan keadaan yang hampir sama adalah sesuatu yang istimewa. Seperti yang saat ini sedang berlangsung. Aku mulai mengenal ia dengan seluruh luka yang berusaha ia tutupi dengan beribu huruf ataupun kalimat pel...

Maafkan

Image
Maafkan, jika kata-kataku pernah melukaimu. Maafkan, jika sikapku membuatmu tak nyaman. Maafkan, jika aku menjadi penulis kecewamu. Maafkan, jika hadirku adalah ke-enggananmu. Maafkan, jika tawaku adalah kesedihanmu. Maafkan, jika sapaku pernah mengusikmu. Maafkan, jika aku bagian dari ketidakbahagiaanmu. Untuk seluruh kesalahan yang tidak kusengaja atau pun kusengaja, aku meminta maaf. Sungguh, aku tak pernah ingin melukai siapa pun. Menjadi pihak yang disakiti selalu lebih baik untukku. Setidaknya, aku nyaman menikmati luka-dibanding seseorang yang kulukai-lalu tak mampu menyembuhkan dirinya. Aku hanya takut, sebab hati manusia siapa yang tahu? Aku tak tahu siapa yang tulus dan siapa yang hanya pura-pura. Setiap orang menyimpan kesedihan, juga kekecewaan dengan caranya masing-masing. Dan yang paling menyedihkan adalah ia yang diam, dalam-dalam meresapi perihnya tanpa seseorang pun yang tahu. Kurasa bukan hanya aku saja yang memilih terlihat baik-baik saja saat kea...

Life Goals dan Distraksinya

Image
Belakangan saya merasa berada di fase lumayan insecure dengan begitu banyak pikiran-pikiran  random yang menyesaki kepala. Saat kuliah semester tujuh barusaja dimulai dan bayang-bayang KKP (Kuliah Kerja Profesi) masih penuh tanda tanya sebab fakultas belum memberi kepastian atau pun pengumuman resminya sementara itu, teman-teman di jurusan yang berbeda sudah mulai mengajukan judul.  Rasanya langkah saya ketinggalan padahal kami memulai kuliah di tahun yang sama. Tidak dinafikkan jika rasa was-was mulai menyergap dan saya hanya bisa berusaha mengabaikannya dengan berpositif thinking bahwa semua butuh proses-pelan-pelan saja asal tidak jalan di tempat. Begitulah saya berusaha mendoktrin diri agar segala kekhawatiran bisa mereda atau hilang ditelan keyakinan baik. Life goals atau tujuan/capaian yang ingin diraih dalam hidup tak lepas dari umur juga beban tanggungjawab, baik sebagai anak seperti yang dicita-citakan orang tua, sebagai mahasiswa yang baik, atau pun sel...

Bayang-Bayang Masa Depan

Image
Di catatan yang lalu aku pernah menuliskan jika ternyata usia seperti jebakan waktu berupa sekumpulan dilema yang tak kunjung usai seiring berkurangnya jatah umur manusia. Aku sering mengatakan jika inilah fase  quarter life crisis  yang terlalu dini. Di umur yang baru saja beranjak dari 20 aku merasakan banyak perubahan drastis, baik urusan yang mungkin terlihat receh hingga yang betul-betul serius.  Pertama;  Perkara amalan atau ibadah dan hal-hal yang menyangkut masa depan nanti selepas kehidupan di dunia tentunya. Entah tepatnya sejak kapan, aku slalu disesaki dengan banyak pertanyaan seputar kematian.  Gimana kalo esok waktu kematianku? Apa kabar amal-ibadahku-sudah cukup kah tuk membeli tiket surga? Hingga yang membuatku nyaris frustasi  “katanya kamu mau khusnul khatimah (sebaik-baik akhir) tapi kok malah malas-malasan-masih sering lalai-bagimana jika di detik kesia-siaan itu malaikat maut malah datang menjemput? Doa harus berkolerasi den...

Masih Mahasiswa Baru

Image
Sudah pukul 2:55. Saya berusaha menggali beberapa kisah di awal kuliah. Berawal dari membaca kicauan twitter di tahun 2014, saya lalu tertawa mengingat betapa semester pertama, kedua dan ketiga adalah periode ter-labil yang pernah saya lalui. Sebuah foto yang sempat saya posting menjadi gerbang kenangan yang kemudian membuat saya menulis ini.  Tanggal 23 September 2014 adalah hari yang tak terlupakan. Selasa pagi dengan semangat yang meletup-letup, saya menginjakkan kaki di fakultas FISIP, sembari mencari kelas pertama sekaligus kuliah perdana sebagai anak sospol. Sebenarnya kuliah pertama hari senin tanggal 22, tapi lagi-lagi karena kuper saya yang terlalu akhirnya saya ketinggalan info. Finally, hari itu terlalu berkesan hingga rasanya mustahil tuk hilang di tumpukan kenangan yang kian hari semakin sesak dengan cerita-cerita baru. Matahari pagi bulan september menjadi latar penuh kehangatan untuk sebuah awal yang penuh dengan perasaan-perasaan anomali. Ada haru juga ketakutan...